Jurnal YARSI
Hubungan Pajanan Debu Terigu Terhadap Kualitas Hidup Penderita Rinitis Akibat Kerja

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:49

Hubungan Pajanan Debu Terigu Terhadap Kualitas Hidup Penderita Rinitis Akibat Kerja
Correlation Between Wheat Flour Dust Exposures and the Quality of Life for Patients with Occupational Rhinitis

JURNAL KEDOKTERAN YARSI 18 (1) : 051-062 (2010)
by
Anita Carolina Manuputty, Sutji Pratiwi Rahardjo, Riskiana Djamin, Fadjar Perkasa
Department of Otolaryngology, Faculty of Medicine, HASANUDDIN UNIVERSITY, Makassar

KATA KUNCI
rinitis akibat kerja; pajanan debu terigu; kualitas hidup

KEYWORDS
occupational rhinitis; wheat flour dust exposure; quality of life

ABSTRAK
Rinitis akibat kerja dapat mempengaruhi kualitas hidup pekerja, menghilangkan banyak waktu kerja yang dapat menurunkan produktivitas namun masih sedikit informasi yang dimiliki mengenai epidemiologi pada industri terigu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama pajanan debu terigu dan kejadian rinitis akibat kerja (RAK) terhadap kualitas hidup penderita rinitis akibat kerja pada pekerja pabrik terigu X di Makassar. Penelitian ini menggunakan kajian potong lintang (cross sectional study). Penelitian dilakukan di pabrik terigu X, yakni di bagian produksi dan pengepakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama pajanan debu terigu dan kejadian rinitis akibat kerja (RAK) dengan nilai p<0.05). Akan tetapi tidak terdapat hubungan bermakna antara lama pajanan debu terigu dan penurunan kualitas hidup penderita RAK. Hubungan antara merokok dan kejadian RAK belum dapat dibuktikan, namun didapatkan bahwa merokok tanpa RAK lebih dominan dibandingkan RAK tanpa merokok dalam menyebabkan pemanjangan waktu transpor mukosiliar. Hubungan penggunaan masker dengan kualitas hidup pada kejadian RAK belum dapat dibuktikan, namun didapati bahwa pada pekerja yang tidak secara rutin menggunakan masker terkena RAK dengan risiko yang lebih tinggi dan dapat menurunkan kualitas hidupnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama pajanan debu terigu dan kejadian rinitis akibat kerja (RAK) dengan nilai p<0.05). Akan tetapi tidak terdapat hubungan bermakna antara lama pajanan debu terigu dan penurunan kualitas hidup penderita RAK.

ABSTRACT
Occupational rhinitis can decrease quality of life and productivity, but we didn’t had many informations about occupational rhinitis in flour industries. The objective of the research was to analyze the correlation between the duration of the wheat flour dust exposures towards the quality of life of the rhinitis patients as the result of occupation on the wheat flour factory workers in PT. X in Makassar. Rhinitis as the occupational effect could decrease the occupational productivity. A cross-sectional study had been done on the workers of production and packing departments in the wheat flour factory of PT. X. In the research, the significant correlation between the duration of the wheat flour dust exposures and OR occurrence is (p < 0,05), however, there is no significant correlation with the decrease of quality of life of the OR patients. The correlation between smoking and OR cannot be proved yet, however, it is obtained that smoking without OR is more dominant than OR without smoking in causing the lengthening of mucociliary transport time. The relationship between the face mask use and the quality of life on the OR occurrence cannot be proved yet, however, it is obtained that the workers who do not use the face masks routinely can increase the risk higher to be stricken by OR and decrease the quality of life. In the research, the significant correlation between the duration of the wheat flour dust exposures and OR occurrence is (p < 0,05), however, there is no significant correlation with the decrease of quality of life of the OR patients.

