<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Universitas YARSI</title>
	<atom:link href="https://www.yarsi.ac.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.yarsi.ac.id</link>
	<description>Smart Campus That You Can Rely On</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Sep 2026 08:58:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2025/02/cropped-YARSI-KOTAK-e1739161183276-32x32.png</url>
	<title>Universitas YARSI</title>
	<link>https://www.yarsi.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dokter Gigi Baru Teruslah Belajar dan Jangan Lupa Dalami Al-Qur’an</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/dokter-gigi-baru-teruslah-belajar-dan-jangan-lupa-dalami-al-quran?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dokter-gigi-baru-teruslah-belajar-dan-jangan-lupa-dalami-al-quran</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 08:58:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[FKG]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=29011</guid>

					<description><![CDATA[Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh lulusan dokter gigi baru atas pencapaian dan keberhasilannya  menyelesaikan pendidikan tahap profesi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Yarsi (FKG Yarsi). Begitu pula kepada keluarga telah [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh lulusan dokter gigi baru atas pencapaian dan keberhasilannya  menyelesaikan pendidikan tahap profesi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Yarsi (FKG Yarsi). Begitu pula kepada keluarga telah mendampingi proses pendidikan.</p>
<p>Rektor Universitas Yarsi, Prof.Dr.dr.Ratna Sitompul,Sp.M(K).,SubSp.I.I (Prof Ratna) menyatakan itu saat Baiat dan Pelepasan Dokter Gigi Muslim Batch III Tahun 2026, Selasa, 22 September 2026</p>
<p>Selanjutnya Prof Ratna berpesan, baiat merupakan ikrar memiliki makna penting bagi seorang dokter gigi Muslim.</p>
<p>Baiat menjadi pengingat bagi para lulusan untuk menjalankan profesinya dengan mengutamakan kepentingan pasien serta menjaga kerahasiaan informasi mengenai kondisi dan penyakit pasien. Hal tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab harus dijalankan saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.</p>
<p>Kemudian bagi para dokter gigi baru teruslah belajar, baik dalam bidang kedokteran gigi maupun ilmu agama. Para lulusan jangan lupa untuk terus mendalami Al-Qur’an dan menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Para lulusan membawa identitas khusus sebagai dokter gigi muslim yang tidak hanya mengandalkan keahlian klinis, tapi juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai etika, moral, serta ajaran Islam dalam menjalankan profesinya sehari-hari.</p>
<p>Lewat mimbar mimbar ini berpesan agar para dokter gigi baru senantiasa menjaga nama baik almamater, dan teruslah adaptif terhadap perkembangan ilmu kedokteran gigi modern. “Jangan lupa,harus siap mengabdi kepada Masyarakat,”ingat Prof Ratna.</p>
<p>Sependapat dengan Rektor Yarsi, Ketua Pembina Yayasan Yarsi, Prof.dr.Jurnalis Uddin, PAK mengatakan, jangan berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan profesi ini. Ilmu dan ketakwaan harus dapat dijalankan bersama serta memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.</p>
<p>Seperti biasa baiat Baiat Dokter Gigi Muslim dipimpin Dekan FKG Universitas YARSI, Dr. drg. RM. Sri Hananto Seno, Sp.BM, M.L bersama Wakil Dekan I dan Para lulusan mengikuti pembacaan baiat secara bersama-sama.( M1/Nur Ikhsan Fadillah)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Puskesmas ke Panggung Dunia: Menjadi Dokter yang Menyembuhkan Bumi</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/dari-puskesmas-ke-panggung-dunia-menjadi-dokter-yang-menyembuhkan-bumi?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dari-puskesmas-ke-panggung-dunia-menjadi-dokter-yang-menyembuhkan-bumi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 02:20:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=29008</guid>

					<description><![CDATA[Setiap kali saya berdiri di depan mahasiswa kedokteran atau kesehatan masyarakat yang baru saja diwisuda, saya selalu teringat pada diri saya sendiri lebih dari dua dekade lalu: seorang dokter muda [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap kali saya berdiri di depan mahasiswa kedokteran atau kesehatan masyarakat yang baru saja diwisuda, saya selalu teringat pada diri saya sendiri lebih dari dua dekade lalu: seorang dokter muda lulusan Universitas Padjadjaran yang mengawali kariernya bukan di rumah sakit besar berpendingin ruangan, melainkan sebagai Kepala Puskesmas. Saat itu saya tidak membayangkan bahwa jalan yang saya tempuh akan membawa saya berdiri di forum-forum kesehatan global, terlibat dalam penanganan wabah lintas benua, hingga menjadi bagian dari misi kemanusiaan di wilayah konflik. Yang saya tahu waktu itu hanya satu hal sederhana: bahwa kesehatan seseorang tidak pernah berdiri sendiri dari kesehatan lingkungan, masyarakat, dan sistem di sekitarnya.</p>
<p>Kepada Anda, para wisudawan YARSI 2026, saya ingin membagikan sebuah keyakinan yang saya pegang sepanjang perjalanan karier saya: menjadi dokter hari ini, dan terlebih di masa depan, bukan lagi sekadar menjadi klinisi yang menangani pasien satu per satu di ruang periksa. Dunia sedang berubah, dan profesi kita dituntut berubah bersamanya.</p>
<p><strong>Dunia Kesehatan yang Semakin Kompleks</strong></p>
