|
Nur dalam bahasa Arab adalah cahaya yang merupakan salah satu unsur kehidupan di samping tanah, air dan udara. Tetapi yang dimaksud di sini adalah singkatan dari Niat-Usaha dan Ridha Allah yang juga menjadi suatu piranti dalam mencapai keberhasilan perjalanan hidup manusia.
Niat
Niat dapat dianggap sebagai starting point dalam melakukan suatu usaha. Tanpa niat maka kita tidak akan pernah mau untuk berbuat. Sebaliknya dengan niat yang bulat maka kita dapat mengambil keputusan, untuk mengatakan Ya atau Tidak. Secara umum niat merupakan ketetapan hati untuk melaksanakan ketaatan baik karena pengharapan maupun ketakutan. Dengan niat yang kuat dan tidak terpedaya dari pengaruh manapun, maka diharapkan seluruh potensi yang ada akan termotivasi dan teroptimalisasi untuk melakukannya. Karena itu tanpa niat yang jelas, segala sesuatunya tidak akan sah. Sabda Rasullulah SAW menyebutkan Innama akmalu bi niat, Semua amal (usaha) tergantung pada niatnya dan setiap orang pula akan mendapat balasan sesuai dengan niatnya semula (HR. Bukhari & Muslim). Di sini dapat kita saksikan betapa besarnya peran niat dalam mewarnai suatu keberhasilan tadi. Dengan begitu, jika salah meletakkan niat maka hasil yang diperoleh juga tidak akan memberikan yang terbaik.
Lantas kita juga mempertanyakan mengapa niat tersebut berada di dalam hati, mengapa pula tidak pada organ tubuh lainnya. Jawabnya karena hati dapat mengkordinir secara prerogatif derap aktivitas organ lainnya. Di dalam hatilah terjadi sentral metabolisme yang mengatur seluruh tatanan kehidupan di dalam tubuh. Oleh karena itu hati dapat menjadikan sikap istiqomah dan kesesatan diri serta daripadanya pula niat akan termotivasi atau mengalami penyusutan. Berkenan dengan hal ini maka Rasul SAW bersabda; Ketahuilah di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh.
Firman Allah di dalam QS.Al- Hajj: 52-54 menegaskan bahwa, Allah membagi hati manusia atas 3 kategori yakni; Pertama: Hati yang selamat yaitu hati yang senantiasa menerima dan mencintai akan kebenaran. Kedua: hati yang keras, yaitu hati yang tidak menerima dan taat pada kebenaran. Ketiga, hati yang sakit yang tergantung kepada kondisi yang berlaku. Jadi pelaksanaan niat akan sangat tergantung kepada keadaan dan tipe hati yang ada tadi. Di samping itu, ketetapan hati dalam melaksanakan niat juga harus diikuti dengan sikap keikhlasan, sebagai bentuk terbebasnya niat dari berbagai bentuk kesyirikan yang ada seperti sikap sombong dan riya.
Usaha
Usaha dapat dianggap sebagai perwujudan dari tindakan yang bertitik tolak dari niat yang baik. Pelaksanaan usaha ini mencakupi pengelolaan serta pertahanan secara koperatif sehingga harapan untuk meraih hasil maksimum dapat tercapai. Upaya yang dilakukan secara perseorangan tentulah mustahil tanpa pola kerjasama dari beberapa pihak tadi. Namun dalam pelaksaan kerjasama ini sangat diperlukan suatu landasan kerja yang harus dipatuhi bersama. Ke-4 koridor tersebut akan menjadi kekuatan pokok yakni, kebenaran, kejujuran, keterbukaan serta kepakaran.
Kekuatan moral dari suatu usaha tadi tentulah terdapat pada sosok pemimpin dan anggota (elemen) yang terhimpun didalamnya. Untuk itu seorang pemimpin hendaklah bersifat adil dan tidak menzalimi bawahannya. Sebaliknya para anggota (bawahan) tidak pula merongrong kewibawaan pemimpin sehingga dapat merugikan usaha yang tengah dijalankan. Dan secara keseluruhan setiap komponen itu juga tidak bersifat un-productive binding dalam usaha yang tengah dijalankan.
Hal yang sangat perlu dikuasai adalah pengetahuan yang cukup dalam menjalankan usaha tadi. Pengambilan sikap baik ucapan atau tindakan yang tanpa didasari pengetahuan tentang hal itu adalah sesuatu yang dilarang sebagaimana diungkapkan dalam QS 17:36. Ini membuktikan bahwa, usaha sedikit yang dibarengi ilmu pengetahuan adalah lebih baik dari pada usaha yang banyak tetapi penuh kebodohan, sehingga pengetahuan di sini menjadi sandaran mutlak untuk menggapai kesuksesan.
Terahir, hendaklah dipahami bahwa dalam menentukan keberhasilan ada Ridho Allah. Firman Allah QS. An-Nur: 14 yang artinya, Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. Keridhoan Allah tentu tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir melalui falsafah seorang hamba yaitu kita dengar dan kami patuhi (Sammi'na wa atakhnaa) serta diikuti keridhoan orang tua. Bagian Kimia, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI |