FK-UY Hadirkan Ustadz Abu Marlo dalam Sharing: Jeda Semesta dengan Topik ‘Kontemplasi Covid-19’

Dalam situasi kekinian dunia tengah digemparkan oleh makhluk bermahkota (corona dalam bahasa latin artinya mahkota) yang membuat manusia di dalamnya seakan dipaksa untuk jeda sesaat dan melakukan kontemplasi. Kembali kepada kehidupan ini bahwa siapapun dia adalah bagian kecil dari kesatuan yang Maha Agung dalam pengaturan sistem yang sempurna, sistem alam semesta. Kita semua (manusia) hadir di sini untuk melakukan pembelajaran hidup yang pada dasarnya untuk lebih mengenal alam semesta dan pada akhirnya pun keniscayaan bahwa kita tidak untuk tinggal di sini melainkan tujuan akhirnya adalah kembali kepada Tuhan.

Demikian salah satu alasan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI (FK-UY) menggelar acara “Sharing: Jeda Semesta” dengan topik “Kontemplasi Covid-19”, Jumat (24/07/2020) secara Daring (Dalam Jaringan) dengan menggunakan salah satu aplikasi di dunia maya.

Jeda Semesta dengan Topik ‘Kontemplasi Covid-19’ - 2
Rektor Universitas YARSI, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D. sedang menyampaikan kata sambutan.

Turut hadir, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D. (Rektor UY), dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Sc., PhD. (Dekan FK-UY) di tengah acara yang diikuti dengan target peserta seluruh civitas akademika UY. Sharing: Jeda Semesta ini menampilkan narasumber Abu Marlo, seorang runner up reality show ‘The Master’, mentalis dan tukang sulap, serta saat ini Abu Marlo juga aktif mengisi ceramah Cahaya Hati di Antv. Acara ini dipandu oleh Amalia Ramadhani, seorang mahasiswa aktif pada FK-UY sebagai MC.

Prof. Fasli Jalal dalam sambutannya mengatakan bahwa forum ini adalah forum yang sangat penting bagi kita untuk merefleksi apa arti wabah ini bagi diri kita masing-masing, keluarga, keluarga besar, masyarakat di sekitar, bahkan sampai kepada bangsa dan negara, serta umat Islam di seluruh dunia. Sebagaimana diketahui, bahwa pandemi ini merupakan bagian dari skenario besar Yang Maha Kuasa. Kita harus terima, ambil hikmahnya, dan kita lihat kepada diri kita apa pesan moral yang terkandung dari cobaan ini. Karena tidak mungkin sebuah cobaan diberikan oleh Allah SWT. tanpa ada maksud dan tujuan tertentu dari-Nya.

Jeda Semesta dengan Topik ‘Kontemplasi Covid-19’ - 3
dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Sc., PhD. – Dekan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

“Allah itu maha adil, Dia hanya menimpakan sebuah cobaan kepada mereka (orang-orang) yang mampu menghadapi dan mengatasi segala cobaan tersebut,” kata Prof. Fasli Jalal.

“Pandemi ini adalah sebuah peristiwa alam, ujian dari Yang Maha Kuasa tapi bisa dijelaskan secara keilmuan,” tambah Prof. Fasli Jalal.

Prof. Fasli Jalal juga menghimbau kepada kita semua yang hadir dan menyaksikan setelah acara ini di Chanel YARSI-TV agar selalu menjaga physical distancing dengan menjalankan semua protokol kesehatan, inshaa Allah kita akan terhindar dari Covid-19 yang sudah puluhan ribu masyarakat Indonesia dinyatakan positif.

Jeda Semesta dengan Topik ‘Kontemplasi Covid-19’ - 4
Narasumber: Abu Marlo, seorang runner up reality show ‘The Master’, mentalis dan tukang sulap, serta saat ini Abu Marlo juga aktif mengisi ceramah Cahaya Hati di Antv.

