Kuliah Umum Universitas Yarsi: Pandemi Lahirkan Modal Sosial Baru

KOMPAS.com – Secara khusus, Universitas Yarsi (Yayasan Rumah Sakit Islam) mengangkat tema “Membangun Ketahanan Nasional di Masa Pandemi” dalam kuliah umum pembuka tahun akademik 2021 (23/8/2021).

“Karena kita tahu dan kita yakin, bahwa cobaan ini hanya bisa diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada kita yang mampu untuk mengatasinya,” ujar Prof. Fasli Jalal, Rektor Universitas Yarsi dalam sambutan pembukaan.

Ia juga menyampaikan, meski saat ini Indonesia tengah dihadapkan pada kebutuhan jangka pendek seperti kesehatan, ekonomi, dan kerukunan sosial, tantangan pandemi Covid-19 ini juga perlu dikaji dari kaca mata makro yaitu ketahanan nasional.

“Universitas Yarsi, kita tidak boleh berpikir sebagai menara gading. Tidak berpikir untuk kita saja di kampus, tetapi pertanyaan besar apa yang kita sumbangkan kepeda pembangunan sumber daya manusia secara menyeluruh di Indonesia,” ujar Prof. Fasli.

“Termasuk kontribusi kita terhadap pengabdian masyarakat, dan juga pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam membangun produk-produk yang menjadi daya bangsa Indonesia di kemudian hari,” tambahnya lagi.

Ia menegaskan ketahanan nasional harus mampu menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai ancaman dan tantangan dari dalam maupun luar, dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan (hankam). 

“Ketahanan nasional harus diupayakan secara sinergis antar komponen bangsa sejak dini dan berkelanjutan,” tegasnya.

Menumbuhkan semangat optimisme

Pemateri utama kuliah umum, Agung Laksono (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden) dalam pemaparannya menyampaikan persoalan multidimensi pandemi Covid-19 didasarkan pada fakta belum ditemukannya obat dan vaksin yang efektif untuk semua varian sehingga seluruh negara merumuskan sendiri cara menghadapi pandemi.

“Ada sejumlah crusial point dalam kita menjaga ketahanan nasional dari demografi di era pandemi. Kita menghadapi ekstra bonus sekaligus titik rawan aspek demografi di Indonesia,” ungkap Agung Laksono.

Bonus demografi angkatan muda kerja Indonesia yang mencapai 64,50 juta jiwa menurut Agung menjadi pedang bermata dua; peningkatan SDM yang berlimpah sekaligus membludaknya angka pengangguran jika ekonomi lemah.

Persoalan lain, tambah Agung, muncul dari persebaran bonus demografi yang tidak merata, di mana Pulau Jawa memiliki persentase demografi terbesar mencapai 55,11 persen.

Lebih jauh Agung Laksono juga menyebut beberapa urgensi masalah demografi dalam ketahanan nasional yang meliputi;

  • Problematik persebaran dan pertumbuhan penduduk
  • Peningkatan pelayanan dan perlindungan sosial
  • Perlindungan kesehatan masyarakat
  • Pemulihan kekuatan ekonomi rakyat
  • Mendorong inovasi dan kreasi masyarakat di masa pandemi, serta
  • Partisipasi generasi milenial sebagai obyek dan subyek utama bonus demografi

Oleh karenanya, Agung Laksono mengatakan dibutuhkan penguatan nasional di era pandemi Covid-19.

“Salah satunya dengan percepatan pelaksanaan vaksin mencapai 3 juta per hari guna mengejar target herd immunity mencapai 80 persen jumlah penduduk hingga akhir tahun 2021,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kemandirian nasional, baik dalam bidang vaksin maupun industri farmasi dalam negeri.

Sisi lain, Agung Laksono juga menyampaikan pandemi telah memunculkan beragam modal sosial baru yang makin tumbuh di masa pandemi antara lain; semangat jiwa gotong royong, rasa disiplin, rasa sosial dan kesetiakawanan, hingga pemikiran kreatif dan inovatif.

Ia meminta Universitas Yarsi menjadi bagian dalam menumbuhkan semangat optimisme ini dan berperan aktif dalam pembinaan ketahanan nasional.

“Tentu endingnya NKRI semakin kokoh. Jika NKRI semakin kokoh maka cita-cita ideal bangsa dapat terwujud,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.