Dosen SPS-UY, Prof. Dr. Nurul Huda, SE., MM., M.Si. Terima SK Guru Besar, Dirjen Dikti Prof. dr. Ali Gufron Mukti, M.Sc. Tuntut Profesor Tetap Produktif

Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI (SPS-UY), Dr. Nurul Huda, SE., MM., M.Si. (Ka. Prodi Magister Manajemen) menerima SK (Surat Keputusan) Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak. tentang Jabatan Akademik/Fungsional Dosen sebagai Profesor/Guru Besar. Prosesi penyerahan SK ini dilakukan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kemenristek Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D, (Jumat, 04/10/2019) di Aula Ki Hajar Dewantara, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Jakarta.

Acara ini diawali dengan laporan Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T sebagai Sekretaris Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III DKI Jakarta, mengatakan bahwa usulan atas nama Dr. Nurul Huda merupakan Guru Besar yang ke-234 di LLDikti Wil. III. Kepadanya diwajibkan memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dari jabatan akademik Lektor Kepala dengan Kum 550, PNP 2016 ke Profesor Kum 850. Usulan awal dari LLDikti Wil III pada tanggal 14 Januari 2019. Revisi pertama tentang jurnal internasional sesuai Surat Sekretaris LLDikti Wil. III tanggal 17 Juni 2019.

SK_Guru_Besar_2
Prof. Dr. Nurul Huda, SE., MM. (tengah) usai menerima SK, foto bersama dengan Dirjen Dikti, Rektor UY, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D., dan Tim dari UY serta Jajaran LLDikti Wil III Jakarta.

“Hasilnya melalui SK Menteri tanggal 31 Juli 2019, Alhamdulillah, Dr. Nurul Huda, SE., MM., M.Si. terhitung sejak 1 Agustus 2019 sudah berhak menyandang gelar Profesor,” kata Dr. M. Samsuri.

Menurut Dr. M. Samsuri, proses pengurusan gelar Profesor bagi Prof. Nurul Huda adalah termasuk yang tercepat. Kemudian dilaporkan juga dua orang peraih gelar Profesor bersamaan dengan Prof. Nurul Huda di LLDikti Wil. III yaitu Prof. Dr. Rajad Ritonga adalah Profesor yang ke-235 dari Univ. Prof Moestopo (Beragama) dan Prof. Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto merupakan Profesor ke-236 dari Univ. Pelita Harapan.

Usai penyerahan SK, Dirjen Prof. Ali Gufron mengucapkan selamat kepada ketiga Profesor atas prestasinya yang membanggakan dan meminta agar setelah menjadi Profesor harus tetap produktif. Jangan sampai setelah jadi Profesor terus berhenti berkarya seperti melakukan penelitian dan publikasi ilmiah.

Sambil bercanda Prof. Ali Gufron mencontohkan seseorang Profesor kenalannya di Jawa Barat yang sebelumnya begitu rajin meneliti dan publikasi tetapi tidak produktif lagi sesudah diangkat menjadi Profesor. Sewaktu ditanya kenapa berhenti, orang itu menjawab, “Begini Pak Dirjen, waktu kami mau jadi profesor itu sulitnya setengah mati, maka setelah jadi Profesor kami ingin menikmatinya dulu,” ujar Prof. Ali Gufron yang disambut oleh tawa hadirin.

“Ini adalah contoh yang tidak baik, seharusnya jangan berhenti dan tetap optimis, mungkin tidak harus jadi penulis utama, tapi bisa jadi pembimbing. Profesor yang bagus itu adalah yang bisa membimbing dan melahirkan beberapa orang Profesor lagi setelahnya,” jelas Prof. Ali Gufron.

SK_Guru_Besar_3
Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T., Prof. Dr. Rajad Ritonga, MM., M.Si., Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Nurul Huda, SE., dan Prof. Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto.

Dikatakan juga bahwa Indonesia beberapa tahun yang lalu sudah jauh sekali ketinggalan bila dibandingkan dari negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand di bidang publikasi. Meskipun Indonesia berada di urutan ke-4, jumlah publikasinya baru setengahnya dibandingkan dengan negara Thailand.

“Di tahun 2015 Thailand itu berada diurutan ke-3, jumlah publikasinya sudah mencapai 12.068, sementara Indonesia di nomor 4 baru bisa mencapai separohnya. Apalagi dengan Malaysia sudah mencapai 25.000 lebih,” tambah Prof. Ali Gufron.
Pada kesempatan yang sama, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D. (Rektor UY) mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dalam hal ini Kemeristek Dikti yang telah membuat proses pengusulan jadi Guru Besar itu lebih transparan, akuntabel, dan siapa saja yang sudah memenuhi persyaratan dengan cepat diproses. Hal itu mejadi sebuah ‘oase’ bagi mereka, dimana keragu-raguan dalam kenaikan pangkat bagi yang merasa sudah bekerja keras disambut dengan baik dan cepat serta transparan dengan kualitas pelayanan prima baik di LLDikti Wil. III maupun di Kemenristek Dikti.

“Namun keragua-raguan tersebut sekarang terjawab yang membuat teman-teman menjadi lebih bersemangat untuk memiliki kesiapan dan kelengkapan persyaratan diri mereka sendiri dan melihat peluang untuk mengusulkan pangkat akademik Guru Besar, karena syarat-syarat yang diperlukan secara bertahap bisa dipenuhi,” ungkap Prof. Fasli Jalal.

“Bukan hanya untuk syarat itu saja, tapi semua persiapan dan persyaratan tersebut akan mempengaruhi proses pembelajaran, pengabdian mereka pada masyarakat sehingga menjadi semakin relevan,” tambah Prof. Fasli Jalal.

Selain sangat bermanfaat bagi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pembelajaran, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat) menurut Prof. Fasli Jalal, karya-karya Dosen yang menyiapkan diri untuk menjadi Profesor akan memperkuat peran perguruan tinggi dalam proses pengambilan kebijakan, baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun dunia usaha.

Meskipun Universitas YARSI belum banyak memiliki Profesor, namun mantan Dirjen Dikti dan Wakil Menteri Pendidikan nasional ini berkeyakinan akan banyak tenaga pengajar di UY menyusul mendapatkan gelar Profesor. Mereka yang turut hadir dari UY pada acara ini ialah dr. Miranti Pusparini, M.Pd (Ked.) (Wakil Rektor I), Dr. Ir. Verni Yuliaty Ismail, MM, MSi. (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB), dan Riselligia Caninsti, Psi, M.Psi. (Ka. Pusat Pengembangan dan Pembinaan Dosen). Semoga salah satu diantara mereka itudan Dosen UY yang lain, segera menyusul untuk meraih gelar Profesor. Menurut rencana pengukuhan Gelar Profesor bagi Prof. Nurul Huda akan dilaksanakan tanggal 19 November 2019 di UY. (ART)

“Universitas YARSI, Islami dan Berkualitas”

Leave a Reply

Your email address will not be published.