Mengupas Pesan dari Jari jemari

PDF Cetak E-mail
Oleh DR. Restu Syamsul Hadi, M.Kes.*   
Kamis, 02 Juli 2009 12:27
Aktivitas keseharian manusia tidak bisa dipisahkan dari tangan beserta jari jemarinya. Hasil karya yang begitu banyak dan terukir dalam sejarah merupakan buah kerjanya. Sejak manusia zaman purba hingga era ultramodern ini jari jemari menempati peran yang semakin vital. Aktivitas manusia modern hampir tidak bisa lepas dengan perangkat komputer, laptop dan handphone yang semuanya membutuhkan jari jemari. Dengan jari jemari pula kita dapat membuka pintu, menggenggam barang, menulis buku, mengirim pesan singkat bahkan untuk sekedar menyentil telinga dan mengorek lubang hidung. Aktivitas jari jemari tergantung perintah pemiliknya. Hanya dengan sedikit kerja dari jari telunjuk menarik pelatuk pistol maka nyawa manusia lain akan melayang. Beberapa kali ketukan keyboard saja seorang koruptor dapat meraup keuntungan dengan manipulasi angka. Sekali tekan tombol remote maka gedung bertingkat beserta isinya akan hancur dalam sekejap. Pekerjaan berat dan sulit akan menjadi mudah bila dilakukan jari jemari secara  bersamaan meski mereka berbeda. Ada yang namanya ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking. Bagaimana kalau semua bentuk jari jemari kita sama? Tentu akan kesulitan untuk dapat melakukan tugasnya seperti sekarang ini. Melalui perbedan itulah jari jemari dapat menyelesaikan aneka tugas dengan sempurna.  

Perbedaan yang ada diantara jari jemari rupanya justru menghasilkan sinergi, yang dengannya terlahir banyak maha karya manusia. Demikian halnya perbedaan yang ada diantara sekelompok manusia apabila dapat dikelola dengan benar maka akan banyak pula prestasi yang dapat diraih secara bersama. Pada kesempatan renungan kali ini mari kita mencoba mengungkap pesan tersembunyi jari jemari kita. 

1. Jari telunjuk.
Jari yang satu ini paling sering digunakan untuk menunjukkan arah ketika ada orang bertanya tentang suatu tempat atau tujuan kemana harus menuju. Ini mengingatkan bahwa hidup kita harus jelas tujuannya dan jangan sekali-kali melangkah tanpa tujuan. Setiap perbuatan yang kita lakukan mestinya kita pertanyakan apa tujuannya. Mulai dari kita berangkat dari rumah ke kantor hingga sekedar berkirim pesan singkatpun kita bisa mempertanyakan apa tujuannya. Bagi seorang muslim kita telah diajari untuk memahami tujuan hidup yang hakiki secara lebih dalam. Allah telah menunjukkan bahwa tujuan hidup kita ini adalah untuk beribadah kepadaNya. "...dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu" (QS; 51:56) dan semata-mata mencari ridloNya. "Allah ridlo kepada mereka dan mereka ridlo terhadapNya itulah keberuntungan yang paling besar" (QS.5 :119). Memahami makna tujuan hidup dengan gamblang sangat diperlukan agar kita tidak tersesat dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Ibarat kompas bagi nahkoda yang dengannya ia dapat mencapai tujuan akhir yaitu pelabuhan tanpa tersesat. Bagi seorang mukmin itulah akhir tujuan dari segala aktivitas hidupnya di dunia ini dan untuk hidup selanjutnya yang lebih abadi. Keberhasilan kita untuk meraihnya tergantung hari ini. Saat hidup di dunia ini kita sering menemukan banyak pilihan dan kita bebas menentukannya. Setelah seseorang menentukan pilihannya maka ia tidak bebas lagi karena ada konsekuensi dari pilihan tersebut yang harus ia pertanggungjawabkan. Oleh karena itu salah dalam menentukan tujuan maka akan salah pula kemana kaki menapak.

2. Ibu Jari
Jari yang paling besar dan pendek ini sering diarahkan untuk memberikan penghargaan bagi orang-orang yang berprestasi. Sebuah ungkapan untuk mengapresiasi akan hasil kerja keras orang lain yang istimewa. Bahkan sering dijadikan merek dagang untuk menunjukkan produknya memiliki kualitas yang tinggi. Makna yang terkandung sesungguhnya menghantarkan kita untuk menjadi pribadi unggul yang penuh percaya diri, sukses, excellent dan menjadi manusia terbaik. Sebagai seorang muslim kita perlu menyimak firman Allah swt : "Engkau adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan kepada manusia, mengajak kepada kebaikan dan mencegah keungkaran..."(QS. 3 : 110). Lebih dari itu bila kita mengaku beriman kepada Allah maka dilarang untuk minder, inferior dan bersedih (secara berlarut-larut). "janganlah kamu inferior, jangan pula kamu bersedih, padahal kamu adalah orang yang paling  tinggi derajadnya apabila kamu beriman "(QS: 3:139). Dengan demikian sebelum ibu jari kita berikan kepada orang lain maka berikan dulu kepada anda sendiri. Yakinkan pada anda sendiri bahwa anda adalah manusia yang terbaik, manusia hebat dan merupakan pribadi yang super. Katakanlah hal tersebut kepada diri anda sendiri, jangan kepada orang lain agar kepercayaan diri anda selalu tumbuh namun tidak menjadi sombong karena anda juga siap memberikan ibu jari anda untuk mengapresiasi buah pikir dan karya orang lain.

