<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menteri Ketenagakerjaan &#8211; Universitas YARSI</title>
	<atom:link href="https://www.yarsi.ac.id/tag/menteri-ketenagakerjaan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.yarsi.ac.id</link>
	<description>Smart Campus That You Can Rely On</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Sep 2021 03:23:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2025/02/cropped-YARSI-KOTAK-e1739161183276-32x32.png</url>
	<title>Menteri Ketenagakerjaan &#8211; Universitas YARSI</title>
	<link>https://www.yarsi.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>UY Gelar Webinar, Bantu Tanggulangi TBC dan Implementasi Perpres No.67</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/bantu-tanggulangi-tbc-dan-implementasi-perpres-no-67-uy-gelar-webinar</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2021 01:42:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Hj. Ida Fauziyah]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Ketenagakerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Fuad Nasar]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. dr. H. Fasli Jalal]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. dr. H. Tjandra Yoga Aditama]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. dr. Hj. Rika Yuliwulandari]]></category>
		<category><![CDATA[Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sekretaris Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI]]></category>
		<category><![CDATA[Tuberkulosis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=8044</guid>

					<description><![CDATA[Kondisi pandemi Covid 19 di Indonesia saat ini telah menjadi beban tambahan yang berat yang sangat menyulitkan penanggulangan tuberkulosis(TBC/TB). Situasi pandemi Covid telah menurunkan cakupan deteksi kasus penderita tuberkulosis, kunjungan [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Kondisi pandemi Covid 19 di Indonesia saat ini telah menjadi beban tambahan yang berat yang sangat menyulitkan penanggulangan tuberkulosis(TBC/TB). Situasi pandemi Covid telah menurunkan cakupan deteksi kasus penderita tuberkulosis, kunjungan pengobatan dan kepatuhan berobat. Masalah ini dalam jangka Panjang dapat mempengaruhi peluang keberhasilan program eliminasi tuberkulosis tahun 2030.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Alasan ini menggerakkan Pemerintah Indonesia membuat suatu langkah tepat dengan mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis yang ditetapkan pada tanggal 2 Agustus 2021. Peraturan Presiden ini mengatur mengenai target eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030 berupa penurunan angka kejadian tuberculosis menjadi 65 per 100.000 penduduk, dan penurunan angka kematian akibat tuberkulosis menjadi 6 per 100.000 penduduk.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Eliminasi tuberkulosis dicanangkan pada tahun 2030 ini akan sulit dicapai dan tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan semata, namun harus dilakukan multisektoral, tanpa terkecuali peran masyarakat umum.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ancaman TBC pada dunia kerja yaitu tergangguanya produktivitas hingga kesejahteraan tenaga kerja.Kementerian Tenaga Kerja telah melakukan berbagai upaya menanggulangi TBC termasuk mendukung Peraturan Presiden No.67 Tahun 2021 tentang penanggulang TBC.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah saat bicara dalam Webinar Eliminasi Penyakit Tuberkulosis 2030,digelar Universitas Yarsi, Rabu,29/9. mengatakan, Penanggulang TB didunia kerja ada ditangan pemimpin tertinggi di masing-masing perusahaan .Setiap pimpinan harus punya komitmen mengendalikan TB dan juga penyakit-penyakit lain. Perusahaan komitmen menyediakan fasilitas agar pegawainya selalu sehat.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kementerian ketenagakerjaan sebagai instansi pembina sektor ketenagakerjaan telah mengambil kebijakan dan berkomitmen dalam pengendalian di tempat kerja dengan program keselamatan dan kesehatan kerja atau K3.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kementerian ketengakerjaan juga sudah melakukan langkah-langkah, mengidentifikasi perusahaan dengan resiko tinggi dan kepada pemilik atau pimpinan tertinggi di perusahaan melakukan sosialisasi K3, meningkatkan koordinasi antara fasilitas pelayanan kesehatan perusahaan dengan dinas kesehatan kabupaten /kota. Mencatat pelaporan serta pelacakan pasien TB dan pasien yang mangkir. Mengajak dunia usaha , dunia industri , manajemen perusahaan, serikat pekerja dan kelompok masyarakat untuk mendukung secara bersama melaksanakan penanggulangan TB.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“Saya dukung webinar Universitas Yarsi , merupakan bentuk komitmen nyata membantu upaya pemerintah,” seru Bu Menteri</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Eliminasi tuberkulosis dicanangkan pada tahun 2030, sektor agama juga berperan penting dalam implementasi penanggulangan tuberculosis.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal(Sesdirjen) Bimas Islam Kementerian Agama Muhammad Fuad Nasar, pesantren sebagai salah satu bagian dari masyarakat sebanyak 31.385 ponpes dengan jumlah santri sekitar 4,29 juta orang, merupakan kelompok rentan terpapar tuberkulosis, terutama pada tingkat hunian tinggi dengan konstruksi bangunan yang minim cahaya matahari sehingga santri dapat menjadi sakit,</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Untuk menanggulangi gangguan TB di pesantren.kementerian agama telah melakukan berbagai upaya. Satu diantaranya program santri sehat.</span><br />
<span style="color: #000000;">Pada program ini kementeriaan agama lebih mengintensifkan kerjasama dengan para tenaga kesehatan dan lembaga, badan kesehatan dan perguruan tinggi serta membangun ekosistem kebersamaan membangun program-program sesuai kebutuhan pesantren.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Selain itu, santri setelah lulus akan menjadi pendakwah diharapkan dapat memasukkan materi penyuluhan tuberkulosis dan penyuluhan kesehatan lain. Ini bagian upaya membantu pemerintah menangani masalah TB atau kesehatan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“Tidak ketinggalan pada mereka akan berumah tangga atau menikah diberikan pemahaman dan wawasan membangun hidup sehat,” ujar Pak Sesdirjen yang juga jadi pembicara webinar Universitas Yarsi.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Webinar ini merupakan salah satu kegiatan Catur Dharma Perguruan Tinggi meningkatkan suasana ilmiah akademik dilaksanakan Universitas YARSI, Magister Sains Biomedis Sekolah Pascasarjana, Fakultas Kedokteran bekerja sama dengan Pusat Pengabdian kepada Masyarakat Yarsi TBcare.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam webinar Eliminasi Penyakit Tuberkulosis 2030 selain pembicara dari luar , pembicara dari dalam Universitas Yarsi juga tampil.Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Yarsi, Tjandra Yoga Aditama dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, Rika Yuliwulandari</span><br />
<span style="color: #000000;">Banyak infomasi disampaikan Prof Tjandra, daintaranya ,ada lima gangguan disebabkan pandemi Covid-19 terhadap penanganan TB.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Gangguan pertama terkendalanya proses deteksi kasus TB, berkurangnya daya kerja laboratorium karena fokus menangani pandemi. Lalu penurunan suplai obat-obatan, berkurangnya penanganan dan monitoring, serta kelima pengurangan tenaga kesehatan yang menangani kasus TB karena dialihkan juga untuk merespons pandemi.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Jika pasien TB terkena virus Corona maka keparahan Covid-19 akan semakin berat. &#8220;Severity-nya memberat, dan juga TB-nya memberat. Artinya perbaikan TB-nya terganggu,” ujar Tjandra Yoga Aditama</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Selanjutnya Prof Tjandra menyatakan, terjadinya pandemi Covid-19 telah berdampak besar pada penanganan pasien tuberkulosis (TB/TBC). Ia menjelaskan pandemi dapat menambah kematian ratusan ribu pasien TB di dunia</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Organisasi kesehatan dunia(WHO) menyebutlkan akan terjadi penambahan kematian pasien TB 500 ribu di dunia. Sementara penelitian terbaru WHO beberapa bulan lalu di 84 negara ternyata penambahan kematian itu setengah juta.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam setahun setidaknya kematian akibat TB mencapai 1,49 juta pasien di dunia. Angka tersebut biasanya selalu turun dari tahun ke tahun. “Namun karena adanya pandemi Covid-19, pada 2020 WHO memprediksi ada 1,85 juta kematian akibat TB.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Eliminasi tuberkulosis dicanangkan tahun 2030 ini akan sulit dicapai dan tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan semata, namun harus dilakukan multisektoral, tanpa terkecuali peran masyarakat umum.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Webinar Universitas Yarsi menghadirkan Menteri Ketenagakerjaan, Sesdirjen Bimas Islam Kemenag dan Plt Dirjen P2P Kemenkes sebagai langkah-langkah untuk implementasi Perpres No 67 Tahun 2021. “ini bentuk kontribusi dalam eliminasi tuberkulosis,”tutur Prof Tjandra.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sementara Prof Rika menyampaikan beberapa hal terkait eliminasi penyakit tuberkulosis 2030. Seperti 5 point yaitu pertama tuberkulosis menjadi kegiatan lintas program atau sektor dengan program dukungan sumber daya. Kedua implementasi nyata dilapangan , rencana kerja, monitoring dan evaluasinya. Kemudian penanganan TB juga meliputi masalah kesehatan terkait ( HIV, DM,Rokok,Gizi), berorientasi ke pasien dan keluarganya. Kelima TB menjadi target dunia SDG, target nasional (eliminasi 2030) dan target daerah (propinsi, kabupaten/kota).</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