Ustadz Abu Marlo, demikian orang-orang memanggilnya dalam sharing kali ini mengatakan sewaktu wabah Covid-19 ini pertama kali datang, ia sempat kepikiran untuk menuliskan bahwa ini sebetulnya tidak hanya sekedar virus yang berkemauan untuk datang, tapi ini adalah jeda-nya semesta. Karena banyak kontemplasi yang sama-sama didapatkan dari momentum ini.

Semesta alam, kata Abu Marlo, selalu tunduk kepada hukum penciptanya, dimana saat ini sehebat apa pun usaha seorang manusia tidak bisa menolak kedatangan kejadian alam yang tentu saja sudah menjadi bagian besar dalam skenario-Nya. Semua kejadian ini tentu saja menjadi utusan Sang Maha untuk kita sebagai manusia bisa lebih sadar akan makna kehidupan, utusan kekinian itu bernama Covid-19.

Covid-19 hadir menjadi guru besar untuk kita semua, guru yang mengajarkan kesadaran akan diri ini dimana mungkin saat ini sebagian manusia lupa akan inti dari kehadirannya dimuka bumi ini. Boleh jadi “mahkota ego” diri ini lebih diutamakan dalam keseharian sehingga alam memaksakan dalam keseimbangannya untuk menundukan “mahkota ego” itu agar menjadi pengingat kedalam diri.

Hal yang penting untuk kita sadari bahwa kejadian ini adalah bentuk kasih sayang-Nya, dimana saat ini bumi mungkin perlu istirahat sejenak agar keseimbangan itu tetap terjaga dengan baik. Bumi mengajak isinya untuk menghening sejenak, mengajak manusia untuk “masuk kedalam” dalam memaknai kehidupan yang hakiki. Boleh jadi kesibukan selama ini yang membuat kita fokus “keluar” dimana kita terlalu ambisius mencari sesuatu yang tidak pernah ada puasnya, membuat diri ini lupa untuk bersyukur. Akibatnya tidak sedikit manusia mengalami stres dan depresi.

Jeda Semesta dengan Topik ‘Kontemplasi Covid-19’ - 5
Amalia Ramadhani, salah seorang mahasiswa aktif pada FK-UY sebagai MC.

“Boleh jadi saat ini adalah saat kita semua untuk diam sesaat, untuk lebih hening dan lebih bisa merasakan segala sesuatu bukan dengan pikiran yang sibuk. Bukankah dengan hening itu kita bisa lebih merasakan hati nurani lebih baik? Yang boleh jadi jawaban yang selama ini kita cari sudah ada didalam namun tertutup oleh ego,” jelas Abu Marlo.

Untuk menghadapi situasi ini tentu memerlukan kedewasaan baik dari sisi kedewasaan psikologi maupun kedewasaan rohani. Dimana keduanya selalu ada diantara harapan dan ketakutan. Covid-19 ini mengajarkan kita semua untuk senantiasa berada pada pertengahan antara harapan dan ketakutan. Artinya tidak perlu terlalu panik dan juga bukan memasrahkan tanpa sebuah usaha yang terbaik.

Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa ketakutan akan membunuh sistem imun tubuh kita sehingga penyebaran ketakutan itu sendiri yang akan membuat situasi ini akan lebih buruk. Tentu kita mengenal istilah placebo effect dimana obat tidak menyembuhkan tapi keyakinan kita terhadap obat itu yang menyembuhkan.

“Oleh karena itu, mari kita melakukan usaha sesuai porsi kita sebagai manusia, menjaga kesehatan dengan baik, melakukan prosedur dengan sadar, tetap memiliki pikiran yang positif dan menyebarkan energi yang positif. Selebihnya, apapun hasilnya semua dalam pengaturan-Nya yang terbaik,” jelas Abu Marlo

“Jangan lupa bahagia, karena energi bahagia adalah obat terbaik untuk penyakit apapun. Terima – Mengalir – Senyum, Salam sehat dan damai selalu,” ucap Abu Marlo mengakhiri. (ART)

Leave a Reply

Your email address will not be published.