3. Jari manis
Pada jari yang satu ini sering berhiaskan cincin sehingga orang Inggris menyebutnya "ring finger". Ada budaya di sebagian masyarakat kita apabila ada sepasang kekasih yang bersepakat untuk saling setia maka dilanjutkan acara pertunangan maupun perkawinan. Pada acara tersebut sering ditandai dengan prosesi pemakaian cincin pada jari manis. Jari manis merupakan simbol kesetiaan. Kesetiaan atau loyalitas sangat penting artinya dalam menjaga kebersamaan dan keharmonisan hubungan interpersonal. Manusia hidup tidak terlepas dari aturan yang melingkupinya untuk kemudian terikat di dalamnya. Bagi seorang pegawai loyalitas dapat ditunjukkan dengan taat terhadap aturan yang berlaku di kantornya. Seorang pelajar harus loyal kepada aturan di sekolahnya, mahasiswa harus taat dengan aturan di kampusnya. Seorang muslim harus loyal dengan aturan yang telah diturunkan dan diajarkan RasulNya dimana dan kapan saja ia berada. Loyalitas yang paling tinggi adalah loyal terhadap prinsip hidup yang telah digariskan oleh Sang Maha Hidup, Allah swt. Loyalitas yang kuat ini bagi seorang mukmin menjadikan hidupnya tidak hanyut dan larut dalam arus kehidupan. Ia memiliki pegangan yang kokoh untuk bertumpu sehingga akan selamat dalam mengarungi kehidupan. Prinsip seorang mukmin sekali mengatakan Tuhanku Allah maka ia akan setia dan menjaga kemurniaanya. "sesungguhnya orang yang mengatakan tuhan kami Allah kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati" (QS.46 : 13).

4. Jari kelingking
"Damai, saya maafkan kamu dan kamu juga maafkan aku. Sekarang aku tahu dan maklumi kenapa engkau begitu. Akupun bisa merasakan apa perasaanmu, dan akupun mampu memikirkan apa yang menjadi pikiranmu". Mungkin itu yang ada dalam benak dua orang anak kecil ketika mereka berbaikan kembali setelah berseteru. Mereka akur kembali setelah saling mempertautkan jari kelingkingnya. Jari yang satu ini paling kecil dan tidak sekuat jari lainnya. Ada pesan secara simbolik yang penting dari jari kelingking yaitu empati. Dengan empati ini seseorang menjadi berhati-hati untuk bertutur kata dan berbuat. Ia selalu mempertanyakan bagaimana seandainya orang itu adalah saya. Orang menjadi tidak mudah memaki orang lain, menghalangi prestasi dan hak orang lain karena iapun tidak menyukainya. Manusia yang punya empati sangat berhati-hati meski sekedar untuk berkirim pesan singkat. Ia akan berulang-ulang membaca pesan singkat yang ia tulis sebelum ia kirimkan kepada orang lain. Ia akan bertanya kepada dirinya apakah pesannya akan membuat orang lain senang atau berang, menjadikan orang lain suka atau malah berduka, akan membangkitkan atau menyakitkan, membuat orang lain menjadi baik atau buruk dan sebagainya. Dalam banyak buku-buku sirah nabawiyah, Rasulullah telah mengajari kita bagaimana cara untuk berempati kepada orang lain. Bahkan Allah telah mendokumentasi dalam firmanNya "sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaumu sendiri, berat.terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, sangat kasih sayang kepada orang-orang yang beriman."(QS:9:128). Sebagai seorang mukmin tentunya kita harus mencontoh teladan kita dan pastilah akan berbuah kebaikan dan turunnya rahmat Allah kepada kita.

5. Jari tengah
Posisi jari yang satu ini berada di tengah di antara jari jemari lainnya. Setiap gerakan jari lainnya ia menjadi penyeimbang gerak dan harmonisasi diantara mereka. Keterlibatan jari tengah dalam menggenggam misalnya, akan memperkokoh kepalan sebuah tangan. Jari tengah merupakan simbol dari kerjasama dan sinergi. Sebuah sinergi yang kuat berawal dari pemahaman akan tujuan yang hendak diraih. Kalau tujuannya adalah tujuan secara komunal maka tiap anggota di dalam sistem tersebut harus paham akan tujuan yang hendak diraih secara jelas. Selanjutnya untuk bersinergi setiap anggota sistem harus tahu potensi dirinya masing-masing dan siap memberikan daya upayanya secara maksimal. Setiap anggota harus mentaati aturan yang telah ditetapkan dan  harus dapat memahami diantara mereka. Perintah Allah untuk hal ini "... dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran..." (QS.5: 2).

Betapa indahnya pesan jari jemari kita, apabila kampus YARSI tercinta ini memiliki anggota sivitas akademika yang punya kompetensi tinggi, punya loyalitas  dan empati maka akan terlahir sebuah sinergi besar untuk secara bersama-sama mewujudkan universitas YARSI sebagai lembaga pendidikan tinggi yang terpandang dan berkualitas serta mampu menjadi pusat IPTEK dan budaya Islam.


* Dosen sub bagian Biologi Kedokteran FK-YARSI Jakarta