 
Kadar Hormon Catecholamin dan Cortisol Urin pada Perawat yang Bekerja Shift

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:45

Kadar Hormon Catecholamin dan Cortisol Urin pada Perawat yang Bekerja Shift
Levels of Urine Catecholamin and Cortisol in the Work Shift Nurses

JURNAL KEDOKTERAN YARSI 18 (1) : 038-050 (2010)
by
Ibrahim
Lecturer at Faculty of Medicine and Health Science Batam University / Camatha Sahidya Hospital

KATA KUNCI
Catecholamine; cortisol; urin; shift kerja; perawat

KEYWORDS
Catecholamine; cortisol; urine; workshift; nurse

ABSTRAK
Pola shift kerja telah berjalan di berbagai belahan dunia dengan persentase peshift kerjamalam, atau shift lebih 15-20% di Eropa, 20% di Amerika Serikat, di Asia bervariasi antara 6-32% dari total pekerja. Shift kerja, yang menurut definisi adalah: suatu cara waktu kerja dibagi dalam shift secara bergantian (rotasi) pada tempat kerja yang sama. Shift dapat terus menerus atau tidak, dengan shift kerja membuat pekerjaan pada waktu yang berbeda siang dan malam selama beberapa hari atau minggu, risiko shift kerjaselain ditentukan karena jadwal shift kerja, juga ditentukan oleh waktu kerja total. Untuk menilai pola shift kerja saat ini dalam hal mekanisme adaptasi fisiologis toleransi tubuh menggunakan indikator hormon catecholamin dan kortisol urine. Metode penelitian yang digunakan adalah Kuasi-eksperimen dengan pendekatan crossover design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola shift kerja yang dilakukan sejauh ini masih dapat ditoleransi oleh mekanisme adaptasi fisiologis tubuh pekerja yang menunjukkan bahwa ketiga pola shift kerja yang diteliti, tidak ada perbedaan tingkat hormon yang signifikan, uji yang dilakukan adalah one sampel t-test antara konsentrasi kadar hormon urine dengan nilai acuan normal dengan urutan pola shift kerja2 lebih baik dari dua pola lainnya.

ABSTRACT
Work shift patterns has been running in various parts of the world with the percentage of night shift workers, or shift more of the total workers are: 15-20% in Europe, 20% in The United States, in Asia varies between 6-32%. Shiftwork, which is by definition a way where working time is divided into alternating shift (rotation) at the same workplace, risk of shift work schedule and also determined by the total working time. To assess the current work shift patterns in terms of physiological adaptation of tolerance mechanisms of the body of catecholamin and urine hormones indicators cortisol. The research method used here is a Quasi-experiment with approaches crossing over design. The results shoured that the shift pattern of work undertaken so far can still be tolerated by the body's physiological adaptation of workers as the results indicated that all three hormone levels shift pattern of work which examined there was no significant difference on one sample t-test between concentration of urine hormone test subjects with normal reference values. By order of shift work patterns 2 better than the other two workshift patterns.

 
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Akar Anting-Anting (Acalypha indica L.) terhadap Kualitas Spermatozoa Mencit

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:42

Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Akar Anting-Anting (Acalypha indica L.) terhadap Kualitas Spermatozoa Mencit
The Effect of Anting-Anting Root Ethanol Extract on Mice Sperm Quality

JURNAL KEDOKTERAN YARSI 18 (1) : 029-037 (2010)
Cut Yasmin, Kartini Eriani, Widya Sari
Faculty of Mathematics and Natural Science, SYIAH KUALA UNIVERSITY, Banda Aceh

KATA KUNCI
Acalypha indica L.; mencit; kualitas sperma; dan sintesis hormon reproduksi

KEYWORDS
Acalypha indica L.; mice; and sperm quality; reproduction hormone synthesis

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol akar anting-anting (Acalypha indica L.) terhadap kualitas spermatozoa mencit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas empat perlakuan dengan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas pemberian ekstrak etanol akar anting-anting dengan dosis: 0 mg/kg bb (P0), 150 mg/kg bb (P1), 300 mg/kg bb (P2), dan 600 mg/kg bb (P3) yang diberikan sekali sehari selama 7 hari. Parameter kualitas spermatozoa adalah motilitas spermatozoa, keutuhan membran plasma, spermatozoa hidup, dan abnormalitas spermatozoa dari 200 spermatozoa. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol akar anting-anting berpengaruh nyata dalam meningkatkan motilitas spermatozoa, jumlah spermatozoa dengan membran plasma utuh, dan jumlah spermatozoa hidup. Pemberian ekstrak etanol akar anting-anting dengan dosis 300 mg/kg bb dan 600 mg/kg bb merupakan dosis yang dapat meningkatkan libido, sedangkan dosis untuk meningkatkan kualitas spermatozoa dosis adalah 600 mg/kg bb.

ABSTRACT
This study was aimed to examine the effect of ‘anting-anting’ (Acalypha indica L.) root ethanol extract on mice sperm quality. An experimental method with completely randomized design was applied consisted of four treatments and five duplications. The treatments were 0 mg/kg bw (P0), 150 mg/kg bw (P1), 300 mg/kg bw (P2), and 600 mg/kg bw (P3) ‘anting-anting’ root ethanol extract was given once a day for 7 consecutive days. Observed parameter included sperm quality parameter consisted of sperm motility, plasma membrane integrity of sperm, life sperm, and abnormality of sperm from 200 sperms. The data was analyzed using analysis of variance and followed by Duncan’s multiple range test. The result showed that ‘anting-anting’ root ethanol extract could increase the sperm motility, sperm plasma membrane integrity, and life sperm. The application of 300 mg/kg bw and 600 mg/kg bw ‘anting-anting’ ethanol extract was found to increase sexual arousal, while the dose of 600 mg /kg bw increased sperm quality.

 
Kadar Adiponektin pada Subyek Obes dengan Maupun Tanpa Resistensi Insulin

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:39

Kadar Adiponektin pada Subyek Obes dengan Maupun Tanpa Resistensi Insulin
The Adiponection Levels in Obese Subjects with and Without Insulin Resistance

JURNAL KEDOKTERAN YARSI 18 (1) : 021-028 (2010)
by
Hariadi Hariawan
Cardiology Division, Department of Internal Medicine, Medical Faculty Gadjah Mada University/Sardjto General Hospital Yogyakarta

KATA KUNCI
adiponektin; resistensi insulin; obes

KEYWORDS
adiponectin; insulin resistance; obese

ABSTRAK
Adiponektin adalah suatu adipositokin yang dihasilkan dari jaringan lemak. Adiponektin mempunyai peranan penting dalam regulasi dari metabolisme glukosa dan resistensi insulin. Penelitian klinis menunjukkan bahwa kadar adiponektin lebih rendah pada subyek obes, diabetes dan penderita penyakit arteri koroner. Studi ini meneliti perbedaan kadar adiponektin pada subyek obes dengan resistensi inulin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar adiponektin antara subyek obes dengan resistensi insulin dibandingkan subyek obes normal. Kadar adiponektin plasma diperiksa pada 72 subyek dengan indeks massa tubuh (IMT) >25kg/m2. Resisitensi insulin diukur dengan menggunakan formula homeostasis model assessment insulin resistance (HOMA IR) dari kadar insulin dan glukosa puasa. Kadar adiponektin plasma diukur dengan teknik ELISA. Diperiksa kadar glukosa darah, insulin dan profil lipid puasa. Hasilnya menunjukkan bahwa usia rerata adalah 46.39±6.45 tahun dengan IMT 29.83±3.57 kg/m2 dan kadar adiponektin 4.2±1.79 μg/ml. Kadar adiponektin lebih rendah bermakna pada subyek obes. Kadar adiponektin tidak berbeda bermakna antara subyek obes dengan dan tanpa resistensi insulin (P=0.41). Tidak ada perbedaan proporsi seks diantara subyek obes dengan dan tanpa resistensi insulin (p=0.374). Analisis regresi logistik menunjukkan perbedaan dalam IMT, lingkar pinggang dan kadar glukosa 2 jam setelah makan pada subyek dengan resistensi insulin. Dari penelitian ini tidak didapatkan adanya perbedaan kadar adiponektin pada subyek obes yang mengalami resistensi insulin dan yang tidak mengalami resistensi insulin.