<p>Kita hidup di era ketika ancaman kesehatan tidak lagi mengenal batas negara. Pandemi COVID-19 mengajarkan kita bahwa virus yang bermula dari satu pasar hewan di satu kota dapat melumpuhkan seluruh sistem kesehatan global dalam hitungan bulan. Namun COVID-19 hanyalah satu babak dari rangkaian panjang ancaman yang telah dan akan terus kita hadapi: flu babi (H1N1) yang pernah saya tangani langsung di lapangan, HIV/AIDS yang masih menjadi beban kesehatan masyarakat di banyak wilayah, resistensi antimikroba yang diam-diam mengancam efektivitas pengobatan modern, hingga penyakit-penyakit zoonosis baru yang muncul akibat kerusakan ekosistem dan perubahan tata guna lahan.</p>
<p>Di sisi lain, krisis iklim kini bukan lagi isu lingkungan semata, melainkan telah menjelma menjadi krisis kesehatan. Gelombang panas ekstrem, pergeseran pola penyebaran vektor penyakit seperti demam berdarah dan malaria, krisis pangan akibat perubahan iklim, hingga polusi udara yang setiap tahun merenggut jutaan nyawa—semua ini adalah medan tempur baru bagi tenaga kesehatan. Belum lagi konflik bersenjata yang saya saksikan sendiri dampaknya terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan, sebagaimana yang terjadi di Gaza, Palestina, tempat rumah sakit yang seharusnya menjadi ruang netral perlindungan kemanusiaan justru menjadi sasaran kehancuran.</p>
<p>Menghadapi kompleksitas ini, pendekatan kesehatan yang parsial dan sektoral sudah tidak lagi memadai. Kita membutuhkan cara pandang baru, yang dalam bahasa keilmuan global disebut <strong>One Health</strong> dan <strong>Planetary Health</strong>.</p>
<p><strong>One Health dan Planetary Health: Bukan Sekadar Jargon</strong></p>
<p>One Health mengajarkan kita bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan adalah satu kesatuan yang saling terhubung erat. Lebih dari 70 persen penyakit infeksi baru yang muncul pada manusia berasal dari hewan. Artinya, seorang epidemiolog yang baik tidak boleh hanya memahami tubuh manusia, tetapi juga harus memahami ekosistem peternakan, perdagangan satwa liar, sektor agromaritim, hingga kebijakan lingkungan.</p>
<p>Planetary Health membawa cara pandang ini selangkah lebih jauh: kesehatan manusia pada akhirnya bergantung sepenuhnya pada kesehatan sistem alam Bumi itu sendiri. Ketika kita membicarakan deforestasi, pencemaran laut, atau krisis air bersih, sesungguhnya kita sedang membicarakan kesehatan generasi mendatang.</p>
<p>Inilah mengapa saya percaya bahwa lulusan kedokteran dan kesehatan masyarakat hari ini perlu memiliki keberanian untuk keluar dari kotak profesi yang sempit. Anda boleh menjadi klinisi yang hebat di ruang praktik, namun jangan pernah berhenti di situ saja. Dunia membutuhkan dokter yang juga menjadi peneliti wabah, yang mampu membaca data epidemiologi dan menerjemahkannya menjadi kebijakan. Dunia membutuhkan dokter yang menjadi diplomat kesehatan, yang mampu duduk di meja perundingan internasional dan memperjuangkan kepentingan kesehatan bangsanya. Dan dunia membutuhkan dokter yang berani terjun ke garis depan kemanusiaan, di tempat-tempat yang paling sulit dijangkau sekalipun.</p>
<p><strong>Jejak yang Saya Tempuh</strong></p>
<p>Saya tidak menceritakan pengalaman saya untuk memamerkan pencapaian, melainkan untuk menunjukkan bahwa jalan ini dapat ditempuh oleh siapa saja yang mau memulai dari bawah dan terus belajar tanpa henti.</p>
<p>Perjalanan saya dimulai dari pelayanan primer di Puskesmas, tempat saya belajar bahwa kesehatan masyarakat dimulai dari hal-hal paling mendasar: air bersih, sanitasi, gizi, dan akses layanan. Dari sana saya melanjutkan pendidikan kesehatan masyarakat dan lingkungan di Griffith University, Australia, hingga akhirnya menyelesaikan studi doktoral di bidang keamanan kesehatan global (<em>global health security</em>), kepemimpinan, dan komunikasi risiko—sebuah kombinasi keilmuan yang mengajarkan saya bahwa mengendalikan wabah tidak cukup hanya dengan ilmu kedokteran, tetapi juga membutuhkan kemampuan memimpin dan berkomunikasi di tengah krisis.</p>
<p>Selama lebih dari dua dekade, saya berkesempatan terlibat dalam berbagai misi kemanusiaan dan kesehatan lintas negara: menjadi bagian dari tim teknis pembangunan rumah sakit di Gaza, Palestina, yang menjadi simbol solidaritas Indonesia terhadap saudara-saudara kita di Palestina; terlibat dalam pembangunan rumah sakit mata pasca-tragedi bom Bali sebagai bentuk pemulihan layanan kesehatan pasca-bencana; berkontribusi dalam pengembangan layanan kesehatan haji di Mekah bagi jamaah Indonesia; serta menjadi bagian dari upaya penyelamatan warga negara Indonesia dalam insiden kapal Mavi Marmara. Di ranah pengendalian wabah, saya turut serta menangani respons flu babi, HIV/AIDS, dan tentu saja COVID-19—pengalaman yang kemudian membawa saya menjadi salah satu epidemiolog Indonesia yang dipercaya memberikan analisis dan masukan kepada pemerintah, lembaga internasional seperti WHO dan UNICEF, serta media global.</p>
<p>Saya membagikan jejak ini bukan untuk menunjukkan seberapa jauh saya telah melangkah, melainkan untuk menegaskan satu hal: semua ini bermula dari keputusan sederhana untuk tidak puas hanya menjadi dokter di ruang praktik, dan keberanian untuk terus belajar—bukan hanya di dalam negeri, tetapi hingga ke mancanegara.</p>
<p><strong>Pesan untuk Wisudawan YARSI</strong></p>
<p>Kepada Anda yang hari ini mengenakan toga dan bersiap melangkah ke dunia profesional, saya ingin mengingatkan bahwa gelar yang Anda terima bukanlah garis akhir, melainkan gerbang awal. Dunia kesehatan masa depan membutuhkan dokter dan tenaga kesehatan yang berpikir lintas batas: lintas disiplin ilmu, lintas sektor, dan lintas negara. Ia membutuhkan Anda yang berani menjadi peneliti sekaligus praktisi, menjadi pemimpin sekaligus pelayan masyarakat, menjadi warga Indonesia sekaligus warga dunia yang peduli pada kesehatan planet ini secara utuh.</p>
