Hingga kini jumlah lulusan kedokteran gigi terus bertambah. Diperkirakan jumlah dokter gigi secara nasional telah mencapai lebih dari 50 ribu orang. Kalau dihitung sebenarnya mencukupi kebutuhan. Masalahnya hanya penyebarannya tidak cukup dan belum merata.
Sebagian dokter gigi, memilih bekerja di kota besar, karena mempertimbangkan ketersediaan fasilitas dan peralatan, keamanan, serta kebutuhan tempat tinggal. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah daerah tetap punya keterbatasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Yarsi, Dr.drg.RM.Sri Hananto Seno.,Sp.BM(K).,MM (Doktor Hananto ) menyatakan itu saat penandatangan kerjasama (MOU) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Yarsi (FKGUY) dengan FDC Dental Clinic, 2 Oktober 2026 di Jakarta.
Selanjutnya , keterbatasan fasilitas dapat menghambat dokter gigi di daerah dalam mengembangkan keterampilan klinis secara optimal. Karena itu, pengembangan jaringan klinik yang lebih luas dinilai dapat menjadi salah satu alternatif mempertemukan kebutuhan layanan kesehatan, kesempatan kerja dokter gigi, dan akses masyarakat.
FDC Dental Clinik dalam jangka panjang akan mengembangkan ekspansi jaringan ke berbagai daerah berpotensi berjalan beriringan dengan agenda pengabdian masyarakat. Klinik tidak hanya menjadi tempat praktik dan pengembangan profesi dokter gigi. “Tapi juga dapat jadi saluran pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah dengan akses terbatas,” tutur Doktor Hananto..
Pak Dekan menjelaskan, kolaborasi FKG Yarsi dengan FDC Dental Clinik mencakup rantai yang lebih luas, mulai dari pendidikan dan penciptaan peluang karier, peningkatan kompetensi tenaga medis, penelitian, hingga perluasan akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Pola kerja sama tersebut bukti pentingnya hubungan antara lembaga pendidikan dan industri dalam menyiapkan tenaga profesional sekaligus menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.”Jadi MOU ini Perkuat Ekosistem Kedokteran Gigi,di Indonesia,”tutup Doktor Hananto
Setuju dengan Dekan FKGUY, Founder and CEO FDC Dental Clinic,drg. Ita Lestari,MARS (drg.Ita) menyatakan, FDC Dental punya 70 cabang di Indonesia. akan memperkuat ekosistem kedokteran gigi,di Indonesia.
Kegiatan dimulai dari pendidikan, pengembangan kompetensi dan karier dokter gigi, penelitian, hingga perluasan akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat. Karena itu FDC menggandeng perguruan tinggi, kali ini dengan FKGUY.
“Kolaborasi ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara FDC Dental Clinic dan Universitas Yarsi,” kata drg.Ita.
kolaborasi ini menjadi semakin penting karena perkembangan layanan kesehatan gigi tidak hanya membutuhkan kompetensi klinis, tetapi juga pemahaman terhadap teknologi, pengalaman pasien, dan perubahan kebutuhan masyarakat.
Lebih jauh, dari sisi pendidikan dan ketenagakerjaan, kerja sama membuka peluang bagi lulusan FKGUY mengembangkan karier di jaringan FDC. Lulusan tidak hanya dapat bekal akademik. “ Tapi juga punya akses terhadap peluang pengembangan profesi setelah selesai pendidikan,” terang drg Ita..
Bagian kerjasama ini, mahasiswa FKGUY diajak menyaksikan dan mendiskusikan film dokumenter Negeri Susah Senyum. Isinya tersebut, merekam perjalanan dokter gigi saat melakukan riset dan pelayanan kesehatan dasar di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat.
Film itu memperlihatkan persoalan kesehatan gigi dari perspektif yang lebih luas. Jarak dari fasilitas kesehatan, keterbatasan tenaga medis, edukasi, stigma terhadap dokter gigi, hingga praktik pengobatan alternatif menjadi bagian dari tantangan akses yang ditemukan di lapangan.
“Diajaknya mahasiswa menyaksikan film dokumenter diharapkan menambah wawasan dan pencerahan ,” cakap drg Ita.
Rangkaian acara ini FDC Dental Clinic memperkenalkan FDC Smile Bus sebagai layanan kesehatan gigi bergerak dirancang untuk membawa pemeriksaan gigi lebih dekat kepada masyarakat. sekaligus menjadi kesempatan untuk mencoba langsung teknologi FDC Tooth Analyzer berbasis Artificial Intelligence (AI).
Smile Bus dilengkapi dental chair dan sejumlah perangkat medis untuk mendukung pemeriksaan serta layanan kesehatan gigi tertentu di luar jaringan klinik.
Menurut drg. Ita, kehadiran Smile Bus bukan untuk menggantikan keberadaan klinik melainkan dapat membawa layanan kesehatan gigi lebih dekat kepada Masyarakat.(usman)