ABSTRACT
Adiponectin is an adipocytokine exclusively expressed and secreted from adipose tissue. Adiponectin has an important role in the regulation of glucose metabolism and insulin resistancy. Clinical studies have shown that adiponectin levels are lower in individuals with obesity, diabetes and coronary artery disease. The present study investigated the difference between serum adiponectin levels in obese subjects and those with insulin resistance. The objective of this study was to find the difference of adiponectin levels between obese subjects with insulin resistance and normal obese individuals. Plasma levels of adiponectin in 72 obese subjects with body mass index (BMI) ≥ 25 kg/m2 was examined. Insulin resistance was assessed using the homeostasis model assessment insulin resistance (HOMA IR) formula derived from fasting insulin and glucose levels. ELISA technique was employed to determine the plasma adiponectin levels. We examined the fasting blood glucose, insulin and blood lipid profile. The result showed that the mean of age was 46.39±6.45 years old with BMI 29.83±3.57 kg/m2 and adiponectin levels 4.2±1.79 μg/ml. Adiponectin levels were significantly lower in obese. Adiponectin levels were not significantly different between obese subjects with and without insulin resistance (p=0.41). There was no difference in sex proportion between obese subjects with and without insulin resistance (p=0.374). Logistic regression analysis revealed that BMI, waist circumference and 2 hours post prandial of glucose levels were affected in insulin resistance group. It was concluded that adiponectin levels were not significantly different between obese subjects with and without insulin resistance.


 
Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2009

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:35

Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2009
Patient Satisfaction in Health Services in Tanjung Priok Sub-District Community Health Center North Jakarta 2009

JURNAL KEDOKTERAN YARSI 18 (1) : 009-020 (2010)
by
Helwiyah Umniyati
Faculty of Medicine, YARSI UNIVERSITY, Jakarta

KATA KUNCI
Pusat Kesehatan Masyarakat; Kepuasan pasien

KEYWORDS
Community Health Center; Patient satisfaction

ABSTRAK
Pelayanan kesehatan yang bermutu dari Puskesmas dapat diukur salah satunya dengan mengetahui kepuasan pasien terhadap layanan. Bagi Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok kepuasan pasien merupakan hal yang sangat penting, mengingat visi Puskesmas ini adalah menjadikan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok sebagai unit pelayan kesehatan prima, merata dan terjangkau oleh masyarakat demi mendukung pencapaian derajat kesehatan yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kinerja pelayanan kesehatan terhadap masyarakat khususnya di balai pengobatan dengan mengukur tingkat kepuasaan pasien. Penelitian ini merupakan penelitian survei, untuk melihat gambaran kepuasan pasien di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok yang dilaksanakan pada Mei – Juli 2009. Populasi pada penelitian adalah pasien rawat jalan di Balai pengobatan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara. Tingkat kepuasan pasien diukur berdasarkan metode servqual dan diagram kartesius dengan melakukan wawancara pada 63 pasien di balai pengobatan umum. Masing-masing pernyataan diberi skor dengan menggunakan skala likert 1-5. Pada penelitian ini dihasilkan sebagian besar responden merasa puas terhadap pelayanan tenaga kesehatan di balai pengobatan umum Puskesmas Tanjung Priok (71,4%). Dimensi bukti fisik (tangible) memiliki persentasi kepuasan yang tertinggi sebesar 84,12% sedangkan persentase kepuasan terendah yaitu pada dimensi jaminan (assurance) sebesar 65,07%. Kepuasan pasien terhadap pelayanan dokter lebih tinggi dari pada kepuasaan terhadap perawat 76,19% vs 65,07%. Puskesmas Tanjung Priok perlu mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang sudah ada. Beberapa hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan untuk lebih ditingkatkan misalnya saja kehadiran petugas yang tepat waktu, mempunyai waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan pasien, menanggapi keluhan dengan baik, serta memberikan informasi dengan jelas.

ABSTRACT
Health care Quality of community health center can be measured by knowing the patient satisfaction of services. In Tanjung Priok Subdistrict community health center, patient satisfaction is very important. It is parallel with the health center's vision i.e. to make Tanjung Priok Subdistrict Health Center as primary health care units, equitable and affordable by the community to support the achievement of optimal health status. The purpose of this study was to determine the performance of community health services in patient’s satisfactions. Using a survey research method, the picture of patient satisfaction in Tanjung Priok subdistrict health centers was captured in 63 patients during May-July 2009. Levels of patient satisfaction was measured based on servqual method and cartesian diagram. The results of this study showed that the majority of respondents were satisfied with the service of the health workers (71.4%). Dimension of physical evidence (tangible) contributed to the highest percentage of satisfaction (84.12%), while the lowest percentage of satisfaction was on the dimensions of assurance (65.07%). Patient satisfaction to physician services was higher than the satisfaction to nurses (76.19%vs. 65.07%). Tanjung Priok Subdistrict Health Center needs to maintain and improve the existing performance. Some things that need to be taken into consideration for further improvement are on time attendant or presence in the clinic, having enough time to communicate with patients, responding to complaints properly, and giving information clearly.


 
Primordial Follicles Development of Immature Mice Ovary after FSH and Ovary Cutting Treatments

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:28

Primordial Follicles Development of Immature Mice Ovary after FSH and Ovary Cutting Treatments
JURNAL KEDOKTERAN YARSI 18 (1) : 001-008 (2010)
by
Ita Djuwita, Fatmawati, Kusdiantoro Mohamad, Mohamad Fakhrudin, Adi Winarto
Laboratory of Embryology, Department of Anatomy, Physiology and Pharmacology, Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

KEYWORDS
ovary; primordial follicles; in vitro culture; development

ABSTRACT
The aims of the study were to investigate the influence of FSH and the ovary cutting treatments on the development of primordial follicles into preantral and antral follicles. Ovaries were grouped as whole ovary (without cutting); partially cut ovary and completely cut ovary (hemi ovary). All ovary groups were cultured in Dubellco’s Modified Eagle Medium (DMEM) containing 5µg/ml insulin, 10µg/ml transferrin, 5µg/ml selenium (ITS), 5% FBS, 50 µg/ml gentamycin with and without 100 µIU/ml Follicle Stimulating Hormone (FSH). Cultures were done in 5% CO2 incubator at 37oC. Results showed that after 8 days in vitro cultured in DMEM containing FSH, the average number of preantral follicles isolated from each whole, partially-cut and completely-cut ovaries were 16.1 + 3.3, 26.8 ± 7.7 and 12.3 + 1.9, respectively. On the other hand, those cultured in DMEM without FSH they were 17.3 + 3.8, 23.3 ± 5.2 and 17.8 + 2.8, respectively. After additional cultured for 8 days, the percentage of preantral follicles developing into the antral follicles in DMEM with and without FSH were 26.7 + 5.7 and 11.7 + 2.9, respectively. In conclusion, the supplementation of FSH in the culture medium did not increase the number of preantral follicles, but significantly increased the number of antral follicles. The ovary cutting treatment significantly increased the average number of collected preantral follicles.



 
Fauna Anopheles di Desa Buayan dan Ayah di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:25

Fauna Anopheles di Desa Buayan dan Ayah di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah
The Anopheles Fauna in Buayan and Ayah Villages of Kebumen District, Central Java

JURNAL KEDOKTERAN YARSI 17 (3) : 218-234 (2009)
by
Hasan Boesri dan Tri Suwaryono
Vector and Reservoir Disease Research and Development Institute (VRDRDI), Salatiga

KATA KUNCI
Species Anopheles; vektor malaria; habitat; Jawa Tengah

KEYWORDS
Anopheles species; malariae vector; habitat; Central Java

ABSTRAK
Telah dilakukan pengamatan vektor malaria dengan hasil sebagai berikut: di Buayan, jenis nyamuk Anopheles yang ditemukan adalah An. aconitus, An. annularis, An. barbirostris, An. kochi, An. sundaicus, An. subpictus, An. tesselatus dan An. vagus. Berdasarkan hasil pembedahan ovarium ditunjukkan bahwa nyamuk yang diduga mampu menjadi vektor malaria di Buayan adalah Anopheles aconitus dan An. Vagus. Di Ayah, jenis nyamuk Anopheles yang ditemukan adalah An. aconitus, An. barbirostris, An. kochi, An. sundaicus, An.subpictus, An. Tesselatus, An. Vagus dan Anopheles yang mampu menjadi vektor sesuai hasil pembedahan ovarium adalah Anopheles sundaicus dan Anopheles vagus. Habitat nyamuk Anopheles vagus ditemukan pada sawah dan parit, sedangkan Anopheles sundaicus adalah lagun dan parit-parit yang dekat pantai.

ABSTRACT
Some Anopheles species were found in Buayan village, i.e. An. aconitus, An. an annularis, An. barbirostris, An. kochi, An. sundaicus, An. subpictus, An. tesselatus and An. vagus. The result of ovaries surgery in Buayan village showed that An. aconitus, and An. vagus were suspiciously to be malaria vector. Furthermore, An. aconitus, An. barbirostris, An. kochi, An. sundaicus, An. subpictus, An. tesselatus and An. vagus were also found in Ayah village. As a result of ovaries surgery An. sundaicus and An. vagus were suspiciously to be malaria vector in this area. An. vagus habitats were found in the rice field and some gutters, whereas An. sundaicus were found in the lagoon and surrounding gutters near the beach.

 
Perbandingan Efektivitas Beberapa Pelarut terhadap Kelarutan Cerumen Obturans secara In Vitro

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:20

Perbandingan Efektivitas Beberapa Pelarut terhadap Kelarutan Cerumen Obturans secara In Vitro
The Comparison of Various Solution Effectivity on the Dilution of Cerumen Obturans In Vitro

JURNAL KEDOKTERAN YARSI 17 (3) : 212-217 (2009)
by
Syahrijuita1, Sutji Pratiwi Rahardjo2, Nani I. Djufri2, Riskiana Djamin2
1Department of Biochemistry, Faculty of Medicine Hasanuddin University, Makassar
2Department of Otorhinolaryngology, Faculty of Medicine Hasanuddin University, Makassar

KATA KUNCI
efektivitas; pelarut; cerumen obturans; in vitro

KEYWORDS
effectivity; solvents; cerumen obturans; in vitro

ABSTRAK
Cerumen obturans merupakan suatu keadaan patologis yang tidak membahayakan jiwa tetapi dapat mengakibatkan perasaan tidak nyaman seperti rasa penuh di telinga, nyeri, gangguan pendengaran dan ketulian serta penurunan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas enam pelarut yaitu aquadest, larutan garam NaCl 0,9%, minyak kelapa, minyak zaitun, karbogliserin 10% dan sodium dokusat 0,5% terhadap cerumen obturans secara in vitro serta untuk mengetahui lama waktu kontak yang paling efektif suatu pelarut terhadap kelarutan serumen.
Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan menggunakan 30 spesimen cerumen obturans yang telah dipadatkan dengan berat masing-masing 40 mg. Tingkat kelarutan serumen diukur dengan menggunakan spektrofotometer Spectronic 21. Perbandingan efektifitas pelarut diuji dengan menggunakan uji One Way Anova dengan alfa < 0,05.
Didapatkan hasil bahwa efektivitas pelarut yang berbeda bermakna didapatkan pada menit ke 20, 25 dan 30 hanya antara aquadest dan NaCl 0,9% terhadap minyak kelapa dan minyak zaitun menggunakan spektrofotometer.Waktu kontak yang efektif secara in vitro adalah ≥ 20 menit dan cenderung meningkat sampai batas 30 menit. Pada menit ke 20 dan 25, NaCl 0,9% merupakan pelarut yang paling efektif sedang pada menit ke 30 yang paling efektif adalah aquadest. Minyak zaitun dan minyak kelapa merupakan pelarut yang efektivitasnya paling rendah. Pelarut berbasis air lebih efektif dibanding pelarut berbasis lemak.

ABSTRACT
Cerumenobturans is a pathologic condition, yet harmless. Nevertheless, it can still stimulate uncomfortable sensastion such as ear numbness, earache, hearing impairment, deafness and decreasing the quality of life. The aimof the study was to compare the effectivity of six solvents, i.e. aquadest, 0,9% saline, coconut oil, olive oil, 10% carboglycerin and 0,5%, sodium docusate against cerumen obturans by means of in vitro study and to examine the most effective duration contact of a solvent to cerumen osmolarity.
The study was a laboratory experiment by using 30 specimen of solid cerumen
with average weight of 40 mg. The cerumen osmolarity was measured by Spectronic 21 spectrophotometer. Variation of solvents’ effectivity was tested employing One Way Anova with alfa< 0,05. Significantdifferencein solvent effectivity was observed especially in 20th, 25th and 30th minutes. The spectrophotometer that used to established the osmolarity of cerumen have revelead a significant results only in aquadest and 0,9% saline againts coconut oil and olive oil. The effective duration of contact by in vitro study is ≥ 20 minutes and tends to increase to 30 minutes. In 20th and 25th minutes, 0,9% saline is the most effective solvent, while aquadest is the most effective in 30th minutes. Olive oil and coconut oil were less effective solvents, whereaswater-based solvents were more effective than lipid-based solvents.