<p>Jangan pernah membatasi diri Anda pada apa yang tampak di depan mata hari ini. Puskesmas kecil tempat Anda mungkin akan mengabdi pertama kali bisa menjadi titik awal perjalanan yang jauh lebih besar, sebagaimana yang saya alami sendiri.</p>
<p>Izinkan saya menutup tulisan ini dengan dua pesan yang selalu saya pegang sepanjang perjalanan profesional saya, dan saya titipkan kepada Anda semua:</p>
<p><em>&#8220;Ilmu kedokteran yang sejati tidak berhenti pada menyembuhkan satu pasien, tetapi terus tumbuh hingga mampu menyembuhkan masyarakat, bangsa, bahkan Bumi tempat kita semua bernaung.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Jangan pernah takut memulai dari tempat yang kecil, sebab dunia sering kali dibentuk oleh mereka yang berani belajar terus-menerus—dari klinik sederhana hingga meja perundingan dunia.&#8221;</em></p>
<p>Selamat menempuh perjalanan baru, para dokter dan tenaga kesehatan masa depan Indonesia. Bumi ini menunggu kontribusi Anda.</p>
<p>&#8212;&#8212;<br />
<strong>dr. Dicky Budiman, MScPH, PhD</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lima hal Influenza A dan tiga pengendaliannya</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/lima-hal-influenza-a-dan-tiga-pengendaliannya?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=lima-hal-influenza-a-dan-tiga-pengendaliannya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 02:15:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=29005</guid>

					<description><![CDATA[Lima hal yang dapat disampaikan sehubungan peningkatan kasus Influenza A. Pertama, ada 4 jenis virus Influenza, yaitu A,B,C dan D. Yang A dan B serta sebagian C menyebabkan influenza ada [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Lima hal yang dapat disampaikan sehubungan peningkatan kasus Influenza A. Pertama, ada 4 jenis virus Influenza, yaitu A,B,C dan D. Yang A dan B serta sebagian C menyebabkan influenza ada manusia, yang D sejauh ini belum dilaporkan secara  ilmiah menyebabkan penyakit pada manusia.</div>
<div></div>
<div>Ke dua, influenza yang kita temui sehari-hari memang utamanya adalah yang disebabkan oleh virus influenza A, yang dominan adalah Influenza A, jadi ini bukan hal yang baru. Ke tiga, memang dari waktu ke waktu mungkin saja ada peningkatan kasus influenza, karena itu disebut “seasonal flu”, atau “flu musiman”.</div>
<div></div>
<div>Ke empat, nomenklatur influenza A  disebut berdasar kombinasi dari “H” (Hemaglutanin) yang ada 18 jenis, dari H1 ampai H18, dengan “N” (Neurominidase), yang ada 11 jenisnya dari N1 sampai N11. Jadi bisa H1N1 sampai H18 N11, ada ratusan kombinasi jenisnya.  Ke lima, tentu saja ada kemungkinan virus influenza bermutasi. Contoh yang nyata adalah H1N1 yang sudah lama di kenal maka di tahun 2009 bermutasi dan menyebabkan pandemi, dan virusnya jadi diberi nama H1N1 (pdm-09), “pdm” dari kata pandemi dan “09” karena pandeminya waktu itu bermula dari tahun 2009.</div>
<div></div>
<div>Kini ada tiga hal yang perlu dilakukan. Ke satu, perlu diketahui adalah jenis H berapa dan N berapa yang sekarang sedang beredar, dan apakah sudah ada mutasi atau tidak, yang harus diperiksa dengan “whole genome sequencing”. Ke dua, kita perlu tahu penanganan kasus influenza. Sebagian besar kasus tidaklah berat dan dapat ditangani dengan istirahat dan pengobatan simtomatik sesuai gejala. Kalau kasusnya berat maka dapat diberikan obat anti viral seperti osetamivir, dan kalau memang memburuk -terutama pada kelompok risiko tinggi- perlu perawatan di rumah sakit. Juga tersedia vaksin influenza yang baik didapat oleh mereka yang masuk risiko tinggi. Ke tiga, kita anggota masyarakat perlu terus menjaga kesehatan, karena tubuh yang sehat akan menyebabkan daya tahan tubuh kita menjadi lebih kuat, termasuk dalam menghadapi influenza A ini.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>&#8212;-</div>
<div><strong>Prof Tjandra Yoga Aditama</strong></div>
<div>Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)</div>
<div>Direktur Pascasarjana Universitas YARSI</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>1500 Dokter Paru datang ke Padang</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/1500-dokter-paru-datang-ke-padang?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=1500-dokter-paru-datang-ke-padang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 02:11:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=29002</guid>

					<description><![CDATA[Konperensi Kerja (Konker) ke XVIII Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dibuka dengan resmi oleh Wakil Menteri Kesehatan RI, Dr Benyamin Paulus Octavianus pada 17 September 2026, bersama dengan Gubernur Sumatera Barat [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Konperensi Kerja (Konker) ke XVIII Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dibuka dengan resmi oleh Wakil Menteri Kesehatan RI, Dr Benyamin Paulus Octavianus pada 17 September 2026, bersama dengan Gubernur Sumatera Barat Buya H. Mahyeldi Ansharullah. Acara peresmian ditandai dengan penabuhan tiga gendang, yang utama ditabuh oleh WaMenKes, Gubernur dan Ketua Umum PDPI dan gendang ke dua dan ketiga ditabuh oleh beberapa teman lain dan saya ikut menabuhnya bersama Direktur  Utama RS M Jamil dan Dekan FK Universitas Andalas.</div>
<div></div>
<div>Saya bergabung di PDPI sejak lulus sebagai spesialis Paru di tahun 1987, dan menjadi Ketua Umum PDPI pada 1999, jadi sudah lama sekali. Setiap tahun PDPI ada kegiatan berskala nasional besar di berbagai daerah negara kita. Padang seingat saya juga sudah beberapa kali menjadi tuan rumah. Selain kegiatan ilmiah dan organisasi di KonKer XVIII Padang ini maka juga dilakukan pengabdian masyarakat langsung di lapangan dengan melakukan cek kesehatan paru yang comprehensive, dengan tenaga ahli dan alat yang mutakhir pula. Selain itu juga dilakukan acara sosial, seperti berbagai lomba yang diikuti Cabang Cabang PDPI dari Aceh sampai Papua dan juga diterima Walikota Padang di Rumah Gadang Baiturrahmah yang amat menawan, salah satu wujud kekayaan budaya Minangkabau yang mempesona.</div>
<div></div>
<div>Konker PDPI ke XVIII memang telah ditutup dengan resmi pada 19 September 2026 kemarin, dengan kenangan dan semangat yang dibawa pulang para peserta. Dengan hampir 2000 anggota (tepatnya 1986 dokter spesialis paru dan pernapasan) maka PDPI akan selalu memberikan darma baktinya bagi kesehatan bangsa kita.</div>
<div></div>
<div>&#8212;&#8211;</div>
<div><strong>Prof Tjandra Yoga Aditama</strong></div>
<div>Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI),  dari arena KonKer XVIII PDPI di Padang.</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>AMR, Pneumonia dan CAS-AVI</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/amr-pneumonia-dan-cas-avi?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=amr-pneumonia-dan-cas-avi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 02:10:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=28999</guid>

					<description><![CDATA[Saya menyampaikan presentasi ilmiah pada Konferensi Kerja Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Padang, 19 September 2026. Saya sampaikan lima hal. Pertama bahwa AMR (Antimicrobial Resistance) adalah masalah kesehatan dunia [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Saya menyampaikan presentasi ilmiah pada Konferensi Kerja Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Padang, 19 September 2026.</div>
<div></div>
<div>Saya sampaikan lima hal. Pertama bahwa AMR (Antimicrobial Resistance) adalah masalah kesehatan dunia yang penting, bahkan disebut sebagai &#8220;Silent Pandemic&#8221;. Ke dua, ada 3 jenis pneumonia, yaitu yang di masyarakat luas (Community Acquired Pneumonia &#8211; CAP, yang terjadi di Rumah Sakit (Hospital Acquired Pneumonia-HAP) dan yang terjadi sesudah pemakaian ventilator (Ventilator Acquired Pneumonia &#8211; VAP). Ke tiga, HAP dan VAP kini makin banyak yang di sebabkan oleh bakteri gram negatif yang sudah resisten.</div>
<div></div>
<div>Ke empat, obat Ceftazidime Avibactam  (CAS-AVI) merupakan gabungan antara Ceftazidime yang punya efek bakterisidal (membunuh bakteri) yang kuat, yang digabungkan dengan Avibactam yang berfungsi sebagai Beta Lactamase Inhibitor, artinya menangani resistensi yang terjadi. Ke lima, berbagai penelitian uji klinik di berbagai negara (bahkan yang bersifat meta analisis dan juga multi-center) menunjukkan bahwa Ceftazidime-Avibactam merupakan kombinasi yang baik untuk mengobati pneumonia berat di rumah sakit (HAP) dan yang berhubungan dengan ventilator (VAP) yang disebabkan oleh bakteri gram negatif yang resisten.</div>
<div></div>
<div>&#8212;&#8212;</div>
<div><strong>Prof Tjandra Yoga Aditama</strong></div>
<div>Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)</div>
<div>Dari Konferensi Kerja PDPI XVIII di Padang</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kampung Siaga TB di Gandaria Selatan</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/kampung-siaga-tb-di-gandaria-selatan?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kampung-siaga-tb-di-gandaria-selatan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 02:08:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=28996</guid>

					<description><![CDATA[Pada 15 September 2026 ini saya melakukan presentasi dan dialog tentang tuberkulosis (TB) dengan RW dan RT serta kader kesehatan di lingkungan Kelurahan Gandaria Selatan. Saya senang karena ruang aula [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Pada 15 September 2026 ini saya melakukan presentasi dan dialog tentang tuberkulosis (TB) dengan RW dan RT serta kader kesehatan di lingkungan Kelurahan Gandaria Selatan. Saya senang karena ruang aula Kelurahan penuh dihadiri peserta warga dalam acara yang dikemas oleh Puskesmas Pembantu Gandaria Selatan, dan saya juga membawa beberapa mahasiswa STIKES Fatmawati.  Seperti pengalaman saya sebelumnya maka warga yang hadir selalu amat antusias membahas tentang aspek kesehatan (dalam hal ini tuberkulosis). Ini merupakan salah satu modal dasar penting bagi pemerintah daerah dalam mensukseskan program kesehatan masyarakat di wilayahnya.</div>
<div></div>
<div>Secara interaktif saya jelaskan lima aspek tuberkulosis. Pertama tentang situasi epidemiologi dimana Indonesia adalah penyumbang kasus TB terbanyak ke dua di dunia. Ke dua saya bicarakan tentang penyebab tuberkulosis dan cara penularannya, termasuk penjelasan bahwa TB adalah penyakit menular langsung. Ke tiga saya diskusikan tentang bagaimana keluhan serta proses diagnosis tuberkulosis. Ke empat, yang dibahas adalah tentang pengobatan TB serta peran penting anggota masyarakat sebagai Pemantau Minum Obat (PMO). Ke lima, didiskusikan tentang Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), suatu kegiatan yang harus terus ditingkatkan di negara kita.</div>
<div></div>
<div>Kemudian saya membahas tentang tuberkulosis di China. Pada Global TB Report 2010 maka urutan penyumbang kasus TB di dunia adalah India, China, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia. Jadi China ada di peringkat ke dua dan Indonesia di peringkat ke lima. Nah,  Global TB Report 2025 situasinya menjadi terbalik, Indonesia penyumbang kasus TB terbesar ke dua di dunia sementara China berhasil turun menjadi peringkat ke empat. Salah satu kunci keberhasilan China adalah keterlibatan multi sektor dan partisipasi seluruh kelompok masyarakat (“whole society”).</div>
<div></div>
<div>Dalam kaitan ini saya menyambut baik dibentuk dan beroperasinya Kampung Siaga TB (KST) di Kelurahan Gandaria Selatan, seperti yang dilakukan di RW 4 dan RW 5, dan diharapkan juga makin aktif di RW-RW yang lain. Seperti diketahui, Kampung Siaga TB adalah program pemberdayaan masyarakat tingkat RW di Jakarta yang diinisiasi oleh Pemprov DKI untuk melakukan edukasi, deteksi dini, pelacakan kontak, dan pendampingan pengobatan pasien TB. Dari kacamata konsep dasar maka ini adalah bentuk nyata peran serta dan partisipasi aktif warga kota -dan juga “whole society”- dalam pengendalian tuberkulosis di lingkungan tempat tinggalnya. Hanya dengan kerja bersama seperti ini maka tuberkulosis dapat ditanggulangi dengan baik di negara kita, dan ini  perlu diwujudkan dan diimplementasikan secara nyata.</div>
<div></div>
<div>&#8212;&#8212;</div>
<div><strong>Prof Tjandra Yoga Aditama</strong></div>
<div>Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)</div>
<div>Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dinamika kepemimpinan WHO Asia Tenggara / SEARO</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/dinamika-kepemimpinan-who-asia-tenggara-searo?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dinamika-kepemimpinan-who-asia-tenggara-searo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 02:05:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=28993</guid>

					<description><![CDATA[Pada bulan November 2023 negara-negara anggota WHO Asia Tenggara (waktu itu Indonesia masih salah satu anggotanya) memilih Ms Saima Wazed sebagai pimpinan (Regional Director – RD) WHO South East Asia [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Pada bulan November 2023 negara-negara anggota WHO Asia Tenggara (waktu itu Indonesia masih salah satu anggotanya) memilih Ms Saima Wazed sebagai pimpinan (Regional Director – RD) WHO South East Asia Regional Office (SEARO). Kemudian pada Februari 2024 DirJen WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus secara resmi mengangkat Saima Wazed sebagai RD – SEARO. Ms Saima Wazed sudah lama dikenal kiprahnya di bidang autisme dan kesehatan mental, dan merupakan salah satu dari Panel Penasehat Pakar 25 Anggota Organisasi Kesehatan Dunia pada bidang kesehatan mental. Ia adalah putri dari mantan Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina.</div>
<div></div>
<div>Kemudian, seperti diketahui bahwa di tahun 2024 terjadi pergolakan di Bangladesh, yang pada akhirnya Sheikh Hasina mengakhiri masa jabatannya sebagai Perdana Menteri Bangladesh pada 5 Agustus 2024 dan pergi ke India. Perkembangan ini berdampak pula pada Ms Saima Wazed. Ada berbagai tuntutan yang harus dihadapinya, baik dari pemerintah Bangladesh yang baru dan juga dari internal WHO, sehingga akhirnya pada 11 Juli 2025 Ms Saima Wazed dinyatakan menjalani “cuti” oleh DirJen WHO, istilah yang digunakan adalah “unpaid administrative leave”. Kepeminpinan  sehari-hari  WHO Asia Tenggara kemudian dijalankan oleh Dr Catharina Boehme  menjadi “Officer in Charge”, dia tadinya adalah WHO Assistant Director-General for External Relations. Sesudah setahun berjalan maka sejak Agustus 2026 ini kedudukan kepemimpinan sehari-hari WHO SEARO sebagai “Officer in Charge” diduduki oleh Dr Nilesh Budha yang kebetulan bersama-sama saya ketika saya bertugas di WHO SEAORO 2015-2020 yang lalu.</div>
<div></div>
<div>Perkembangan selanjutnya, pertemuan para menteri di WHO Asia Tenggara (Indonesia kini sudah tidak ikut lagi di dalamnya karena berpindah ke WHO Pasifik Barat) pada 8 September 2026 merekomendasikan pemberhentian  Ms Saima Wazed sebagai Regional Director WHO Asia Tenggara. Selanjutnya, menurut media “Health Policy Watch” maka pada 9 September 2026 Ms Saima Wazed menyatakan pemberhentian dirinya. Dengan perkembangan terakhir ini maka akan diadakan pemilihan pimpinan WHO Asia Tenggara dalam waktu dekat, dan kita tunggu siapa yang akan memimpin WHO Asia Tenggara yang menghimpun sekitar seperlima penduduk dunia ini.</div>
<div></div>
<div>&#8212;&#8212;-</div>
<div><strong>Prof Tjandra Yoga Aditama</strong></div>
<div>Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yarsi Tuan Rumah Konferensi Perpustakaan, Jika Sudah Kumpul Harus Beri Manfaat</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/yarsi-tuan-rumah-konferensi-perpustakaan-jika-sudah-kumpul-harus-beri-manfaat?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=yarsi-tuan-rumah-konferensi-perpustakaan-jika-sudah-kumpul-harus-beri-manfaat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 01:52:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan Yarsi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=28978</guid>

					<description><![CDATA[Ada dua yang perhatian saat diterapkannya tranformasi perpustakaan sekolah. Pertama sarana dan prasarana (fisik) dan kedua sumber daya manusia (kepala sekolah, tenaga perpustakaan sekolah , guru dan murid. Direktur KSPSTK [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ada dua yang perhatian saat diterapkannya tranformasi perpustakaan sekolah. Pertama sarana dan prasarana (fisik) dan kedua sumber daya manusia (kepala sekolah, tenaga perpustakaan sekolah , guru dan murid.</p>
<p>Direktur KSPSTK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen),Dr.Iwan Junaedi,S.Si.,M.Pd (Doktor Iwan) menyatakan itu saat jadi pembicara Konferensi Perpustakaan Sekolah Indonesia Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), Kamis 17 September 2026 di Universitas Yarsi Jakarta.</p>
<p>Acara yang digelar ATPUSI bekerjasama dengan program studi perpustakaan dan sains informasi universitas yarsi, doktor Iwan menjelaskan, transformasi fisik di sekolah berupa gudang buku dijadikan pusat pengetahuan Koleksi cetak dijadikan koleksi multimodal  seperti buk, e-book, video, data, sumber digital.Perpustakaan sebagai unit layanan dijadikan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran. Tempat meminjam buku di jadikan ruang belajar dan eksplorasi.</p>
<p>Lalu transformasi sumber daya manusia. Saat murid datang ke perpustakaan dijadikan murid aktif belajar di perpustakaan. Murid membaca buku diarahkan murid membangun pengetahuan. Murid konsumen informasi dijadikan murid produsen pengetahuan , murid hanya literasi baca tulis jadi murid  multi literasi.</p>
<p>Doktor Iwan dalam konferensi ini membawakan tema transformasi perpustakaan sekolah. Selain materi diatas banyak pengetahuan yang disampaikan menarik dan mencerahkan.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter wp-image-28979" src="https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Yarsi-Tuan-Rumah-Konferensi-Perpustakaan-Jika-Sudah-Kumpul-Harus-Beri-Manfaat1-1400x788.jpg" alt="" width="700" height="394" srcset="https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Yarsi-Tuan-Rumah-Konferensi-Perpustakaan-Jika-Sudah-Kumpul-Harus-Beri-Manfaat1-1400x788.jpg 1400w, https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Yarsi-Tuan-Rumah-Konferensi-Perpustakaan-Jika-Sudah-Kumpul-Harus-Beri-Manfaat1-711x400.jpg 711w, https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Yarsi-Tuan-Rumah-Konferensi-Perpustakaan-Jika-Sudah-Kumpul-Harus-Beri-Manfaat1-768x432.jpg 768w, https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Yarsi-Tuan-Rumah-Konferensi-Perpustakaan-Jika-Sudah-Kumpul-Harus-Beri-Manfaat1-1536x864.jpg 1536w, https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Yarsi-Tuan-Rumah-Konferensi-Perpustakaan-Jika-Sudah-Kumpul-Harus-Beri-Manfaat1.jpg 1596w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></p>
<p>Satu hal lagi disampaikan, permasalahan peningkatan kualitas tenaga perpustakaan sekolah. Menurut Doktor Iwan jika tenaga perpustakaan dari unsur guru , ini menjadi tugas tambahan bagi guru. Akhirnya lahir masalah tidak permanen sebagai tenaga perpustakaan.</p>
<p>Sedangkan tenaga perpustakaan bukan jalur fungsi pustakawan , masalahnya tidak punya background kompetensi perpustakaan.</p>
<p>Sementara Rektor Universitas Yarsi, Prof.Dr.dr, Ratna Sitompul,SpM(K).,SubSpI.I saat membuka konferensi mengatakan, menyambut baik acara penting ini, semoga tujuan direncanakan tercapai. Beberapa informasi disampaikan, diantaranya meminta Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah bisa mengembangkan jenjang karir bagi pustakawan.</p>
<p>Tidak itu saja. Perbanyaklah pelatihan  agar anggotanya bertambah pengetahuan dan keterampilan lebih tinggi ( jago analisis dan pengumpulan data). Lalu harus selalu mengembangkan kompetensi . “ Ingat ,jika sudah berkumpul harus bisa memberikan manfaat bagi orang banyak,” tutup Ibu Rektor Yarsi.</p>
<p>Konferensi Perpustakaan Sekolah Indonesia ini banyak dihadiri para pustakawan , guru , mahasiswa dan anggota Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI).</p>
<p>Ketua Umum ATPUSI, Rahmawati , MP menyampaikan terima kasih kepada Universitas Yarsi menyediakan tempat berlangsungnya acara. Kepada anggota ATPUSI semoga perhelatan ini bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan ,keterampilan dan eksistensi dibidang sekolah. “Selain itu meningkatkan kepercayaan diri sehingga jadi profesional (usman)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Aktif LDK Kahfi dan RIMSI, Oktober 2026 Ikut Wisuda</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/mahasiswa-aktif-ldk-kahfi-dan-rimsi-oktober-2026-ikut-wisuda?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mahasiswa-aktif-ldk-kahfi-dan-rimsi-oktober-2026-ikut-wisuda</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 08:44:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=28966</guid>

					<description><![CDATA[Masa mahasiswa, masa yang indah. Ditengah sibuk belajar,ada  waktu bisa berorganisasi dan aktif suatu kegiatan dikampus serta bersosialisasi dengan masyarakat, sehingga nantinya siap jadi pemimpin bangsa. Itulah yang dilakukan mahasiswa [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Masa mahasiswa, masa yang indah. Ditengah sibuk belajar,ada  waktu bisa berorganisasi dan aktif suatu kegiatan dikampus serta bersosialisasi dengan masyarakat, sehingga nantinya siap jadi pemimpin bangsa.</p>
<p>Itulah yang dilakukan mahasiswa Universitas Yarsi. Panggil saja Anis, nama lengkap Anisa Putri Yasmin mahasiswi Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PdSI) menyatakan, selama kuliah selain belajar juga aktif organisasi tepatnya di Lembaga Dakwah Kampus KAHFI (LDK Kahfi), yakni, salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM). Selain wadah belajar meningkatkan pemahaman nilai-nilai Islam, UKM ini tempat mengembangkan diri berkontribusi dalam kegiatan keislaman di lingkungan kampus serta tempat latihan bekerja sama.</p>
<p>Selain LDK Kahfi Anis juga ikut dalam RIMSI (Remaja Islam Masjid Jami’ Yarsi ), organisasi eksternal kampus di bawah naungan DKM Masjid Jami’ Yarsi. Tujuannya sama dan saling berkaitan. RIMSI lebih pada bangun ukhuwah, memakmurkan masjid, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. “Bedanya LDK Kahfi  dan RIMSI hanya pada struktur,” terang Anis</p>
<p>Mahasiswi PdSI menerangkan, awalnya ikut LDK Kahfi dan RIMSI ingin menambah wawasan dan menjadikan pribadi lebih baik. Sekaligus memperdalam pemahaman agama. “Saya  ingin coba pengalaman baru organisasi dan belajar kerja sama berikan kontribusi bagi lingkungan kampus,” tutur Anis.</p>
<p>Setelah ikut rasanya wow  dan luar biasa , banyak  manfaat didapatkan. Seperti kepemimpinan, komunikasi, kerjasama tim, manajemen waktu, penyelesaian masalah, dan bagaimana mengelola sebuah kegiatan.</p>
<p>Selain itu, mendapatkan banyak teman dan pengalaman berharga. “Paling dirasakan sekali jadi lebih berani ambil tanggung jawab,belajar melayani dan memberikan manfaat,” seru Anis.</p>
<p>Sependapat dengan Anis, Dian Purnama Sari (Dian), mahasiswi Program Studi Teknik Informatika(Prodi TI) menambahkan, ikut organisasi menarik ini ada kajian wanita Islam, tabligh akbar, kahfi fest dan mentoring akbar. Kemudian ada tahsin Alqur&#8217;an, dan kegiatan keislaman lainnya seperti peringatan hari besar Islam. Sedangkan dari Rimsi sendiri mengadakan acara di masjid, seperti membantu pelaksanaan berbagi dari berbagi shaum senin dan kamis, berbagi setelah kajian (selasa, rabu) serta berbagi jum&#8217;at berkah.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-image-28967" src="https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Mahasiswa-Aktif-LDK-Kahfi-dan-RIMSI-Oktober-2026-Ikut-Wisuda1.jpg" alt="" width="700" height="394" srcset="https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Mahasiswa-Aktif-LDK-Kahfi-dan-RIMSI-Oktober-2026-Ikut-Wisuda1.jpg 1280w, https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Mahasiswa-Aktif-LDK-Kahfi-dan-RIMSI-Oktober-2026-Ikut-Wisuda1-711x400.jpg 711w, https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Mahasiswa-Aktif-LDK-Kahfi-dan-RIMSI-Oktober-2026-Ikut-Wisuda1-768x432.jpg 768w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></p>
<p>Dizan Zul Chair (Dizan), mahasiswa Program Studi Kedokteran (Prodi FK) juga sependapat dengan Anis dan Dian<strong> ,</strong> LDK Kahfi dan RIMSI merupakan organisasi volunteer dari mahasiswa untuk masjid Yarsi. Terus terang awal ikut organisasi ini merasa terjebak. Ternyata setelah ikut jadi enjoy saat dijalankan dan makin dekat dengan masjid.</p>
<p>Anis , Dian dan Dizan pesan kepada rekan mahasiswa ,kalau sudah ikut LDK Kahfi dan RIMSI jangan merasa paling hebat .Nikmati prosesnya, belajar sebanyak-banyaknya. bangun hubungan  baik dengan teman-teman, jaga niat, dan berusahalah untuk memberikan kontribusi sekecil apa pun.</p>
<p>Dalam organisasi akan ada masa ketika merasa lelah, kecewa, atau mempertanyakan mengapa harus bertahan. Tetapi percayalah, setiap proses dijalani dengan baik akan memberikan pelajaran yang mungkin baru kalian sadari setelah melewatinya.</p>
<p>Jadikan LDK Kahfi dan RIMSI bukan hanya sebagai tempat untuk berorganisasi, tetapi juga sebagai tempat untuk bertumbuh, belajar, dan menjadi pribadi lebih bermanfaat. Terpenting jaga niat dan jangan lupa bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.</p>
<p>Semoga apa yang rekan-rekan lakukan di LDK Kahfi dan RIMSI menjadi pengalaman kebaikan, bukan hanya selama menjadi mahasiswa, tetapi juga setelah lulus nanti.</p>
<p>Anis, Dian dan Dizan bukannya mahasiswa Kupu-Kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Mereka mahasiswa aktif LDK Kahfi dan RIMSI tidak lupa belajar . Mereka pada Oktober 2026 ikut diwisuda menjadi sarjana.</p>
<p>Selain mereka bertiga , insya Allah pada Oktober 2026 ada rekan lain juga diwisuda  seperti Shafiyah Alifah Rahmi, Nur Hajja Nia Ramdhani,Yumna Salimah, Muhammad Ilham Assofyan  dan Kayza Namira Putri dari PdSI, ⁠Rahma Noviatul Aisya, Aulia Amanda Rabbyradhia, ⁠Maydinah Aulia dan Athiyyah Khoirunnisaa,dari program studi Psikologi</p>
<p>Sedangkan diwisuda sebelumnya bulan April 2026, Oxie Muhammad Bagas Alsta Zulkarnain dan Bagus Prana Rizky dari program studi Ilmu Hukum. Lalu Aisyah Selviana,, Arunia Salsanur Fais, Karina Defitrah Nurul Jinan,Marsya Faradilah, Muthiah Kamilah Fatih dari Prodi TI serta Dhiya Niknoz Ayman dari Prodi FK.</p>
<p>Guys, ikut LDK Kahfi dan RIMSI enjoy, tapi wajib belajar,biar akhirnya bisa diwisuda dan punya daya saing (Usman)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/mengapa-ekonomi-solid-namun-sosial-politik-mulai-gelisah?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mengapa-ekonomi-solid-namun-sosial-politik-mulai-gelisah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 04:11:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pakar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=28964</guid>

					<description><![CDATA[“Sell Indonesia” tidak boleh dibaca hanya sebagai aksi jual di pasar saham dan obligasi saja. Ia adalah sinyal sosial-politik yang datang dari jantung ekonomi. Ketika rupiah melemah, IHSG tertekan, dan [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Sell Indonesia” tidak boleh dibaca hanya sebagai aksi jual di pasar saham dan obligasi saja. Ia adalah sinyal sosial-politik yang datang dari jantung ekonomi. Ketika rupiah melemah, IHSG tertekan, dan investor asing menarik dana, yang terguncang bukan hanya grafik di layar broker. Yang ikut bergetar adalah harga pangan, ongkos produksi, rasa aman kelas menengah, keberanian pelaku usaha untuk membuka lapangan kerja dan pada akhirnya, mulai lunturnya kepercayaan publik kepada negara.</p>
<p>Di sinilah masalahnya menjadi serius. Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada triwulan I-2026 menurut BPS, tetapi angka pertumbuhan yang baik tidak otomatis meredakan kegelisahan jika pasar membaca arah kebijakan fiskal, moneter dan regulasi yang kurang konsisten. Reuters bahkan menggambarkan tekanan pasar Indonesia sebagai krisis kepercayaan investor, dengan kekhawatiran atas perubahan kebijakan, pelemahan mata uang, tekanan terhadap saham dan meningkatnya risiko tata kelola. Narasi seperti ini boleh saja diperdebatkan, tetapi tidak boleh diremehkan. Pasar mungkin sering bereaksi berlebihan (overreaction), namun pasar juga memberi sinyal tentang kepercayaan.</p>
