Pada September 2026 bulan yang lalu, Kedutaan Besar RI di Tokyo Jepang mengeluarkan informasi aturan baru bagi kita orang Indonesia, yang berjudul “Pemeriksaan TB untuk WNI yang akan ke Jepang”, lengkapnya di laman https://konsuler.kbritokyo.jp/announcements/pemeriksaan-tb-untuk-wni-yang-akan-ke-jepang.
Dijelaskan bahwa Pemerintah Jepang akan mengimplementasikan Japan “Pre-Entry Tuberculosis Screening (JPETS)” untuk Indonesia mulai pertengahan November 2026, bulan depan. JPETS ini sebenarnya telah diterapkan untuk Filipina, Vietnam, dan Nepal sejak 2025, dan kini menyusul untuk negara kita juga. Kebijakan ini mewajibkan calon pendatang dengan masa tinggal jangka menegah dan panjang (lebih dari 90 hari) untuk menjalani pemeriksaan TB sebelum keberangkatan dan memperoleh “TB Clearance Certificate” dari klinik rujukan yang telah ditunjuk pemerintah Jepang. Sertifikat bebas TB diperlukan untuk pengajuan “Certificate of Eligibility (CoE)” dari pihak Imigrasi Jepang.
Disampaikan agar semua WNI yang akan melakukan kunjungan dengan masa tinggal menengah atau panjang (lebih dari 90 hari) dan akan mengajukan “CoE” pada November 2026 dapat mengantisipasi persyaratan tambahan “TB Clearance Certificate”. Untuk menjalani skrining TB ini maka kita wajib menjalani pemeriksaan kesehatan (termasuk rontgen dada) di klinik yang sudah ditunjuk, dan pihak Jepang telah menetapkan 7 (tujuh) klinik yang ada di Jakarta, Tangerang, Bandung Semarang dan Bali.
Kebijakan pemerintah Jepang ini menunjukkan bahwa mereka mengupayakan maksimal penekanan angka tuberkulosis dinegaranya, termasuk kemungkinan kasus impor dari negara lain. Dari sisi kita, kebijakan baru untuk WNI ini dapat menjadi semacam pemicu agar kita dapat lebih menggiatkan lagi program pengendalian tuberkulosis di negara kita, sehingga status kita menjadi lebih baik.
———
Prof Tjandra Yoga Aditama
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University – Australia
Lulusan Diploma TB Control and Epidemiology dari Research Institute of Tuberculosis, Kiyose, Tokyo di tahun 1987, 40 tahun yang lalu


