Pengantar Pasar Modal Syariah (1): Transaksi Terlarang

PDF Cetak E-mail
Oleh DR. Perdana Wahyu Santosa   
Kamis, 18 Maret 2010 14:16

pinsilSecara umum, prinsip operasional pasar modal konvensional dan syariah     ada  beberapa perbedaan yang mendasar namun sebagian besar relatif sama. Perbedaan transaksional lebih disebabkan oleh perilaku keuangan (financial behavior) dari pelaku pasar itu sendiri terutama kerkait  produk investasi syariah islam. Kedua jenis pasar modal tersebut pada dasarnya sama-sama  “melarang” perdagangan saham, obligasi/sukuk, dan instrumen derivatif berdasarkan  spekulasi semata. Sebaliknya, pasar modal konvensional maupun syariah menganjurkan investor untuk melakukan analisis/riset yang memadai sebelum bertransaksi di pasar modal.

Jadi prinsipnya, kita harus menekan unsur ketidakpastian (risiko) seminimal mungkin melalui instrumen investasi yang dinilai tidak bertentangan dengan syariah.  Namun dalam pelaksanaannya sangat tergantung dari itikad, motif, situasi dan pola investasi dari pelaku pasar itu sendiri.

 

Dalam kehidupan seorang muslim, beberapa aspek ajaran islam menjadi acuan penting yaitu aqidah, syariah dan akhlak (moralitas). Secara umum, aktivitas di pasar modal syariah selalu dikaitkan dengan hukum/fiqih yang berlandaskan al-Quran dan al-hadist yang mana bentuk hukum/syariahnya dipengaruhi oleh waktu dan tempat (situasi dan kondisi). Sehingga wajar jika wilayah syariah berkarakter “beda pendapat” antar satu aliran (mahzab) dengan lainnya terhadap investasi di pasar modal. Fiqih sendiri memiliki dua terminologi yaitu 1). ibadah (hubungan dengan Tuhan) dan 2). muamalah (hubungan antar manusia dan lingkungan). Terkait dengan masalah investasi di pasar modal merupakan bagian muamalah.

Berdasarkan pemahaman dasar investasi syariah, hal-hal yang perlu dihindari adalah perkara:

Penipuan (Tadlis)  

Terkait dengan hal tersebut, maka transaksi instrumen investasi di pasar modal harus terhindar dari aspek-aspek “penipuan” (tadlis) yang memanfaatkan situasi asymmetric information (ketimpangan informasi). Informasi terbuka mengenai kuantitas, kualitas, harga dan waktu (delivery) dari aset yang diperdagangkan merupakan hal yang mutlak diketahui bersama antara buyer dan seller dalam transaksi syariah. Dengan kata lain, transaksi instrumen pasar modal harus bebas dari kandungan unknown to one party. Dengan demikian, para investor/traders berkewajiban melakukan analisis (baik fundamental maupun teknikal) dan riset yang mendalam terlebih dahulu sebelum melakukan eksekusi transaksinya. Hal ini penting agar kita memahami benar kuantitas (besaran investasi), kualitas (intrinsic value), harga  (market price) dan waktu (sejak transaksi sd penyerahan saham/sukuk). Dengan demikian praktik spekulasi dalam arti melakukan transaksi tanpa memahami nilai aset yang ditransaksikan (fad trading) sebaiknya dihindari karena diharamkan. Secara umum pasar modal konvesional sudah sejak lama menerapkan analisis dan riset pasar modal secara berkala dan masif untuk menghindari dampak negatif ketimpangan informasi tersebut.

Ketidakpastian/Uncertainty (Taghrir)

pusingTransaksi di pasar modal syariah juga harus terhindar dari ketidakpastian jual  beli yang sistemik/masif (taghrir). Secara definisi, taghrir diartikan sebagai transaksi jual-beli (exchange) yang mengandung ketidakpastian bagi kedua belah pihak (uncertainty to both parties). Jadi dalam transaksi gharar, baik pembeli maupun penjual tidak mengetahui apa yang mereka transaksikan. Taghrir juga terkait dengan empat hal seperti tadlis, yaitu: 1). Kuantitas (Ijon); 2). Kualitas (fair value); 3. Harga (terdapat dua harga); 4. Waktu delivery tidak pasti (aset belum jelas/hilang/tercuri dll). Tentu saja trading system di pasar modal sudah mengamankan 3 dari 4 unsur taghrir tersebut yaitu kuantitas, harga, dan waktu penyelesaian transaksi.   Khusus untuk unsur kualitas aset memang membutuhkan teknik valuasi dan riset yang mendalam dari investor/traders agar terhindar dari unsur taghrir tersebut.

 

Manipulasi Harga Aset 

Praktek terlarang lainnya adalah memanipulasi harga aset melalui permainan permintaan -demand (bay’ Najasy) dan penawaran-supply (ihtikar). Yang dimaksud dengan manipulasi permintaan adalah suatu usaha sistematik untuk mengambil keuntungan di atas keuntungan wajar (abnormal return) melalui rekayasa permintaan (demand) agar harga “terlihat” lebih tinggi (overvalued) dari yang seharusnya (pay off). Begitu pula sebaliknya, manipulasi harga untuk menjatuhkan nilai aset tertentu di bawah harga wajarnya (undervalued) melalui rekayasa penawaran fiktif yang sistematis agar dapat berinvestasi dengan biaya yang lebih rendah dari seharusnya. Praktik semacam ini marak terjadi di pasar modal melalui aksi “goreng-menggoreng” saham sehingga harga saham cenderung mengalami mispricing akibat aktivitas trading yang overreaction dan pada umumnya memakan korban atau merugikan pihak uninformed.

Semoga bermanfaat

To be continued……