Universitas YARSI Baiat 41 Dokter Muslim, Prof. dr. Jurnalis Uddin, PAK.: “Dokter Muslim Juga Sebagai Da’i, Mengobati Spritual Pasien”

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI (FK-UY), untuk kesekian kalinya kembali menggelar Bai’at Dokter Muslim yang ditandai dengan pengucapan sumpah (Selasa, 15/10/2019) dalam Sidang Terbuka Senat FK-UY di ruang Auditorium Ar-Rahim gedung UY lantai 12, Jakarta.

Pembaiatan 41 orang Dokter Muslim ini dipimpin oleh Dekan FK-UY, dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Sc., PhD. dan diikuti oleh seluruh peserta bai’at dan disaksikan oleh sekitar 82 orang kerabat mereka yang terdiri dari orangtua, saudara, serta suami/istri.

Sidang Terbuka Senat Fakultas Kedokteran UY dibuka secara resmi oleh dr. Hj. Diniwati Mukhtar, M.Kes, AIFM (Ketua Senat FK-UY). Turut hadir Prof. dr. Jurnalis Uddin, PAK. (Ketua Pengurus Yayasan YARSI), Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D. (Rektor UY), Prof. Dr. Hj. Qomariyah, MS, PKK, AIFM (Ketua Senat Fakultas UY), Prof. dr. Abdul Salam M. Sofro, PhD., Sp.KT(P). (Direktur SPS), Prof. Dr. Bambang S. Trenggono, drg. M. Biomed (Dekan FKG-UY), dan dr. Efmansyah Iken Lubis (Ketua Persaudaraan Alumni FK-UY). Kemudian merupakan sebuah kehormatan, acara ini juga dihadiri oleh Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) dr. Daeng M Faqih, SH., MH.

Baiat-DM-2
Para Senat Fakultas memasuki ruangan sidang Bai’at Dokter Muslim UY, terlihat dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Sc., PhD. (Dekan FK-UY), Prof. dr. Jurnalis Uddin. PAK. (Ketua Pengurus Yayasan YARSI), Prof. dr. Fasli Jalal, Pah.D. (Rektor UY), Prof. dr. Abdul Salam M. Sofro, PhD., Sp.KT(P). (Direktur SPS), dan Prof. Hj. Qomariyah RS, dr., MS., PKK., AIFM (Ketua Senat Univeristas).

Prof. Jurnalis dalam sambutannya mengingatkan bahwa kurikulum di FK-UY itu sebenarnya 5 ½ (lima setengah) tahun. Namun tidak ada mahasiswa FK-UY yang selesai dalam kurun waktu demikian. Paling cepat mereka bisa menamatkan selama 6 tahun.

“Kenapa bisa demikian? Karena adanya timeline antara lulus di ujian lokal dengan ujian UKMPPD,” ungkap Prof. Jurnalis.

“Kalaupun dia sekaligus lulus juga (5 ½ tahun) butuh setengah tahun lagi waktunya untuk menunggu. Namun, jika ujian UKMPPD yang pertama gagal, mereka harus mengulang lagi di ujian berikutnya, sehingga bisa lebih lama selesainya,” tutur Prof. Jurnalis.

Hal itu, kata Prof. Jurnalis berbeda dengan zaman tahun 70-an, di mana dulu ada namanya ujian CIS yaitu ujian yang mengikuti pola AGK di Amerika itu 4 tahun pendidikan dokter karena dia menerima jadi bachelor di sana ada namanya ujian lokal tapi sekaligus ujian negara namanya United State Medical license Examination (USMLE), tahun pertama namanya E-1, tahun kedua E-2, tahun ketiga E-3, dan tahun keempat E-4. Jadi begitu lulus dia lulus ujian negara. Sedangkan di Indonesia, antara ujian lokal dengan ujian negara ada timeline.

Baiat-DM-3
Prof. dr. Jurnalis Uddin, PAK. bersama Senat Fakultas Kedokteran UY setelah mengambil tempat.

“Kita belum bisa seperti di Amerika yang waktu lulusnya bisa lebih cepat. Mudah-mudahan sistem yang akan datang bisa diatur sedemikian rupa sehingga timeline nya bisa dikurangi,” harap Prof. Jurnalis.

Selain memeriksa dan mengobati penyakit, Prof. Jurnalis menganjurkan agar seorang dokter muslim harus juga mendiagnosa kehidupan spiritual pasiennya. Jangan lupa menanyakan apakah pasien tadi sudah sholat atau belum. Kalau pasiennya mengaku muslim, akan tetapi dia tidak sholat, berarti pasien itu benar-benar sakit dan tugas dokter muslim-lah untuk mengobatinya. Sedangkan bagaimana cara mengobatinya, Prof. Jurnalis meyakini selama pendidikan di FK-UY tentu sudah diberikan petunjuk-petunjuk.

“Kemudian ditanya lagi pasien itu, apa bisa baca Quran atau tidak? Kalau dijawab tidak bisa, berarti dia sakit dan tugas saudara pula untuk mengobatinya,” lanjut Prof. Jurnalis.

Maka dari itu, Prof. Jurnalis juga berpesan, setiap kali dokter muslim menjumpai seorang pasien yang sakit, agar diketahui bahwa dia adalah representasi dari suatu keluarga. Andaikata hasil diagnosanya menderita penyakit typus misalnya, maka perlu diingatkan keluarganya juga mungkin terpapar dan jangan lupa untuk mendiagnosa juga keluarganya. Begitu juga tentang keimanannya, kalau si pasien tidak sholat, ada kemungkinan keluarganya juga tidak sholat dan tugas dokter muslim juga untuk mengobati keluarganya itu.

“Keluarga itu adalah presentasi dari sebuah komunitas tingkat RT, tingkat RW atau tingkat Kelurahan, maka tugas saudara juga untuk mengobati tingkat keluarga dan tingkat komunitas itu,” tegas Prof. Jurnalis.

“Tugas dokter muslim itu, juga adalah sebagai seorang Dai. Ada kewajiban saudara untuk menyembuhkan penyakit-penyakit fisik dan jiwa serta penyakit-penyakit spiritual (keimanan) seorang pasien dan keluarganya atau komunitasnya,” tambah Prof. Jurnalis.

Kata Prof. Jurnalis, hal itulah yang membuat perbedaan dengan dokter-dokter dari universitas lain yang tidak ada tugas Da’i-nya. Beliau sekali lagi mengingatkan adalah tugas dokter muslim untuk mengobati penyakit spiritual itu. Seperti pepatah mengatakan bahwa pencegahan lebih baik daripada mengobati.

“Predikat dokter muslim merupakan sebuah tugas mulia dan harus aktif dilakukan, memang tidak mudah, namaun saya kira itu cukup menantang dan bisa untuk dilakukan,” ujar Prof. Jurnalis.

Mengenai isu tentang akan adanya serbuan dokter-dokter asing yang datang ke Indonesia, Prof. Jurnalis mengingatkan agar tidak usah terlalu khawatir akan hal itu. Menurutnya yang perlu dikhawatirkan adalah dokter asing yang mempunyai latar belakang keagamaan, ada upaya-upaya bukan untuk pengobatan yang lebih ditekankanya tapi adalah persoalan agama yang ditonjolkan.

Diingatkannya supaya membentengi umat dari dokter-dokter yang seperti itu. Contohnya, ada dokter-dokter asing yang bekerja di suatu rumah sakit, yang mana rumah sakit itu harusnya dibayar 10 tapi cukup dibayar 5 kemudian obatnya gratis dan sebagainya tapi disuruh pasiennya untuk mengikuti ajaran mereka. Hal semacam ini ada dan dokter-dokter yang bekerja di sana disebut dengan dokter misionaris, itu perlu diwaspadai.

Sejauh mereka hanya berdasarkan iptek saja, tidak ada masalah, tapi kalau seandainya iptek disisipi dengan kegiatan-kegiatan missionaris, maka perlu hati hati dan itu adalah tugas dokter muslim untuk melindungi pasien dan keluarganya serta komunitasnya dari ancaman tersebut. Ini sangat penting menjaga keluarga agar semua tetap istiqomah, Islam hari ini, Islam besok, dan tetap Islam di masa yang akan datang.

“Semoga hal ini dapat dilaksanakan dengan baik dan mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada saudara sehingga dapat menjalankan misi itu dengan baik,” pungkas Prof. Jurnalis mengakhiri sambutannya. (ART)

“Universitas YARSI, Islami dan Berkualitas”

Leave a Reply

Your email address will not be published.