<p>Rupiah yang melemah bekerja seperti pajak tersembunyi. Tidak ada pengumuman kenaikan tarif, tetapi dampaknya terasa di dapur rumah tangga. Bahan pangan berbasis impor, bahan baku obat, komponen elektronik, mesin industri, energi, perawatan kendaraan dan input produksi menjadi lebih mahal. Awalnya produsen berupaya menahan harga. Setelah itu, margin tergerus. Bila tekanan berlanjut, harga terpaksa dinaikkan, perekrutan karyawan ditunda, lembur dikurangi, bahkan efisiensi tenaga kerja mulai dibahas. Pada titik ini, kurs dan suku bunga bukan lagi urusan elit pasar uang. Ia menjadi urusan buruh pabrik, pengojek, pedagang kecil, ibu rumah tangga hingga anak muda pencari kerja.</p>
<p>IHSG yang jatuh juga tidak hanya melukai investor kaya. Perlu diingat, kelas menengah di Indonesia semakin banyak yang menyimpan dana di reksa dana, saham, dana pensiun, asuransi dan produk keuangan lainnya. Ketika nilai aset turun, kerugian mendera dan rasa aman ikut menurun. Konsumsi ditahan, pembelian rumah ditunda. Rencana pendidikan anak dihitung ulang. Dalam ekonomi modern, ekspektasi adalah bahan bakar. Ketika ekspektasi memburuk, masyarakat tidak selalu langsung miskin, tetapi mereka mulai bersikap seolah-olah sedang menghadapi krisis. Itu cukup untuk memperlambat ekonomi.</p>
<p>Dampak sosial-politiknya muncul dalam tiga lapisan. Pertama, tekanan harga menciptakan kemarahan yang tersimpan diam-diam. Publik mungkin tidak memahami neraca pembayaran, tetapi mereka memahami harga beras, telur, transportasi dan cicilan. Kedua, tekanan kerja memperbesar kecemasan. Anak muda yang sulit mendapatkan pekerjaan akan lebih mudah kehilangan kepercayaan terhadap ekspektasi pertumbuhan. Ketiga, ketidakpastian kebijakan akan melemahkan legitimasi. Ketika pemerintah tampak sering mengubah aturan, sementara BI dipersepsikan harus menanggung beban stabilisasi sendirian, publik mulai bertanya: siapa sebenarnya yang mengendalikan keadaan?</p>
<p>Risiko instabilitas tidak selalu muncul dalam bentuk ledakan besar. Ia bisa muncul sebagai fragmentasi kepercayaan: demonstrasi mahasiswa, keresahan ibu rumah tangga, kemarahan digital, penolakan terhadap kebijakan, tekanan serikat pekerja, penurunan kepatuhan pajak, atau meningkatnya sentimen anti-elit. Dalam masyarakat yang semakin terkoneksi, kenaikan harga kecil dapat menjadi isu politik besar bila dibingkai sebagai bukti bahwa negara tidak hadir. Media sosial akan mempercepat proses tersebut. Kecemasan ekonomi yang dahulu berhenti di meja makan kini dapat berubah menjadi opini publik nasional, bahkan internasional, dalam hitungan jam.</p>
<p>Ada pandangan tandingan yang perlu dihormati, seperti pemerintah jangan terlalu tunduk pada pasar (atau oligarki). Indonesia adalah negara besar, memiliki sumber daya alam, pasar domestik yang luas, dan agenda pembangunan yang tidak boleh disandera oleh investor jangka pendek. Argumen ini benar. Tetapi menolak tunduk pada pasar berbeda dengan menolak membaca sinyal pasar. Kedaulatan ekonomi bukan berarti kebal terhadap arus modal, nilai tukar dan biaya sosial. Justru negara yang berdaulat harus mampu menjaga agar agenda sosialnya tidak runtuh karena hal itu menimbulkan biaya kepercayaan yang terlalu mahal.</p>
<p>Karena itu, solusi tidak boleh semata-mata bersifat teknokratis. BI memang perlu menjaga stabilitas rupiah melalui suku bunga, intervensi valas dan instrumen pasar uang. BI telah menaikkan BI-Rate kembali menjadi 5,50 persen pada Juni 2026. Namun, kebijakan moneter hanya “mengulur waktu” jika akar masalahnya belum teratasi. Masalahnya adalah keraguan pasar terhadap arah fiskal dan kebijakan ekonomi yang berisiko tinggi. Pemerintah harus menunjukkan disiplin belanja, transparansi pembiayaan dan keberanian untuk mengevaluasi ulang program MBG dan KDMP yang diduga banyak mengalami kebocoran dan kurang efektif.</p>
<p>Sementara itu, kenaikan mendadak BBM jenis Pertamax 92 sebesar hampir 30 persen juga dinilai mengurangi daya beli kelas menengah yang sudah terbebani oleh pelemahan rupiah dan meningkatnya beban bunga. Kebijakan ini terbukti memicu demonstrasi mahasiswa di berbagai kota. Dalam situasi penuh kegelisahan rakyat ini, pemerintah perlu membangun pagar sosial sebelum volatilitas ekonomi berubah menjadi gejolak sosial-politik di masyarakat. Bantuan sosial harus tepat sasaran dan segera diberikan. Stabilitas pangan harus dijaga dengan data stok yang akurat, bukan sekadar operasi pasar simbolik. Dunia usaha perlu diberi kepastian aturan agar tidak menunda investasi. Serikat pekerja dan asosiasi bisnis harus diajak bicara sebelum tekanan berubah menjadi konflik terbuka. Dalam krisis kepercayaan, komunikasi bukan sekadar kosmetik karena merupakan bagian dari kebijakan.</p>
<p>Indonesia tidak sedang menuju krisis hanya karena rupiah melemah, IHSG jatuh dan BBM semakin mahal. Namun, Indonesia bisa menciptakan krisis jika meremehkan dampaknya secara sosial-politik. Pasar menjual aset karena adanya keraguan. Masyarakat bisa kehilangan kepercayaan karena merasa ditinggalkan. Tugas pemerintah dan BI hari ini bukan sekadar menghentikan “Sell Indonesia”, melainkan mencegahnya berubah menjadi “Distrust Indonesia”. Sebab ketika ekonomi kehilangan kepercayaan, kekuasaan biasanya tidak lama kemudian kehilangan legitimasi</p>
<p>&#8212;&#8211;<br />
<strong>Perdana Wahyu Santosa</strong><br />
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
