Memahami Evan Brimob

PDF Cetak E-mail
Oleh Melok R. Kinanthi, M.Psi   
Selasa, 08 Desember 2009 14:21

Memahami Evan Brimob

Tulisan ini tidak hendak membenarkan perilaku Evan, anak muda anggota Brimob yang beberapa waktu lalu melontarkan pernyataan “Polri tidak butuh masyarakat, masyarakatlah yang membutuhkan Polri“ di status facebook. Tak lama setelah menulis status arogannya, Evan kebanjiran komentar keras bernada kontra dari kalangan Netters.

Salahkah perilaku Evan?

****

Apakah perilaku seseorang dapat diprediksi?

Pertanyaan tersebut menjadi isu penting di kalangan ilmuwan psikologi selama bertahun-tahun.

Secara umum terdapat tiga pendapat mengenai bagaimana asal muasal timbulnya perilaku seseorang dalam suatu situasi tertentu.

Pertama ; timbulnya perilaku ditentukan semata-mata oleh sifat dan karakter yang telah bersemayam dalam diri individu selama bertahun-tahun.

Lantas, apakah memang sudah dari sononyakah Evan memiliki karakter arogan sehingga tak heran ia mengeluarkan pernyataan menghebohkan itu? Saya tak bisa menjawab karena memang tidak mengetahui riwayat hidupnya secara lengkap, tidak berinteraksi langsung dengannya, dan tidak melakukan asesmen psikologi terhadap ybs.

Lagipula, masih ada premis selanjutnya.

Kedua ; perilaku individu ditentukan oleh situasi spesifik yang terjadi kala itu.

Bisa jadi Evan bukan merupakan orang yang arogan, namun situasilah yang ”memaksa” dia untuk mengeluarkan pernyataan arogan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, Zimbardo (1981) menyimpulkan bahwa perilaku indvidu dikontrol oleh situasi sosial dan lingkungan.

Yang menarik, Zimbardo melakukan eksperimen dengan membuat ’penjara’ (bui) buatan. Subyek penelitian berjumlah 70 orang, berasal dari kalangan terdidik, memiliki emosi yang stabil dan matang, serta memiliki tingkat sosioekonomi menengah ke atas. Selama dua minggu mereka diminta beperan sebagai sipir penjara yang kejam dan tahanan yang tak berdaya dalam penjara buatan tersebut (pembagian peran dilakukan dengan mengundi koin).

Hasilnya? Baru berjalan seminggu, Zimbardo terpaksa menghentikan eksperimen itu karena ia kaget dan prihatin melihat situasi menyeramkan yang terjadi di sana. Ternyata, saking khusyu’nya, para subyek penelitian benar-benar menginternalisasi peran ’pura-pura’ tersebut dalam diri mereka. Mereka tidak lagi dapat membedakan antara realita dan peran ’pura-pura’ yang disandangnya. Zimbardo mengamati, terdapat perubahan yang kentara dalam perilaku, cara berpikir, dan suasana hati peserta sebelum dan sesudah mengikuti eksperimen.

Pendeknya, subyek yang berperan sebagai sipir benar-benar menampilkan perilaku kejam; sedangkan subyek yang berperan sebagai tahanan menampilkan perilaku putus asa betulan. Padahal ingat, semuanya berasal dari kalangan terdidik serta memiliki emosi stabil dan matang. Artinya, berdasarkan penelitian ini, Zimbardo percaya bahwa apapun karakter dasar manusia, pada akhirnya lingkunganlah yang menjadi penentu utama.

Kembali pada kasus Evan, katakanlah dari sononya ia memang bukan orang yang berkarakter arogan, lantas apa saja kiranya faktor situasional yang memicu ia berperilaku demikian?

Menurut hemat saya, budaya institusi (indoktrinasi right or wrong is my corp) dimana ia berada memiliki peran yang amat besar. Bayangkan, dalam usia sedemikian muda (darah muda yang masih meluap-luap kalau menurut lagu bang Rhoma), ditengah rasa bangga yang menggebu-gebu pada korpsnya (apalagi bagi sebagian orang, menjadi seorang polisi dianggap memiliki gengsi tersendiri), ia mendapati institusinya dihujat habis-habisan oleh khalayak.

Ketiga : faktor internal (karakter dan sifat) berinteraksi dengan faktor lingkungan (situasional) bersama-sama membentuk perilaku tertentu.

Bila berpedoman pada pernyataan ini, maka bisa jadi sudah dari sononya Evan memiliki sifat dasar arogan dan sensitif, kemudian ia menerima indoktrinasi kebanggaan korps; maka hujatan terhadap institusi tempatnya bekerja merupakan pemantik yang telak yang memicunya mengeluarkan pernyataan menghebohkan itu.

Jadi, menurut Anda, mana kira-kira yang mendekati tepat*?

Ps:
*Mendekati tepat : kaum statistician berpendapat di dunia ini yang ada hanyalah estimasi-estimasi, dan bukan sesuatu yang tepat mutlak.

 

(Melok R. Kinanthi, M.Psi)