Siswa PAUD Bisa Berprestasi, Asalkan ………

Dizaman bergelimangan pendapat dan pemikiran cemerlang yang menjamah dunia pendidikan di negeri ini, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tidak mau ketinggalan. Lewat Program Studi Doktor PAUD Pascasarjana turut memberikan pencerahan. Kali ini fokus sumbangannya pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dikemas dalam diskusi, Dampak Pandemi Covid-19 pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Kesiapan Menghadapi Pembelajaran di Masa Endemi.

Ketua umum Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi),Prof.Dr Netti Herawati  menjadi pembicara mengatakan, banyak pendidik merasa sudah benar padahal salah. 

Contoh pelajar PAUD sudah diajarkan baca tulis dan hitung, padahal itu belum waktunya belajar dan  tidak sesuai kebutuhan anak. Semestinya pola pendidikan PAUD menerapkan  pendidikan sesuai kebutuhannya seperti gerak  bukan menitik beratkan pengajaran baca tulis hitung. 

Titik berat pendidikan PAUD  adalah pola bermain terarah dan bersosialisasi.” Akhirnya muncul pernyataan Schooling without learning,” ujar  Guru Besar Universitas Riau.

Terkait prestasi , siswa PAUD bisa berprestasi, asalkan pahami dulu penentu prestasi  siswa PAUD. Adapun penentunya itu Schools (sekolah) , Home (tempat tinggal) , Peers (teman sebaya) kesemuanya diukur masing-masing berniai tujuh persen. Kemudian  Student Characteristic ( karakter pelajar) bernilai 49  persen dan Teachers (guru pengajar) bernilai 30 persen.

 “Perlu diingat karakter pembelajaran PAUD sangat berbeda dengan lainnya, begitu pula karakteristik guru PAUD berbeda dengan guru lainnya,”Tutur Ibu berhijab ini.  

Pada Diskusi virtual ini Alumnus Master Institut Pertanian Bogor(IPB) juga memaparkan honor guru PAUD perbulan dalam rupiah. Mulai kisaran tidak berhonor hingga 250 ribu, 250 hingga 500 ribu, 500 ribu hingga 750 ribu, diatas 750 ribu. 

“ Honor guru PAUD sebesar itu, bisakah siswa PAUD berprestasi ,”tanya Prof Netti.

Menurut Alumnus Doktor IPB agar PAUD berprestasi jangan fokus pada pembangunan dan perbaikan sarana saja.

Dalam diskusi vitual itu UNJ ini ,selain Prof Netti,  ditampilkan  juga sebagai pembicara, Dosen Doktoral PAUD Program Doktoral UNJ , Dr.Asep  Supena, Perwakilan Yayasan Tanoto, Eddy Hendry serta Perwakilan Direktorat pendidikan PAUD Kementerian Pendidikan dan Budaya, Lestari,K.

Suksesnya Webinar ini selain tampilnya para pembicara hebat, juga karena moderatornya kapabel,cakap , komunikatif bisa mencairkan suasana diskusi dan juga seorang Guru besar UNJ  serta Rektor Universitas Yarsi, Prof .dr.Fasli Jalal,Ph.D .

Leave a Reply

Your email address will not be published.