Konsep Pengabdian kepada Masyarakat FK YARSI Harus Pengejawantahan Hasil Penelitian, Bukan Bakti Sosial Semata

Seharusnya konsep Pengabdian kepada Masyarakat itu adalah pengejawantahan hasil penelitian. Maksudnya, PkM yang selama ini dilakukan dengan kegiatan bakti sosial semata-mata, sebenarnya bukan itu yang kita inginkan, karena kegiatan itu hanya baru berupa pelayanan kesehatan saja. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc., Ph.D., Dipl.DK, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Univ. YARSI saat membuka acara Konsinyering Pengabdian kepada Masyarakat FK Univ. YARSI di Ruang Seminar Rektorat Univ. YARSI (Kamis, 4/42019).

“Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat sebenarnya adalah apa yang sudah kita kembangkan dalam penelitian. Itu yang akan kita terapkan di masyarakat. Oleh karenanya, capaian PkM sama dengan Penelitian, dimintai HKI (hak kekayaan intelektual) dan publikasinya,” ungkap Dosen Farmakologi Univ. YARSI ini bersemangat.

dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc., Ph.D., Dipl.DK, (psosisi berdiri) saat memimpin diskusi kelompok PkM TB Care pada acara Konsinyering Pengabdian kepada Masyarakat FK Univ. YARSI di ruang Workshop 1 lantai 12.

Dicontohkan dr. Rika, kalau PkM. FK. itu cuma hanya melakukan pengobatan massal dan khitanan massal saja, dia khawatir nanti tim pelaksana tidak tahu akan menulis apa di paper. Berdasarkan pengalaman penelitian yang pernah dilakukannya dulu tentang tuberkolosis dan lepra, maka PkM terkait hal itu ada tools-nya yang bisa dijadikan sebagai alat untuk evaluasi sehingga bisa dipublikasikan.

Pada kesempatan itu dr. Rika, juga menyampaikan bahwa tujuan dari konsinyering yang dilakukan oleh FK. Univ. YARSI adalah untuk mendukung program-program yang sudah dicanangkan oleh Rektor dan tim. Di mana pelaksanaannya dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama Konsinyering PkM, dan tahap kedua Konsinyering Penelitian yang diadakan tanggal 9 April 2019 di tempat yang sama. Selain itu dia juga mengeluhkan tentang capaian FK Univ. YARSI saat acara MORE (Monthly Report).

“Kemarin waktu di MORE saya terenyuh, oh capaian FK. kok turun padahal dulunya bagus dan perlu ditingkatkan,“ ujar wanita yang meraih gelar Ph.D (S-3) dari University of Tokyo tahun 2011 ini dengan nada sedikit mengeluh.

Setelah dilihat lagi penyebabnya, dr. Rika melihat ternyata turunnya karena pembaginya dihitung 120. Kalau dihitung-hitung lagi sebenarnya plus-minus masih sama. Namun, dia menghimbau untuk tidak tidak berpuas hati dengan capaian itu.

Casing kita kan sudah ‘emas’ dengan mendapatkan Akreditasi A. Sekarang tugas kita adalah bagaimana ‘sangkar emas’ itu bisa menjadikannya nyaman, produktif dan bermanfaat untuk kita semua, itu salah satu yang harus kita lakukan” ungkap alumni FK. Univ. Erlangga tahun 1999 ini meyakinkan.

“Saya sangat percaya kita mampu melakukan itu dengan mengikuti falsafah sapu lidi. Tidak ada satu lidi yang kuat walau sekeras baja pun bisa menyelesaikan semua masalah. Tapi, jika lidi itu meski tidak kuat-kuat amat kemudian bersatu menjadi satu ‘sapu lidi’, maka lebih banyak hal yang bisa dilakukan. Lebih banyak kotoran (sampah) yang bisa dibuang, lebih besar kekuatannya bila dibandingkan dengan hanya satu lidi saja,” tambah dr. Rika berfilosofis.

Artinya, menurut dr. Rika, FK. YARSI mempunyai kekuatan yang besar, dengan 93 orang dosen yang dimiliki, itu jumlah yang bukan main bila bersatu. Apalagi bila pihak yayasan meng-aprove perekrutan tambahan 57 orang lagi. Tidak bisa dibayangkan, FK. YARSI akan mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa nantinya.

“Alhamdulillah, Allah SWT. meridhoi kita, FK. YARSI telah mendapatkan akreditasi A. Dari sekian banyak Fakultas Kedokteran di universitas swasta di Indonesia, FK. YARSI menjadi salah satu dari 5 (lima) diantaranya. Selain FK. Univ. YARSI yang memperoleh Akreditasi A adalah UII (Univ. Islam Indonesia), UMI (Univ. Muslim Indonesia), UPH (Univ. Pelita Harapan), dan Univ. Atmajaya. Artinya, kita ini sudah terseleksi. Selain ridho Allah SWT, semua itu tercapai berkat kerja sama bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,” urai dr. Rika panjang lebar.

“Tim kita ini sifatnya kan cuma kolegial, kita bukan jalur perintah yang hanya mengoordinir, 4 (empat) tahun selesai. Nanti bapak-ibu yang menggantikan. Maksudnya apa, kerja sama di anatara kita itu yang penting,” pungkas dr. Rika sambal menutup pidatonya dengan harapan agar Tim FK. Univ. bisa bergerak dan maju bersama untuk mencapai keberhasilan generasi “pengganti” di masa datang. (ART)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *