Mahasiswa Teknologi Informasi Siap Menggali Potensi Ditengah Pandemi bersama SIMPATI

SIMPATI diadakan untuk mendorong mahasiswa melatih soft skills, mempresentasikan penelitian atau tugas akhir yang mereka kerjakan. Ini memang baru yang pertama, bukan yang terakhir, karena diharapkan tahun-tahun berikutnya akan rutin sehingga setidaknya Universitas Yarsi bisa mengejar, agar sejajar dengan PTN. Hal ini disampaikan oleh Dr. Ummi Azizah R, S.Kom. M.Kom., selaku Dekan FTI-UY dalam pembukaan acara SIMPATI pada Rabu (11/11/2020) yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi teleconference Zoom dan Youtube. Acara yang diselenggarakan prodi Teknik Informatika Universitas YARSI dan diketuai oleh Nova Eka Diana, S.Kom, M.Eng ini diikuti oleh 199 peserta seminar (pemakalah & non-pemakalah) serta turut menghadirkan 2 keynote speakers yaitu: Dr. Diana Purwitasari, S.Kom., M.Sc. (Dosen Teknik Informatika ITS) dan Andreas Febrian, Ph.D. (Direktur Pusat Pendidikan Jarak Jauh (PPJJ) Universitas YARSI).

Acara pertama menampilkan Dr. Diana Purwitasari, S.Kom., M.Sc. yang membawakan materi dengan judul “Mahasiswa fresh graduate: apa dan bagaimana ditengah pandemi?”. Pada pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa peluang dari potensi yang bisa digali dapat dimulai dari hal yang dianggap remeh sekalipun. Seperti membuat video untuk komersialisasi, marketing barang, atau juga produk kecil dari tugas akhir. “Kadang hal yang kita anggap biasa saja bisa jadi orang lain mengatakan sebaliknya.” Ujar Dr. Diana.

 

Dr. Diana Purwitasari, S.Kom., M.Sc sedang mengisi materi di SIMPATI

 

Beliau juga menuturkan bahwa knowledge seseorang itu terakumulasi berdasarkan experience, “Misalnya kita fokus ke suatu pekerjaan minimal 7 tahun, walaupun awalnya tidak nyaman, namun masa sih di tahun ke-8, kita posisinya tetap sama? Pasti ada pengalaman lebih, setelah itu kita tinggal memetik buahnya”. Diambil dari kutipan Sylvia Plath, beliau juga menjelaskan “self-doubt memang ada tetapi, porsinya jangan terlalu banyak, tetap semangat, terus berimajinasi, walaupun imajinasinya belum sejauh itu, tetap pede, cobalah sering berkolaborasi dengan teman yang bisa mem-boosting, serta rajin melihat dan mencari informasi pasti bisa survived.”

Pemaparan materi Self-Regulation oleh Andreas Febrian, Ph.D.

Berbeda dengan Dr. Diana, keynote speaker SIMPATI ke-2 yaitu, Andreas Febrian, Ph.D. hadir dengan tagline #pintarItuPilihan, beliau mempresentasikan materinya yang berjudul “Self-regulation – kerangka peningkatan potensi diri dengan gaya SDLC”. Sesuai dengan apa yang sedang terjadi ditengah pandemi ini, banyak orang awam yang menganggap bahwa mereka memiliki banyak waktu kosong karena sedang berada di rumah saja. Sedangkan menurut beliau, “Ketika seseorang merasa memiliki waktu kosong, berarti dia sedang melupakan tanggungjawab dan mimpi-mimpinya.” Kalimat yang cukup membuat orang lain tersadar bahwa ‘waktu kosong’ sebenarnya merupakan waktu yang tepat untuk terus berkembang.

Beberapa poin dari presentasi yang beliau jelaskan disampaikan secara interaktif/dialektika agar tidak membosankan dan lebih tepat sasaran. Beliau juga menyelipkan beberapa ilustrasi yang kerap terjadi di kehidupan sehari-hari dan memberikan tips yang tepat dilakukan pada self-regulation untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Salah satu breakout room pada parallel session

Setelah materi dari keynote speaker ke-2 selesai, rangkaian acara terakhir dari SIMPATI adalah presentasi yang akan dilakukan oleh 71 pemakalah. Ada 8 breakout rooms yang disediakan berdasarkan topik abstrak yang sudah dikirimkan para pemakalah. Partisipan lainnya, seperti non-pemakalah memiliki akses memasuki room mana saja untuk melihat para pemakalah dalam mempresentasikan penelitiannya. Non-pemakalah juga dapat memberikan pertanyaan dan juga masukan untuk para pemakalah yang tampil. Semua partisipan dapat belajar bersama, sesuai dengan tujuan awal SIMPATI yaitu memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk merasakan menjadi peneliti; memberikan dan mendapatkan masukkan untuk meningkatkan kualitas penelitiannya, baik dari para peneliti senior, mahasiswa lain, dan khalayak umum.

“Seminar seperti ini lebih sering diadakan lagi, agar kami mahasiswa, ketika skripsi mendapatkan ilmu dan gambaran tentang skripsi dan dapat belajar serta menyerap ilmu dari skripsi senior mulai dari penulisan, metode dan pengujian” ucap salah satu partisipan SIMPATI yang memberikan sarannya di penghujung acara. (SAY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *