<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>M. &#8211; Universitas YARSI</title>
	<atom:link href="https://www.yarsi.ac.id/author/fahad/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.yarsi.ac.id</link>
	<description>Smart Campus That You Can Rely On</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Apr 2026 08:09:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2025/02/cropped-YARSI-KOTAK-e1739161183276-32x32.png</url>
	<title>M. &#8211; Universitas YARSI</title>
	<link>https://www.yarsi.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Delapan hal TB &#038; DM, di Tambora</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/delapan-hal-tb-dm-di-tambora</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 08:09:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24089</guid>

					<description><![CDATA[Pada 23 April 2026 saya kembali ceramah tuberkulosis langsung di lapangan, kali ini di Puskesmas Tambora Jakarta Barat. Sebagaimana biasa maka para Ibu Kader yang hadir amat bersemangat, dan mengajukan [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Pada 23 April 2026 saya kembali ceramah tuberkulosis langsung di lapangan, kali ini di Puskesmas Tambora Jakarta Barat. Sebagaimana biasa maka para Ibu Kader yang hadir amat bersemangat, dan mengajukan berbagai pertanyaan yang salah satunya tentang tuberkulosis dan Diabetes Mellitus (DM) atau yang kita kenal dengan sakit gula.</div>
<div></div>
<div>Nah, menurut WHO maka risiko mendapat TB memang meningkat pada pasien DM. Sedikitnya ada delapan hal tentang TB dan DM ini. Pertama, prevalensi DM dunia diperkirakan akan meningkat 50% antara tahun 2019 ke 2045, bahkan angka median peningkatannya dapat sampai 99% pada negara dengan beban TB yang tinggi (“high burden of TB”). Ke dua, data 2023 menunjukkan bahwa sekitar 380.000 kasus baru TB di dunia ternyata dipicu oleh DM. Ke tiga, data ilmiah dalam bentuk  “systematic review” melaporkan bahwa di tahun 2019 ada 15.3% pasien TB yang juga ada DM, sementara angka DM pada masyarakat umum adalah 9,3%, jadi jelas lebih tinggi DMnya pada masyarakat yang TB. Ke empat, di dunia pada 2023 ada sekitar  1,65 juta pasien TB yang juga harus mendapat penanganan untuk sakit DM nya, jadi penanganan dua penyakit sekaligus yang juga saya bahas pada ceramah di Puskesmas Tambora pada Ibu-Ibu kader.</div>
<div></div>
<div>Ke lima, salah satu penelitian menyebutkan peningkatan risiko dapat TB adalah 1,9 kali pada pasien DM, artinya mereka yang ada DM risikonya untuk sakit TB hampir dua kali lipat lebih tinggi dari yang tidak DM. Kalau jenis DM nya lebih spesifik maka salah penelitian lain menemukan bahwa ada peningkatan risiko sampai 4,2 kali mendapat TB pada pasien DM tipe 1. Ke enam, data lain yang dikutip WHO juga menyebutkan bahwa keadaan DM yang lebih lama diidap dan juga kadar gula darah yang lebih tinggi akan punya risiko jauh lebih besar untuk mendapat TB.</div>
<div></div>
<div>Ke tujuh, adanya DM juga ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko untuk terjadinya resistensi TB dalam bentuk “multidrug-resistant TB &#8211; MDR-TB”, artinya penanganan TB nya jadi lebih sulit, obat lebih lama dan angka kesembuhan lebih rendah. Ke delapan, pasien dengan TB dan DM  juga menunjukkan peningkatan risiko kekambuhan penyakit TB nya dan juga kematian akibat TB, dibanding pasien TB yang tidak menderita DM.</div>
<div></div>
<div>Saya selama ini bersyukur dapat mengikuti berbagai pertemuan internasional, tetapi saya selalu “menikmati” untuk dapat bertemu langsung dengan masyarakat di lapangan, seperti di Puskesmas Tambora kali ini, juga di Puskesmas Ciracas beberapa hari yang lalu, dan juga di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Planet Senen beberapa hari sebelumnya pula, serta rencananya di acara Puskesmas Cilandak minggu depan, semua dalam rangka Hari TB sedunia 2026.</div>
<div></div>
<div>&#8212;</div>
<div></div>
<div><strong>Prof Tjandra Yoga Aditama</strong></div>
<div>Direktur Pascasarjana Universitas YARSI</div>
<div>Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)</div>
<div>Dewan Penasehat, Stop TB Partnership Indonesia (STPI)</div>
<div>Badan Pengawas, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membaca Rapor Merah Outlook Peringkat Kredit Indonesia</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/membaca-rapor-merah-outlook-peringkat-kredit-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 04:57:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24086</guid>

					<description><![CDATA[REVISI prospek negatif dari Moody’s dan Fitch serta hasil survei LPEM UI merupakan peringatan keras atas risiko ekspansi fiskal program populis seperti MBG yang berpotensi mengancam ambang batas defisit 3 [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>REVISI prospek negatif dari Moody’s dan Fitch serta hasil survei LPEM UI merupakan peringatan keras atas risiko ekspansi fiskal program populis seperti MBG yang berpotensi mengancam ambang batas defisit 3 persen.</p>
<p>Pemerintah wajib terus mengedepankan disiplin anggaran dan kepastian hukum daripada sekadar populisme jangka pendek demi mempertahankan peringkat investasi, meminimalkan biaya utang, serta menjamin keberlanjutan fiskal yang sehat di tengah gejolak geopolitik.</p>
<p>Bulan-bulan awal 2026 menjadi periode yang cukup menegangkan bagi pengelola keuangan negara di Lapangan Banteng. Dua lembaga pemeringkat internasional ternama, Moody’s dan Fitch, secara beruntun mengubah prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.</p>
<p>Meski peringkat sovereign credit kita masih bertahan di level Baa2/BBB, revisi prospek ini adalah pesan jelas dari pasar keuangan global: prediktabilitas kebijakan kita sedang dipertanyakan.</p>
<p>Ini bukan sekadar urusan teknis para ekonom, melainkan tentang berapa mahal bunga utang yang harus dibayar rakyat di masa depan. Jika peringkat ini turun, maka ongkos surat utang kita akan melambung, menyedot porsi belanja yang seharusnya untuk sekolah dan rumah sakit.</p>
<p>Sorotan utama kedua lembaga ini tertuju pada rencana ekspansi fiskal yang ambisius. Fokus pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% melalui program sosial berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memicu banyak kekhawatiran akan keberlanjutan fiskal.</p>
<p>Fitch secara spesifik mencatat adanya risiko dari rencana peninjauan UU Keuangan Negara yang bisa melonggarkan batas &#8220;suci&#8221; defisit 3% dari PDB.</p>
<p>Bagi investor, batas 3% ini bukan sekadar angka administratif; ia adalah jangkar kepercayaan yang telah menjaga kredibilitas Indonesia pasca-krisis 1998. Melonggarkannya tanpa alasan darurat yang jelas akan dianggap sebagai langkah mundur dalam tata kelola keuangan.</p>
<p>Hasil Survei Ahli Ekonomi LPEM UI Semester I-2026 terhadap 85 ekonom memperkuat kekhawatiran ini. Konsensus para ahli menunjukkan tren persepsi negatif yang belum berbalik selama 18 bulan terakhir. Rata-rata respons yang berada di zona negatif mencerminkan kegelisahan akan stagnasi yang justru dibalas dengan kebijakan belanja ekspansif, namun belum tentu produktif dalam jangka pendek.</p>
<p>Masalahnya, ketika belanja negara tumbuh signifikan di awal tahun, rasio penerimaan negara diperkirakan masih akan tertahan akibat kebijakan yang bersifat kontraktif pada sisi pendapatan, seperti pembatalan kenaikan PPN. Ketimpangan ini menciptakan lubang fiskal yang harus ditutup dengan utang baru.</p>
<p>Ketidakpastian ini diperparah oleh dinamika global. Dengan Rupiah yang melemah ke level di atas Rp17.000, beban pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri kita otomatis membengkak. Data menunjukkan bahwa rasio debt service (beban utang) sudah melampaui angka 40% dari penerimaan negara.</p>
<p>Ini adalah angka yang sangat menantang karena mengurangi ruang fiskal untuk membiayai infrastruktur dasar dan transformasi ekonomi yang lebih dalam. Jika efektivitas tata kelola pemerintahan menurun dan prediktabilitas kebijakan tergerus, maka stabilitas makroekonomi yang menjadi kebanggaan kita selama ini bisa goyah.</p>
<p>Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh sekadar bersikap defensif atau menganggap revisi outlook ini sebagai bentuk ketidakadilan internasional.</p>
<p>Rekomendasi konkretnya adalah: pertama, pemerintah harus memberikan kepastian hukum yang mutlak bahwa batas defisit 3% tetap menjadi benteng pertahanan fiskal. Ambisi pertumbuhan 8% harus dicapai melalui peningkatan efisiensi belanja dan perbaikan iklim investasi, bukan melalui pompa fiskal yang berlebihan.</p>
<p>Kedua, setiap program besar seperti MBG harus disertai dengan peta jalan pembiayaan yang transparan dan kredibel, misalnya melalui optimalisasi pajak digital atau penutupan kebocoran anggaran, bukan sekadar menambah beban utang.</p>
<p>Selain itu, sinergi antara Kementerian Keuangan dan lembaga baru seperti Danantara harus dikelola dengan sangat hati-hati agar tidak menciptakan kewajiban kontinjensi (contingent liabilities) yang tidak tercatat di APBN.</p>
<p>Transparansi adalah mata uang utama dalam menjaga kepercayaan investor. Kita harus belajar dari negara tetangga yang terjebak dalam krisis utang akibat ambisi infrastruktur yang tidak terukur dan transparansi yang lemah.</p>
<p>Kita harus ingat bahwa fundamental ekonomi kita, seperti kekayaan sumber daya alam dan konsumsi domestik yang besar, masih diakui solid oleh lembaga pemeringkat. Namun, potensi hanyalah potensi jika tidak dikelola dengan disiplin kebijakan yang pruden.</p>
<p>Menjaga peringkat investasi bukan tentang menyenangkan Moody&#8217;s atau Fitch, melainkan tentang menjaga martabat dan kemandirian ekonomi bangsa agar tidak terjerembab dalam beban bunga utang yang mencekik generasi mendatang.</p>
<p>Disiplin fiskal adalah sabuk pengaman yang menjaga kita tetap selamat saat melaju kencang menuju cita-cita Indonesia Emas. rmol news logo article</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>PERDANA WAHYU SANTOSA</strong><br />
Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aulia Sabet Dokter Gigi Predikat Cumlaude, Tebar Tips Sukses</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/aulia-sabet-dokter-gigi-predikat-cumlaude-tebar-tips-sukses</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 04:55:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[FK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24083</guid>