 
Efektifitas Larutan Cuci Hidung Air Laut Steril pada Penderita Rinosinusitis Kronis Berdasarkan Patensi Hidung dan Kualitas Hidup

PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 24 September 2012 14:16

Efektifitas Larutan Cuci Hidung Air Laut Steril pada Penderita Rinosinusitis Kronis Berdasarkan Patensi Hidung dan Kualitas Hidup
The Effectiveness of Sterile Seawater for Nose Rinsing Solution on Chronic Rhinosinusitis Patient Based on Nasal Patency and Quality of Life

KEDOKTERAN YARSI 17 (3) : 204-211 (2009)
by
Abdul Qadar Punagi, Ade Rahmy Sujuthi
Department of Otorhinolaryngology, Faculty of Medicine Hasanuddin University, Makassar

KATA KUNCI
larutan cuci hidung; rinosinusitis kronis; patensi hidung; NIPF; SNOT-20

KEYWORDS
nasal rinse; chronic rhinosinusitis; nasal patency; NIPF; SNOT-20

ABSTRAK
Penatalaksanaan standar rinosinutis kronis pada orang dewasa saat ini yang direkomendasikan oleh kelompok Studi Rinologi PERHATI-KL meliputi pemberian antibiotika, dekongestan oral, kortikosteroid dan mukolitik disertai terapi tambahan irigasi hidung. Penilaian patensi hidung dan kualitas hidup penderita dapat dijadikan acuan penilaian efektifitas terapi rinosinusitis. Sampai saat ini belum ada laporan hasil penelitian yang konsisten tentang prioritas pilihan cairan cuci hidung yang digunakan. Penelitian yang berkaitan dengan efektifitas hasil terapi cuci hidung larutan air laut steril sebagai terapi tambahan pada terapi standar rinusinusitis kronis perlu dilakukan.
Telah dilakukan penelitian uji klinis terbuka (open trial) menggunakan terapi standard atau terapi standard disertai larutan cuci hidung air laut steril pada penderita rinosinusitis kronis yang berobat di poliklinik THT RS Wahidin Sudirohusodo Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna nilai NIPF sebelum dan setelah intervensi antara kelompok air laut steril (P<0,05) dengan kelompok terapi standar (P>0,05) juga terdapat perbaikan nilai SNOT-20 secara bermakna (P<0,05) pada kelompok air laut steril setelah intervensi. Kemaknaan klinik pada penelitian ini adalah pemberian larutan cuci hidung air laut steril sebagai terapi tambahan akan memperbaiki patensi hidung dan kualitas hidup penderita rinitis kronis dibandingkan dengan hanya terapi standar saja.

ABSTRACT
The current standard management for chronic rhinosinusitis recommended by study group for rhinology, Indonesian ENT Association, includes antibiotics, oral decongestans, corticosteroids and mucolitics with adjunctive nasal irrigation. The nasal patency evaluation and quality of life maybe used as a tool to evaluate the effectiveness of rhinosinusitis therapy. To date, there were no consistent study reports regarding the priority choice of nasal rinse solution to use. Therefore, study to evaluate the effectiveness of sterile Seawater for nasal rinse as an adjuvant therapy for chronic rhinosinusitis is needed. An open labeled clinical trial with either standard therapy alone or standard therapy plus sterile sea water, was performed in chronic rhinosinusitis patients who came to ENT outpatients Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar. The results revealed a significant difference in Nasal Inspiratory Peak Flow Meter values following intervention with sterile seawater (P<0,05) and the standard therapy according Indonesian Rhinology Study Group (P>0,05). Iimprovement of SNOT-20 value was also observed in subjects given sterile seawater (P<0.05). The findings provided the first evidence that the use of sterile seawater for nasal rinse or adjunct therapy could improve the nasal patency and quality of life in chronic rhinosinusitis patients.

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL