Nyawa Masa Depan Bangsa, Pendidikan Harus Bermutu

Pendidikan itu nyawa segala-galanya bagi masa depan bangsa.  Pendidikan juga sebagi roh dari kehidupan bangsa  dan pilar membangun bangsa. “Banyak sekali harapan pada dunia pendidikan,” ujar Rektor Universitas Yarsi,Prof. Dr. Fasli  Jalal, Ph.D  pada webinar  Inspiranation with 13th SATU Indonesia Awards 2022 , kemarin

Menurut Prof.Fasli, Indonesia bersyukur  dengan  keterbatasan  ekonomi dan lainnya. akses pendidikan anak bangsa kita sudah sangat bagus. Indonesia sudah menyelesaikan wajib belajar sekolah dasar dan menengah pertama  hampir 100 persen  sudah belajar disekolah . Untuk sekolah menengah atas 80 persen  sudah belajar di sekolah, dan perguruan tinggi sudah 37 persen sudah belajar di perguruan tinggi(PT). 

Memang dalam jenjang PT, Indonesia agak tertinggal, ini serupa pada pendidikan usia dini. Kini saatnya Indonesia  harus berpacu dalam pendidikan usia dini dan pendidikan tinggi. Bukan hanya jenjangnya tetapi  mutunya. 

“Untuk bisa menjadi nyawa masa depan bangsa, pendidikannya harus bermutu,” tegas Guru Besar Universitas Negeri Jakarta. 

Alumnus Cornell University  mengakui, kualitas pendidikan belum bisa diharapkan. meskipun pendidikannya sudah menempuh 12 tahun, tapi rata-ratanya baru setara pada 9,5tahun. Kondisi ini bisa menjadi beban di perguruan tinggi dan akhir berpengaruh pada daya saing sehingga  semua itu menjadi kendala

Kemajuan Indonesia tidak cukup pada akses saja, tetapi pada peningkatan mutu. Meningkatkan mutu pendidikan harus  menjadi sasaran bersama. Pendidikan bermutu menjadi nyawa masa depan bangsa

“Kini pendidikan bermutu harus datang dari anak-anak muda,” seru Wakil Menteri Pendidikan tahun 2010. 

Mereka merasa muda  harus bisa memberikan pendidikan bermutu yaitu pendidikan formal non formal dan pendidikan informal berbasis budaya. “Caranya Anak muda bisa menyebarluaskan konten-konten pendidikan  dengan berbagai bentuk,” terang Prof. Fasli.

Prof.Fasli sangat bangga dengan Penerima Apresiasi 12th SATU Indonesia Awards 2021 Bidang Pendidikan Achmad Irfandi.  

Pemuda Irfandi bukanlah seorang guru, melainkan seorang anak muda menginisiasi sebuah kampung di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo menjadi Kampung Lali Gadget. 

Melalui kampung yang diciptakan bersama rekan-rekannya ini, ia membantu Generasi muda setempat melawan kecanduan gadget dengan cara mengenalkan permainan tradisional.

Pendidikan dapat menuntun kita menjadi bangsa maju. Semua itu ada di tangan kalian para generasi muda yang mampu mengubahnya.Irfandi bisa menjadi contoh anak muda membangun pendidikan bekualitas  berbasis budaya,”seru Prof.Fasli

Selain Prof Fasli, Irfandi juga menjadi pembicara webinar  bertema Pendidikan Nyawa Masa Depan Bangsa.  

Irfandi menerangkan, bersama teman-teman mendirikan Kampung Lali Gadget sebagai daya tawar anak-anak  mengimbangi kecanduan atau dominasi gadget sehingga anak-anak lebih punya pilihan untuk bermain. 

Permainan tradisional dikenalkan lebih mendidik karakter anak-anak daripada bermain game online”, ujar  Irfandi.

Selain Prof.Fasli dan Irfandi, webinar di gelar PT.Astra International,Tbk  juga menampilkan pembicara Pekerja Seni, Fauziah Shahab (Zeezee Shahab)   

Zeezee Sahab mengatakan,untuk membangun masa depan bangsa harus lewat pendidikan.  melahirkan pendidikan bermutu, harus mengetahui passion dan paham apa yang disuka.” Passion itu melakukan sesuatu sesuai motivasi, keinginan dan anttusiasme,” terangnya

Selanjutnya Zeezee bercerita tentang dirinya. Pendidikan sarjana hukumnya diselesaikan selama tujuh tahun dan penulisan  skripsi dibantu oleh suami. Ini bukti pendidikan  hukum bukan passion saya.

Dalam menempuh pendidikan master, semula ingin belajar notariat. Namun suami menyarankan ke pendidikan seni. Suami melihat passion Zeezee ada dibidang seni. Akhirnya  banting setir ke bidang seni. Ternyata betul seni menjadi Passion. Buktinya pendidikan  master diselesaikan selama  1,5 tahun , dalam kondisi sudah punya anak satu,”kisahnya

Menurut Zeezee passion itu harus dicari dan ditentukan dari sekarang, sehingga mendapatkan sesuatu luar biasa. 

Segala kemajuan suatu negara tergantung pada pendidikannya. Alangkah mulia jika kita tidak hanya fokus pada pendidikan masing-masing tapi bisa berkontribusi positif seperti dilakukan  Irfandi,” tutup Zeezee 

Tahun ini Astra kembali menggelar 13th SATU Indonesia Awards 2022. Penerima apresiasi tingkat nasional akan mendapatkan dana bantuan kegiatan sebesar Rp65 juta serta pembinaan kegiatan. Selain itu, Astra juga memberikan apresiasi di tingkat provinsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.