					<description><![CDATA[Kemarin jantung dak dikduk, tapi kini terasa paling lega dan bahagia. Alhamdulillah perjuangan selama ini akhirnya buahkan hasil. Tidur lebih nyenyak dan lama, karena tugas atau ujian sudah finish . [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin jantung dak dikduk, tapi kini terasa paling lega dan bahagia. Alhamdulillah perjuangan selama ini akhirnya buahkan hasil. Tidur lebih nyenyak dan lama, karena tugas atau ujian sudah finish . Selera makan tidak terlalu berubah.. “Tetap doyan seperti biasa,” ujar drg Aulia Renita Iswandari (drg Aulia) dengan wajah berseri dan cerah</p>
<p>Aulia merupakan dokter gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Yarsi (FKGUY) menyabet nilai cumlaude program profesi dokter gigi.</p>
<p>Berbincang dengan drg Aulia sangat bersahaja , loyal menebar Langkah-langkah sukses dan penyampaiannya mudah dimengerti.</p>
<p>Menurut drg Aulia,  untuk meraih nilai tertinggi perlu tips sukses yaitu belajar. Tentunya belajar harus fokus, di kelas mendengarkan penjelasan dosen. Jadi ketika di rumah hanya mengulang atau menambah bacaan saja.</p>
<p>Selain itu istirahat dan olahraga cukup. Karena saat kuliah, praktikum atau ujian, performa maksimal dan badan harus fit.” Paling penting setelah belajar, tidak lupa doa dan tawakkal ,” tutur drg Aulia semula bercita-cita jadi dokter</p>
<p>Lebih jauh, belajar saat meraih sarjana kedokteran gigi (S.KG) dan profesi kedokteran gigi sedikit kali bedanya, tapi tantangannya berubah. Untuk meraih S.KG, fokusnya lebih menyesuaikan diri dengan sistem kuliah dan mempelajari dasar-dasar ilmu kedokteran gigi.</p>
<p>Sementara saat sudah lanjut ke jenjang pendidikan profesi dokter gigi (drg), tetap ada belajar teori tapi lebih fokus ke penerapan ilmu ke pasien langsung.</p>
<p>Drg Aulia mengatakan, tips agar belajar menjadi mudah adalah membaca atau mencari tahu dahulu kira-kira apa yang akan dipelajari sebelum perkuliahan</p>
<p>Tantangan belajar di kedokteran gigi banyak. Di awal hingga akhir kuliah .selain itu tentu pelajaran di fakultas kedokteran gigi( FKG) tidak lepas dari kesulitan. Masing-masing ada porsi sulitnya.”Solusinya banyak diskusi dengan dosen hingga,” terang drg Aulia</p>
<p>Selain itu belajar di FKG sangat perlu sekali mengatur waktu antara akademik dengan non akademik. Caranya menerapkan skala prioritas dan manajemen waktu yang baik.”Belajar dan kerjakan tugas tidak bisa ditinggal ,setelah selesai baru pindah ke kegiatan lain,” cakapnya.</p>
<p>Kuliah di FKG itu memang berat. Selain banyak teori , banyak pula keterampilan klinis juga harus dikuasai. “Kepada para junior jangan jadikan perkuliahan sebagai beban, semangat terus dan jangan lupa berdoa agar diberi kemudahan,” ingat drg Aulia .</p>
<p>Ditambahkannya, pekerjaan dokter gigi bukan cuma perbaiki gigi berlubang. “Tapi juga bisa memberi dampak besar buat rasa percaya diri dan kebahagiaan seseorang,” tutup drg Aulia (usman)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bermusik Bukan Hambatan Raih Dokter Rangking 1 se Indonesia, Anto dari FKUY Tebar Tips Sukses</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/bermusik-bukan-hambatan-raih-dokter-rangking-1-se-indonesia-anto-dari-fkuy-tebar-tips-sukses</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 04:49:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[FK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24080</guid>

