Obat Herbal Naik Kelas, Bisakah ?

Obat tradisional atau herbal. Obat itu sering dibicarakan, mudah diucapkan banyak orang membutuhkan, namun dalam pengembangannya obat tradisional Indonesia memiliki kelemahan tersendiri. Indonesia memiliki sumber daya yang belum bertransformasi untuk mendapatkan nilai tambah dan permintaan terhadap obat tradisional cenderung mengalami penurunan.Bisakah obat tradisional naik kelas ?

Menurut Anggota Dewan Pakar Persatuan Alumni Jerman, Dr. rer. nat Ikhwan Sudji (Bang Ikhwan) ,perlu beberapa strategi dalam pengembangan obat tradisional di Indonesia agar naik kelas. Mulai dari meningkatkan ketersediaan bahan baku obat tradisional terstandar, membangun networking, meningkatkan penelitian dan inovasi teknologi serta melakukan pengembangan Laboratorium Sertifikasi untuk bahan baku obat tradisional.

Selanjutnya Bang Ikhwan mengutip Worldwide Research Trends on Medicinal Plants, penelitian tentang obat herbal meningkat secara signifikan pada periode tahun 1990 sampai tahun 2018. Sekitar pada tahun 2010 sampai sekarang, topik yang diteliti sangat beragam. Mulai dari farmakologi, biokimia, imunology dan lain-lain.

Kini semua aspek  berhubungan dengan obat herbal dan senyawa kimia menjadi target studi dari para peneliti. Ada 12 negara aktif dalam penelitian ini, yakni Cina, India, Brazil, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Iran, Pakistan, Inggris, Italia dan Perancis.

Berbicara mengenai obat herbal, tentu Indonesia tidak akan melewatkannya. Menurut Alumni Jerman (Universitas Heidelberg),kebijakan obat tradisional nasional bertujuan mendorong pemanfaatan sumber daya alam dan ramuan tradisional secara berkelanjutan serta menjamin pengelolaan potensi alam Indonesia memiliki daya saing.

Untuk Indonesia sendiri, tahun 2010 terdapat studi membuktikan sekitar 50% orang Indonesia mengkonsumsi jamu. Di Indonesia terdapat 3 penggolongan obat tradisional ,” Jamu memiliki jumlah sekitar 8000, obat herbal terstandar sebanyak 45 dan fitomarka sebanyak 21..” tutur Bang Ikhwan pada webinar Universitas Yarsi (UY) bekerjasama Persatuan Alumni Jerman (PAJ), siang tadi.

Masih menurut Bang Ikhwan , cerita tentang obat herbal, ada beberapa sekelompok masyarakat menjaga dan memiliki beragam informasi mengenai tanaman-tanaman bermanfaat untuk pengobatan.

Dalam Chinese Herbal Medicine (CHM), mereka mengkoleksi banyak informasi tentang obat herbal dengan semua formula terkandung sudah uji klinis. Pengobatan herbal di Cina telah banyak dilakukan beberapa abad lalu. Teknik farmasi dalam pengobatan herbal Cina sendiri memiliki beberapa dosis khusus. Seperti menggunakan rebusan tanaman herbal, salep, cairan injeksi, hingga obat gosok.

Di India, Indian Herbal Medicine (IHM) memiliki koleksi tanaman herbal sebanyak kurang lebih 45 ribu. Tanaman-tanaman tersebut telah teridentifikasi sesuai dengan aktivitas dan bentuk pengobatannya. Bentuk ketersediaan dan teknik farmasi di India dalam pengobatan herbal juga memiliki dosis dan teknik formula khusus. Seperti tanaman dibuat menjadi susu atau jus untuk diminum, minyak esensial. Atau bisa menggunakan formulasi fermentasi biomedikal.

Kemudian di negeri Arab, Arabic Herbal Medicine (AHM) memiliki prestasi di bidang farmasi dan kedokteran. Nampaknya, Arab akan menjadi cikal bakal dari pengembangan industri modern dan kedokteran modern. Bahkan prestasi farmasi Arab menjadikan industri farmasi modern  mampu menerbitkan buku tentang penggunaan obat tanaman. “AHM sendiri memperkenalkan sekitar 350 spesies tanaman baru sebagai tanaman herbal,” terang Alumni Doktor Sains.

Webinar Universitas Yarsi bekerjasama Persatuan Alumni Jerman (PAJ) mengangkat tema .Disease Prevention and Control In Indonesia : Early detection therapy, and herbal medicine.

Selain Dr. rer. nat Ikhwan Sudji, tampil pembicara lain Wakil Ketua Umum II PAJ, DR. rer.nat Ganden Supriyanto ( Bang Ganden )dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi,Prof. dr. Rika Yuliwulandari Ph.D., Sp. KKLP.

Tema webinar Universitas Yarsi dan PAJ ini termasuk masalah strategis tentu butuh dukungan pemerintah dan perguruan tinggi.

Menurut Bang Ganden , pemerintah harus membuka peluang paling besar bagi periset Indonesia untuk berkembang dengan cara menyediakan dana riset memadai. Kepada UY khususnya fakultas kedokteran dan fakultas pendukung diharapkan mengembangkan test kit diagnostik sendiri, karena pada dasarnya Indonesia sudah mampu melakukannya.

Sependapat dengan Bang Ganden , Prof Rika menambahkan kita perlu membuat kit sendiri. Yarsi  sudah mulai membuat kit farmakogenomik sendiri agar pemeriksaan genetic menjadi lebih murah dan mudah. Selanjutnya perlu digalakkan biobank. Penelitian genetik  dan dilakukan upaya lebih serius  untuk kepentingan masyarakat Indonesia. “Kerjasama dalam dan luar negeri dapat dimanfaatkan untuk capacity building , support alat advance technology, fund raising dan networking,” tutup Prof Rika

 Penulis  : Anggun, Nisa, Dimas

Leave a Reply

Your email address will not be published.