<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Prof. Ahmad Mansur Suryanegara &#8211; Universitas YARSI</title>
	<atom:link href="https://www.yarsi.ac.id/tag/prof-ahmad-mansur-suryanegara/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.yarsi.ac.id</link>
	<description>Smart Campus That You Can Rely On</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2021 16:23:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2025/02/cropped-YARSI-KOTAK-e1739161183276-32x32.png</url>
	<title>Prof. Ahmad Mansur Suryanegara &#8211; Universitas YARSI</title>
	<link>https://www.yarsi.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pendidikan Islam Tujuh Semester , Wujud Cinta UY Pada  Perjuangan Intelektual Muslim</title>
		<link>https://www.yarsi.ac.id/pendidikan-islam-tujuh-semester-wujud-cinta-uy-pada-perjuangan-intelektual-muslim</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2021 16:23:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. dr. Endy M. Astiwara]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Ahmad Mansur Suryanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Fasli]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[universitas unggulan jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Yarsi]]></category>
		<category><![CDATA[UY]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.yarsi.ac.id/?p=7821</guid>

					<description><![CDATA[Penjajah diIndonesia, Portugis,Spanyol dan Belanda. Kemudian Perancis, Inggris dan Jepang semua mayoritas agamanya Katholik dan Protestan. Saat para penjajah berkuasa, semua simbol,dan warna Islam dilenyapkan. Padahal berdirinya Republik Indonesia tidak [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<style>
figure {
    border: thin #c0c0c0 solid;
    display: flex;
    flex-flow: column;
    padding: 5px;
    max-width: 600px;
    margin: auto;
    color: #000000;
}
img {
    max-width: 600;
    max-height: 400;
}
figcaption {
    background-color: #FFFFFF;
    color: #000000;
    font: italic smaller sans-serif;
    padding: 3px;
    text-align: center;
    color: #000000;
}
p{
    color: #000000;
}
p.a{
   font-size: 17px;
   font-weight: bold;
   color: #000000;
}
p.b{
  padding-top:11px;
  color: #000000;
}
p.c{
  font-weight: bold;
  font-style: italic; 
  font-size: large;
  text-align: center;
  padding-top:15px;
  color: #000000;
}
</style>
<p><span style="color: #000000;">Penjajah diIndonesia, Portugis,Spanyol dan Belanda. Kemudian Perancis, Inggris dan Jepang semua mayoritas agamanya Katholik dan Protestan. Saat para penjajah berkuasa, semua simbol,dan warna Islam dilenyapkan. Padahal berdirinya Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan besarnya peran ,pengorbanan dan perjuangan umat Islam Indonesia serta ulama.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Merebut kemerdekaan, bahkan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ujung tombaknya umat Islam. Para ulama, santri dan kaum intelektuallah punya andil besar dalam membangun karakter bangsa dan mengarahkan perjalanan bangsa ini.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Itulah kutipan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara,pakar sejarah nasional dan Guru Besar Sejarah Universitas Padjadjaran(Unpad) saat memberikan kuliah umum di Universitas Yarsi, Jumat, 3 September 2021.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Saat Prof Ahmad Mansur Suryanegara berbicara,selain para mahasiswa dan dosen, hadir juga petinggi Yarsi, Rektor Universitas Yarsi Prof. Fasli Jalal, dan Ketua Yayasan Yarsi Prof. H. Jurnalis Uddin.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Selanjutnya Prof Ahmad Mansur menerangkan, terkait 76 tahun Indonesia Merdeka, sejarah masih dibuat oleh pemerintah ,tampaknya peran ulama dan umat Islam masih saja menghilang , begitu juga nama-nama organisasi Islam ditenggelamkan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Contoh, detik-detik jelang pembacaan proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno di kediamannya Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Pada waktu itu butuh kerja keras, pengorbanan, dan perjuangan bisa sampai di momen itu, Soekarno berbincang dengan ulama seperti Abdul Mukti tokoh Muhammadiyah ,KH Hasyim Asy&#8217;ari tokoh Nahdlatul Ulama.</span></p>
<figure>
<img decoding="async" src="https://www.yarsi.ac.id/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-05-at-17.31.02.jpeg" alt="WhatsApp Image 2021-09-05 at 17.31.02" attachment="7823"><figcaption>Wakil Rektor V, Dr. dr. Endy Muhammad Astiwara, MA., AAAIJ., CPLHI., ACS., FIIS., CRGP., ASPM.</figcaption></figure>
<p class="b">KH Hasyim Asyari merupakan kakek dari Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), serta ayahdari mantan Menteri Agama, KH Wahid Hasyim. Pahlawan Nasional pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pendiri Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur</p>
<p><span style="color: #000000;">Anehnya nama KH Hasyim Asyari hilang dalam Kamus Sejarah Indonesia Buku yang diterbitkan oleh Direktorat Sejarah pada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut, hingga menuai polemik karena tidak adanya sosok pahlawan nasional itu.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Menurut Guru Besar Unpad ,padahal,saat perbincangan itu KH Mohammad Hasyim Asy&#8217;ari didampingi beberapa ulama ,meminta Soekarno segera membacakan teks proklamasi sehingga Indonesia resmi merdeka. dan pada saat itu pula Soekarno dijadi presiden Indonesia.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“Ingat ,atas desakan para ulamalah Soekarno membacakan teks proklamasi,” ujar penulis buku Api Sejarah</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Jauh sebelum Indonesia merdeka, Kiai Hasyim menjadi tokoh yang ditakuti pihak penjajah. &#8220;Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci) tanggal 22 Oktober 1945.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Setelah keluarnya fatwa resolusi jihad, perlawanan terhadap Belanda muncul dari berbagai daerah. Salah satunya, perlawanan heroik dari arek-arek Suroboyo,10 November 1945, kemudian mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Contoh lainnya Diorama di Monas Jakarta , menceritakan beberapa momen penting terjadi di Indonesia,sifatnya hanya menginformasikan inspirasi dan insight kerajaan di Indonesia. Seharusnya kata Prof Amad Mansur, diorama itu menampilkan pula kiprah ulama ,umat Islam dan raja-raja dari kerajaan Islam dalam perjuangan kemerdekaam Indonesia dan mendirikan kota Jayakarta</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Terkait Kota pelabuhan Sunda Kelapa. Pada 22 Juni 1527 Pangeran Fatahillah seorang ulama besar menghancurkan Sunda Kelapa dan mengusir keluar penjajah Portugis. Opini sejarah yang beredar di Sunda Kelapa seolah kaum kafir diusir oleh kaum muslim .</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Setelah Portugis pergi,lalu Fatahillah mendirikan kota Jayakarta di area tersebut dengan nama Jakarta. Sejak tanggal itulah yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal berdirinya kota Jakarta. “Jakarta itu artinya kemenangan paripurna,” terang Sejarahwan Indonesia.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Begitu pula dalam pertempuran Ambarawa berlangsung selama 20 hari, KH Saifuddin Zuhri memimpin Laskar Hizbullah beserta pasukan lain seperti TKR dan rakyat Indonesia berhasil memukul mundur tentara sekutu. Dalam sejarah tidak muncul.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Belanda itu menjajah indonesia itu dimulai dari membeli tanah 900 meter untuk membangun benteng, dari benteng ini mulai penjajah Belanda membuat kerja paksa para petani. Kekejaman Belanda itu lenyap dalam sejarah .</span><br />
<span style="color: #000000;">Menurut Prof Ahmad Mansur , selama sejarah diproduksi oleh pemerintah berkuasa, kebenaran sejarah hanya milik penguasa sehingga banyak terjadi pemutar balikkan fakta</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Selanjutnya Prof berusia 90 tahun mengatakan, apa yang dilakukan Universitas Yarsi menggelar kuliah umum Peran Intelektual Muslim Dalam Perjuangan Kemerdekaan merupakan salah satu upaya mengangkat dan membesarkan jasa ulama dan organisasi Islam .</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“Meluruskan dan memperbaiki sejarah yang keliru caranya dengan melakukan mengubah sejarah itu,”tegas Prof Ahmad Mansur</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Seperti Universitas Yarsi lakukan sekarang ini , mengadakan pembelajaran agama 7<br />
semester bagi setiap mahasiswa UY dan saat menulis skripsi dan tesis harus mengaitkan dan mengkaji ajaran islam merupakan wujud Cinta pada perjuangan intelektual muslim</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Berikutnya, tujuh semester pendidikan agama di suatu perguruan tinggi merupakan kurikulum indah dan sangat benar , wajib dicontoh perguruan-perguruan tinggi apa yang telah lakukan UY, mengenalkan dunia alquran. Islam di Indonesia ,</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“Semoga Universitas Yarsi mempunyai nama besar dan Allah SWT menjadikan Universitas Yarsi memimpin Indonesia,” harap Prof Ahad Mansyur,</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Universitas Yarsi mengadakan kuliah umum dengan tema Peran Intelektual Muslim Dalam Perjuangan Kemerdekaan ini terkait perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia ke-76.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Menurut Wakil Rektor V, Endy Muh. Astiwara, acara ini perlu dalam rangka membekali dan membina wawasan kebangsaan sivitas akademika Universitas Yarsi.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kuliah umum ini merupakan salah satu kegiatan Catur Dharma Perguruan Tinggi bertujuan meningkatkan rasa cinta tanah air yang diimplementasikan melalui perbuatan-perbuatan serta memperluas wawasan tentang betapa besarnya peran intelektual muslim bagi kemaslahatan bangsa, sekaligus sebagai penghayatan sivitas akademika tentang sejarah kemerdekaan dan persatuan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Adapun sasaran kegiatan ini adalah seluruh mahasiswa, tenaga pendidik dan dosen dari UY serta masyarakat umum.</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