					<description><![CDATA[Tekun dan melakukan eveluasi setiap kali belajar mengantarkan Anto Wahyudin mahasiswa  Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi (FKUY) menjadi dokter. Hasilnya luar biasa,saat ujian kompetensi mahasiswa program profesi dokter (UKMPPD) dan computer [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tekun dan melakukan eveluasi setiap kali belajar mengantarkan Anto Wahyudin mahasiswa  Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi (FKUY) menjadi dokter. Hasilnya luar biasa,saat ujian kompetensi mahasiswa program profesi dokter (UKMPPD) dan computer based tes(CBT) se Indonesia meraih rangking 1 tingkat nasional serta rangking 1 objective structured clinical examination(OSCE) se Universitas Yarsi.</p>
<p>Anto panggilan akrab Anto Wahyudin mengungkapkan,perasaan senang dan tidak menyangka meraih rangking 1. Dengan tekun saja tidak cukup, sebagai mahasiswa kedokteran harus ada upaya dan menggunakan skala prioritas antara kegiatan akademik dengan non akademik. Karena⁠ tuntutan belajar tinggi dan padatnya jam perkuliahan.  “Harus juga cermat dalam mengatur waktu,” ujar Anto dalam menebar tips sukses jadi dokter.</p>
<p>Lewat semua itu  Anto bisa belajar dengan berbagai sumber jika ada kesulitan belajar  .”Seperti Neurologi pelajaran paling sulit lewat berbagai sumber akhirnya bisa teratasi,” tutur Anto punya cita-cita jadi dokter sejak kecil</p>
<p>Meski sibuk belajar sebagai mahasiswa kedokteran, Anto mengaku dengan jeli manata waktu bisa menentukan skala prioritas, hobi bermain musik tetap terus dijalankan,. Latihan musik diadakan jam 4 sore, selesai kuliah saya langsung mengikuti latihan. Jika ternyata ada perkuliahan sore, maka teman-teman yang lain pasti memaklumi karena sudah beri kabar.</p>
<p>Disini perlu konsisten sama apa direncanakan belajar dan bermusik. “Ujungnya Tahun 2023 di group band Universitas Yarsi, saya ditunjuk menjadi Ketua dengan status tetap mahasiswa kedokteran ”cakap Anto juga drummer dan gitar.</p>
<p>Bisa menjadi dokter dengan prestasi gemilang bukti nyata semangat pantang menyerah. Selain dibutuhkan semangat ,tentu adanya dukungan orang tua. “⁠Capek dan sulit bukan harus menyerah,” imbuhnya.</p>
<p>Bermusik bukan hambatan jadi dokter dan raih rangking 1 se-Indonesia. Meski sudah jadi dokter, belajar belum berakhir  kedepan ingin jadi tenaga pendidik dan lanjut pendidikan lebih tinggi</p>
<p>Anto menegaskan, pekerjaan dokter itu pekerjaan berhubungan dengan nyawa seseorang, dimana dibutuhkan empati dan ketelitian yang tinggi. Jadi dokter berarti mengabdi kepada masyarakat, bangsa, agama, dan tentu juga kepada orang tua.</p>
<p>Ditambahkannya, selama kuliah di FKUY, selain itu belajar jadi dokter  juga belajar terkait bagaimana menjadi pribadi lebih mendengarkan keluhan pasien, lebih menghargai pendapat  dan keputusan orang lain serta bagaimana bekerja bersama dalam memberikan pelayanan.</p>
<p>“⁠Capek dan sulit bukan harus menyerah,” imbuh Anto yang siap mengabdi di daerah Tertinggal,Terdepan dan Terluar (usman),</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NGASO 2026: Ngopi Santai Perdana Bahas PENTAS Mahasiswa Dies Natalis ke-59 Universitas YARSI</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/ngaso-2026-ngopi-santai-perdana-bahas-pentas-mahasiswa-dies-natalis-ke-59-universitas-yarsi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 02:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kemahasiswaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24077</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, 17 April 2026 — Universitas YARSI melalui Pusat Kemahasiswaan, Karir, dan Alumni menyelenggarakan kegiatan NGASO (Ngopi Santai) bersama Organisasi Mahasiswa (Ormawa) sebagai agenda perdana tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Jakarta, 17 April 2026 — Universitas YARSI melalui Pusat Kemahasiswaan, Karir, dan Alumni menyelenggarakan kegiatan </span><b>NGASO (Ngopi Santai) bersama Organisasi Mahasiswa (Ormawa)</b><span style="font-weight: 400;"> sebagai agenda perdana tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Seminar Rektorat Universitas YARSI dan dihadiri oleh sekitar </span><b>40 peserta</b><span style="font-weight: 400;"> yang merupakan perwakilan Ormawa di lingkungan kampus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kegiatan diawali dengan sesi </span><b>perkenalan</b><span style="font-weight: 400;"> antara pihak Pusat Kemahasiswaan, Karir, dan Alumni dengan para pengurus Ormawa, sebagai upaya mempererat hubungan dan membangun komunikasi yang lebih efektif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selanjutnya, diskusi difokuskan pada rencana pelaksanaan </span><b>Pentas Mahasiswa (PENTAS)</b><span style="font-weight: 400;"> yang akan menjadi bagian dari rangkaian acara </span><b>Dies Natalis ke-59 Universitas YARSI</b><span style="font-weight: 400;">. Dalam forum ini, para peserta saling bertukar gagasan, menyampaikan konsep kegiatan, serta membahas peran aktif Ormawa dalam menyukseskan agenda tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Melalui suasana diskusi yang santai namun konstruktif, kegiatan NGASO diharapkan mampu menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara mahasiswa dan institusi. Selain itu, forum ini juga menjadi langkah awal dalam mempersiapkan rangkaian kegiatan Dies Natalis agar dapat berjalan dengan optimal dan melibatkan partisipasi aktif mahasiswa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kegiatan NGASO perdana ini mendapatkan respons positif dari peserta. Ke depan, program ini direncanakan akan dilaksanakan secara berkala sebagai sarana komunikasi yang terbuka, inspiratif, dan berkelanjutan di lingkungan Universitas YARSI.</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tujuh Aspek Kesehatan Perempuan di Hari Kartini</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/tujuh-aspek-kesehatan-perempuan-di-hari-kartini</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 09:01:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24075</guid>

					<description><![CDATA[Di hari Kartini 21 April ini mari kita lihat tujuh aspek kesehatan perempuan di dunia, sebagaimana yang disampaikan WHO. Walaupun ini memang data dunia dan buka data negara kita, tetapi [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di hari Kartini 21 April ini mari kita lihat tujuh aspek kesehatan perempuan di dunia, sebagaimana yang disampaikan WHO. Walaupun ini memang data dunia dan buka data negara kita, tetapi tentu kita dapat mengambil pelajaran dari padanya. Pertama, data WHO per tanggal 7 April 2025 menunjukkan bahwa di dunia di tahun 2023 setiap hari ada lebih dari 700 perempuan meninggal berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran, yang seharusnya dapat dicegah. Ke dua, kematian maternal di dunia terjadi hampir setiap dua menit sekali.</p>
<p>Ke tiga, pada April 2024 WHO menyampaikan bahwa di tahun 2019 diperkirakan terjadi 21 juta kehamilan pada remaja perempuan berusia 15–19 tahun, utamanya terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah (“LMICs”). Sekitar 50% kehamilan ini sebenarnya tidak direncanakan. Tentu kalau Ibunya masih terlalu muda maka akan berhadapan dengan  berbagai masalah kesehatan dalam kehamilan, kelahiran dan bayinya. Ke, empat, WHO menyebutkan bahwa pemberian pelayanan oleh petugas kesehatan yang profesional, sejak kehamilan sampai  proses kelahiran- akan dapat menyelamatkan nyawa para Ibu dan bayinya. Jadi, peran petugas kesehatan di lapangan adalah sangat penting, tentunya juga di negara kita. Semoga para petugas kesehatan kita dapat terus memberi pelayanan kesehatan bagi rakyat kita, dan di sisi lain maka kehidupan, kesejahteraan dan keamanan kerja para petugas kesehatan dan keluarganya di lapangan juga harus jadi perhatian pemerintah pula</p>
<p>Ke lima. antara 2000 sampai 2023 maka ada penurunan angka rasio kematian maternal (“maternal mortality ratio – MMR”) sebesar 40%. Data dunia tahun 2023 menunjukkan bahwa angka kelahiran pada remaja berusia 10–14 tahun diperkirakan dapat sampai 1,5 per 1000 wanita. Ke enam, WHO pada Maret 2024 menyampaikan aspek kekerasan pada perempuan di dunia.. Publikasi WHO memperkirakan bahwa di dunia ada sekitar 1 dari 3 (30%) kaum perempuan di dunia yang dapat saja pernah menjadi subyek kekerasan fisik atau sexual selama hidupnya, sesuatu yang menyedihkan dan harus dihentikan.</p>
<p>Ke tujuh, harus disadari bahwa upaya peningkatan kesehatan kaum perempuan adalah kegiatan mendasar untuk mencapai pelayanan kesehatan universal (“universal health coverage”), kesetaraan kesehatan (“health equity”)  dan kesetaraan gender. Pelayanan kesehatan perempuan harus dilakukan secara menyeluruh (“comprehensive”), dengan hak kesetaraan, mempertimbangkan aspek kehidupan perempuan,  mencakup kesehatan fisik dan mental perempuan sepanjang jalur kehidupannya, “across the entire life course”.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p><strong>Prof Tjandra Yoga Aditama</strong><br />
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia<br />
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes<br />
Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 &#8211; PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>AI Literacy Seminar at Universitas YARSI: Preparing the Next Generation to Think in the Age of Artificial Intelligence</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/ai-literacy-seminar-at-universitas-yarsi-preparing-the-next-generation-to-think-in-the-age-of-artificial-intelligence</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 02:10:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SDGs]]></category>
		<category><![CDATA[SDGs-25-17]]></category>
		<category><![CDATA[SDGs-25-4]]></category>
		<category><![CDATA[SDGs-25-9]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24069</guid>

					<description><![CDATA[The rapid and widespread adoption of artificial intelligence among students and educators has given rise to a critical concern that can no longer be overlooked the gradual erosion of independent [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>The rapid and widespread adoption of artificial intelligence among students and educators has given rise to a critical concern that can no longer be overlooked the gradual erosion of independent thinking and cognitive capacity. It is precisely this urgency that drove the Faculty of Information Technology (FTI) at Universitas YARSI to host an AI-Based Information Literacy Seminar on April 6, 2026, bringing together students and teachers from SMAN 72 Jakarta. The event featured two prominent experts: Dr. Ummi Azizah Rachmawati, Dean of the Faculty of Information Technology at Universitas YARSI, and Prof. James Swart, Professor of Engineering from Central University of Technology, South Africa. Both speakers underscored a growing danger and that uncritical reliance on AI can lead to what is termed cognitive debt, a long-term decline in critical thinking skills, and even cognitive surrender, where users passively accept AI-generated information without question. Prof. James further highlighted that passive AI use can reduce neural activity by as much as 47 percent and weaken mental engagement in the learning process, signaling that the stakes of AI illiteracy extend well beyond academic performance and into the fundamental development of human cognition.</p>
<p>This seminar directly and substantively aligns with SDG 4: Quality Education, which calls for inclusive, equitable, and quality education that fosters lifelong learning for all. By equipping students and educators with both technical and ethical AI literacy including the practical CIAO (Chandra Interactive Analysis of Observations) framework that guides learners to understand a task, explore AI as an initial tool, formulate responses in their own words, and only then use AI to refine their output the initiative actively promotes the kind of higher-order thinking, creativity, and human agency that quality education demands. Beyond SDG 4, the seminar also resonates with SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure, by fostering responsible and human-centered innovation in the educational use of emerging technologies, and with SDG 17: Partnerships for the Goals, through its cross-institutional and international collaboration between Universitas YARSI and Central University of Technology, South Africa demonstrating that building AI-resilient generations is a shared global responsibility that transcends borders.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TB Education in Pasar Senen: Building Collective Awareness as the Foundation for Tuberculosis Control</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/tb-education-in-pasar-senen-building-collective-awareness-as-the-foundation-for-tuberculosis-control</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 02:09:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SDGs]]></category>
		<category><![CDATA[SDGs-26-17]]></category>
		<category><![CDATA[SDGs-26-3]]></category>
		<category><![CDATA[SDGs-26-4]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24066</guid>

