KRJOJA.com JAKRTA – Penting bagi wanita hamil untuk mengonsumsi asam folat dalam jumlah yang cukup untuk pencegahan terhadap Spina Bifida atau cacat bawaan.
Spina bifida adalah kelainan bawaan lahir yang terjadi ketika pembentukan tulang belakang dan tulang belakang bayi tidak menutup sempurna selama masa kehamilan. Hal ini mengakibatkan adanya celah pada tulang belakang yang menyebabkan gangguan kesehatan.
“Spina bifida merupakan cacat sistem saraf pusat yang paling sering terjadi di dunia,” jelas Dr Eylem Nocal, Profesor Bedah Saraf Universitas Arkansas dalam seminar Spina Bifida yang digelar Universitas Yarsi pekan lalu.
Sedangkan Akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, Astri Avianti menekankan pentingnya pencegahan terhadap Spina Bifida atau cacat bawaan. ” World Health Organization (WHO)”, menyebutkan bahwa cacat lahir dialami sekitar 1 dari 33 bayi di dunia.
Menanggapi hal tersebut, menegaskan Astri Avianti menekankan pentingnya pencegahan terhadap Spina Bifida atau cacat bawaan.
“Bagaimana preventionnya, apa aja yang harus dikerjakan supaya tidak terjadi kecacatan ini. Jadi disini kita tidak hanya bekerja dari dokter saja ya, tapi dari konsultan genomics, kita punya disini ahli-ahli genetika,” ujar Astri.
Ia mengatakan, dengan pemberian asam folat sejak dini dapat mengurangi resiko kelahiran dengan kondisi spina bifida.
Menurutnya, penting bagi wanita hamil untuk mengonsumsi asam folat dalam jumlah yang cukup.
“Pencegahan bisa dilakukan sebelum kehamilan, bahkan kenapa sekarang anak SMP sudah dapet asam folat? Karena ini mereka masuk di masa pubertas, sebagai pencegahan sejak dini,” ujarnya.
Ia mengatakan, asam folat dapat berasal dari suplemen vitamin dan makanan seperti sayuran hijau, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
Saat ini, makanan siap saji kerap dikonsumsi yang menggangu kesehatan setiap orang.
“Sebenernya ya, makanan bergizi itu semua ada folic acidnya, yang paling besar itu sayur-sayuran. Kita selalu banyak dengan makanan-makanan yang sudah siap saji, jadi memang sebaiknya kita mengkonsumsi real food,” katanya.
Demi mencegah hal tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi menggelar seminar bet tema ‘Bangun pemahaman komperhensif untuk Penanganan dan Pencegahan Lebih Baik Spina Bifida’.
Dalam kesempatan yang sama Rektor Universitas Yarsi, Profesor Fasli Jalal mengatakan, Spina Bifida berdampak besar pada pertumbuhan otak, dan kecerdasan. Bahkan fungsi yang signifikan, serta learning disabilitynya yang akan kurang.
“Harusnya sejak lahir itu sudah bisa dicatat berapa prevalensinya dan siapa aja ibu-ibu yang mempunyai anak seperti itu. Sehingga secara demografi dan public health, kita bisa cegah dan follow up anak ini,” kata Fasli.
Untuk itu berbagai pencegahan harus dilakukan sejak dini kepada ibu hamil melalui konsumsi asam folat.
“Pertama tentu kalau bisa profil ibu hamilnya, kita tentu pelajari ada nggak perbedaan sel-sel tertentu,” katanya.
Fasli meminta pemerintah semakin serius dengan persoalan Spina Bifida ini, melalui pemberian zat besi dengan kandungan asam folat
Menurut Dr Nocal, WHO mencatat terdapat 300 ribu kasus spina bifida di seluruh dunia, atau terdapat 2 dari tiap 1.000 kelahiran janin akan mengalami spina bifida. Di Indonesia sendiri, belum diketahui prevalensi spina bifida pada bayi baru lahir.
“Sebanyak 130.000 kehamilan di seluruh dunia berisiko spina bifida dan 50 persen bayi di antaranya akan lahir prematur atau memiliki usia pendek,” jelas Dr Nocal.
Sementara itu, bayi yang lahir dengan spina bifida akan mengalami disfungsi neurologis sehingga membutuhkan banyak operasi agar dapat bertahan hidup. Hal ini membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi.
“Cara paling efektif, mudah, dan aman terkait spina bifida adalah pencegahan,” kata dia.
Diketahui penyebab spina bifida salah satunya adalah rendahnya kadar asam folat pada ibu sebelum dan selama masa kehamilan. “Solusinya adalah dengan memberi asupan asam folat atau Vitamin B9 400 mikrogram per hari pada perempuan produktif. Asupan ini bisa didapatkan dari makanan, dari suplemen dan dari makanan yagn difortifikasi dengan asam folat,” jelasnya.
(Ati)