					<description><![CDATA[Tuberculosis (TB) remains one of the most pressing public health challenges in Indonesia, with thousands of new cases recorded each year — including more than 21,000 cases in Jakarta alone [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tuberculosis (TB) remains one of the most pressing public health challenges in Indonesia, with thousands of new cases recorded each year — including more than 21,000 cases in Jakarta alone between January and May 2025. Against this alarming backdrop, a TB education initiative organized by medical students from the Asian Medical Students&#8217; Association (AMSA) of the Faculty of Medicine, Universitas Indonesia, held at the RPTRA Pasar Senen, Central Jakarta, on April 11, 2026, stands as a timely and meaningful response to this ongoing crisis. Featuring Prof. Tjandra Yoga Aditama as the keynote speaker, the event reached community members across all age groups from children to an 88-year-old elder delivering essential knowledge on TB transmission, diagnosis, treatment protocols, and the critical dangers of drug resistance resulting from incomplete adherence to Anti-Tuberculosis Drug (OAT) regimens. The remarkable enthusiasm displayed by participants, evident in the lively question-and-answer sessions covering topics from handwashing practices to vaccine efficacy and dietary guidance, powerfully demonstrates that community-based health education is not merely complementary to clinical intervention it is indispensable to breaking the chain of TB transmission at its very roots.</p>
<p>This TB education initiative aligns directly and substantively with <strong>SDG 3: Good Health and Well-Being</strong>. Empowering communities with accurate knowledge about TB prevention, early detection, and treatment compliance represents a vital upstream intervention, recognizing that the success of TB control depends not solely on healthcare access but equally on informed and active community participation. Beyond SDG 3, this initiative is also strongly connected to <strong>SDG 4: Quality Education</strong>, as reflected in its inclusive, non-formal educational approach that reached diverse age groups within a public space, making health literacy accessible regardless of formal educational background. Furthermore, the collaborative model between a higher education institution, a domain expert, and the local community exemplifies the spirit of <strong>SDG 17: Partnerships for the Goals</strong> demonstrating that sustainable health outcomes are best achieved through cross-sector cooperation and shared commitment to the well-being of all.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Campak, dari Persia ke Amerika dan Indonesia</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/campak-dari-persia-ke-amerika-dan-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 09:30:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24064</guid>

					<description><![CDATA[Pada 20 April 2026 saya menjadi pembicara pada Webinar &#8220;Measles Awareness: Recognizing the Risks and Preventing Complication&#8221; yang diselenggarakan oleh RS YARSI Jakarta. Selain yang sudah banyak dibahas tentang pentingnya [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada 20 April 2026 saya menjadi pembicara pada Webinar &#8220;Measles Awareness: Recognizing the Risks and Preventing Complication&#8221; yang diselenggarakan oleh RS YARSI Jakarta.</p>
<p>Selain yang sudah banyak dibahas tentang pentingnya vaksinasi, gejala dan komplikasi Campak maka saya bahas juga tiga hal lain.</p>
<p>Pertama, pakar Persia Muhammad Ibnu Zakariya al-Razi di abad 9 M adalah orang pertama yang menjelaskan beda antara Campak dengan Cacar. Kemudian, baru di tahun 1757 seorang pakar Francis Home menemukan bahwa penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme yang di temukan di darah.</p>
<p>Ke dua, pada Perang Dunia ke I maka Campak disebut menyebabkan kematian sekitar 3200 prajurit Amerika Serikat, dan tingkat perawatan di RS juga meningkat akibat komplikasi Campak berupa Pneumonia. Kita tahu bahwa kejadian Pneumonia juga merupakan penyebab kematian pada Campak di negara kita, menyedihkan sekali.</p>
<p>Ke tiga, laporan Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa angka Campak sudah menurun di April ini. Tetapi di sisi lain, berita media beberapa hari belakangan ini masih memberitakan kenaikan kasus Campak di beberapa daerah, seperti Cirebon, Kab Agam, Kab Wajo, DI Yogyakarta dll. Amerika Serikat juga menghadapi masalah Campak ini. Sepanjang 2026 sampai 16 April maka ada 1.748 kasus Campak terkonfirmasi di Amerika Serikat, dan sudah ada 19 KLB baru di negara itu, dimana 94% kasusnya adalah Campak terkonfirmasi. Akan bagus kalau sebagian besar kasus-kasus Campak di KLB negara kita juga sebaiknya di tetapkan status konfirmasinya secara laboratorium, jangan berdasar klinik semata.</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Prof Tjandra Yoga Aditama</strong><br />
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI<br />
/ Adjunct Professor Griffith University</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketergantungan AI Ancam Daya Pikir Siswa, Akademisi Ingatkan Risiko “Cognitive Debt”</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/ketergantungan-ai-ancam-daya-pikir-siswa-akademisi-ingatkan-risiko-cognitive-debt</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 09:18:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=24062</guid>

					<description><![CDATA[Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di kalangan pelajar mulai memunculkan kekhawatiran baru terkait penurunan kemampuan berpikir kritis. Akademisi mengingatkan, ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi menimbulkan apa yang disebut sebagai cognitive [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di kalangan pelajar mulai memunculkan kekhawatiran baru terkait penurunan kemampuan berpikir kritis. Akademisi mengingatkan, ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi menimbulkan apa yang disebut sebagai cognitive debt hingga “penyerahan kognitif”.</p>
<p>Hal ini mengemuka dalam workshop edukasi teknologi yang digelar Program Studi Teknik Informatika Universitas YARSI bersama siswa dan guru SMAN 72 Jakarta, belum lama ini.</p>
<p>Dekan Fakultas Teknologi Informasi Universitas YARSI, Ummi Azizah, menilai generasi muda perlu dibekali pemahaman yang lebih dalam terkait dampak penggunaan AI, tidak hanya dari sisi manfaat, tetapi juga risikonya.</p>
<p>“AI memang membuka banyak peluang, tetapi tanpa pemahaman yang tepat, ada potensi penurunan kualitas berpikir dan kemandirian belajar,” ujar Ummi.</p>
<p>Pakar pendidikan teknik dari Central University of Technology Afrika Selatan, Prof James Swart, menyoroti fenomena cognitive surrender, yakni kecenderungan pengguna menerima begitu saja informasi dari AI meskipun belum tentu benar.</p>
<p>Selain itu, ia juga mengingatkan adanya risiko cognitive debt, yaitu penurunan kemampuan berpikir kritis akibat ketergantungan jangka panjang terhadap AI.</p>
<p>“Penggunaan AI tanpa keterlibatan aktif dapat menurunkan aktivitas saraf hingga 47 persen dan melemahkan keterikatan mental dalam proses belajar,” kata James.</p>
<p>Menurut dia, AI seharusnya tidak menggantikan proses berpikir manusia, melainkan menjadi alat bantu. Ia mendorong pendekatan penggunaan AI yang tetap menempatkan manusia sebagai aktor utama dalam proses belajar.</p>
<p>Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah metode CIAO, yakni memahami kriteria tugas, memanfaatkan AI untuk eksplorasi awal, kemudian menyusun jawaban dengan kata-kata sendiri sebelum menggunakan AI sebagai alat penyempurna.</p>
<p>Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas kognitif siswa.</p>
<p>Fenomena ini juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dalam merumuskan batasan etika penggunaan AI di lingkungan sekolah. Guru dituntut menyesuaikan metode pembelajaran dan evaluasi agar tetap mendorong orisinalitas serta daya pikir kritis siswa di tengah kemudahan teknologi.</p>
<p>Di sisi lain, literasi AI yang tidak hanya teknis tetapi juga etis menjadi kunci agar pemanfaatan teknologi tidak justru melemahkan kualitas pembelajaran.</p>
<div class="row"  id="row-2126997533">

	<div id="col-2094041308" class="col medium-2 small-12 large-2"  >
				<div class="col-inner"  >
			
			
<p>Sumber:</p>
<a href="https://news.republika.co.id/berita/tdibwq522/ketergantungan-ai-ancam-daya-pikir-siswa-akademisi-ingatkan-risiko-cognitive-debt" class="button primary is-small expand" style="border-radius:5px;">
		<span>Lihat</span>
	</a>

		</div>
					</div>

	

	<div id="col-285465197" class="col medium-10 small-12 large-10"  >
				<div class="col-inner"  >
			
			
		</div>
					</div>

	
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
