Tahun 2016 hingga 2024, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd (Prof Fauzan), banyak dikenal sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tidak lama berselang,mulai 21 Oktober 2024 diamanahkan sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek). Sudah pasti dikenalnya lebih luas, se-Indonesia, terutama dunia perguruan tinggi dan terkait.
Prof Fauzan demikian sapaan akrabnya,minggu lalu menerima majalah KABAR Universitas Yarsi di ruang kerjanya. Berkomunikasi dengan alumnus Doktor Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Surabaya sangat ramah dan lugas.Banyak informasi berguna serta mencerahkan dikumandangkan bagi perguruan tinggi (PT) baik swasta dan negeri.
Prof Fauzan mengatakan, dalam rangka minimalisasi dan menghilangkan stigma negatif ( lulusan sarjana menganggur), mengelola PT harus menggunakan paradigma progresif. Jangan lagi PT mencetak sarjana-sarjana generik. Lantaran sifat generik itu bisa hidupnya pada masa tahun 70-80an dan saat itu kompetitor belum banyak.
Dikatakannya, dulu lulusan sarjana perikanan bisa langsung kerja karena memiliki kompetensi , kematangan dan tidak ada kompetitor. Seiring waktu, dinamika kehidupan berubah, mengarah pada tuntutan specific dan kompetitor sudah banyak.

Kini ,PT harus menyesuaikan kebutuhan industri, maka dibutuhkan spesifikasi kompetensi. Sehingga lulusan PT punya kompetensi sesuai industri ,modal pengalaman dan pengetahuan bertarung dalam dunia kerja dan wirausaha
PT harus juga punya inovasi dan improvisasi sesuai zaman kekinian. Contoh konkritnya program studi (Prodi) di PT membuka kelas pembaharuan atau kelas profesional. Syukur-syukur bisa menggandeng industri. “Insya Allah,jika terwujud ujungnya sarjana tidak akan menganggur,” ujarnya
Diungkapkannya, seseorang telah bergelar sarjana pola pikirnya sudah dewasa beda dengan non sarjana. Kalaupun nganggur, lazimnya sementara
Menurut Wamen Diktisaintek supaya lulusan PT tidak menganggur, setiap Prodi harus memberikan pembekelan kuat.Atau cara lainnya PT buat lembaga pelatihan kerja (LPK) bekerjasama kementerian (Dinas Tenaga Kerja). “PT membuka LPK berarti sudah peka, mempersiapkan lulusan punya keterampilan, dan keahlian,” cakapnya.
Guru Besar Bidang Pendidikan mengingatkan, LPK dibuat harus sesuai kebutuhan dan permintaan. Misalnya lokasi PT dekat industri tambang, otomotif atau industri perikanan maka LPK dibuat PT sesuai kebutuhan industri tambang, otomotif dan perikanan. Lalu kerjasama dengan dinas tenaga kerja , pemerintah daerah dan mengajak industri tambang, otomotif dan perikanan. Sehingga mahasiswa PT tersebut memiliki bekal kerja (keterampilan dan kreatifitas) sesuai kebutuhan industri.
Bila ini terlaksana akan jadi solusi pengangguran ,sementara PT tak sekedar mengurus akademis tapi laksanakan tanggung jawab sosial “Semua ini masih bagian Pendidikan (Diktisaintek Berdampak),”tutur Prof Fauzan
Ditambahkannya,PT sudah harus banyak melihat keluar, sehingga paham yang dibutuhan alumni. PT harus yakin dan jangan takut buka LPK. Kemendiktisaintek akan mendukung.
Kehadiran LPK yang didesain terencana, bagus dan terukur bisa cegah kemiskinan. Apa yang dilakukan PT seperti buka LPK dan kelas profesional ini namanya pendekatan progresif. “Tentu ini jawaban wujudkan Indonesia Emas 2045,”ucap Profesor tidak suka makan pedas.
Berbicara Indonesia Emas 2045 menurut Prof Fauzan dalam konteks kemajuan. Orang harus selalu bisa mendahului, bukan mengikuti. Tentunya diisi orang orang kreatif, selalu punya daya cipta, melahirkan kebaruan, dan ini berujung pada negara maju.
PT yang maju, mampu ciptakan lulusannya hidup bermartabat, merdeka dan sukses pada zamannya. Universitas Yarsi mampu mewujudkannya. Caranya harus kreatifitas sistem pembelajaran, tidak boleh lagi belajar model tentang ,tetapi harus ber. Contohnya, belajar di PTS tentang pertanian, perdagangan dan pertenakan harus mau bertani,berternak dan berdagang.
“Kepada Universitas Yarsi berulang tahun ke-58 , Yarsi harus punya kebaruannya,” imbuh Profesor jago tennis.
Dimensi kebaruan banyak dimiliki Yarsi, makanya harus terus dieksploitasi lebih dari catur darma dan tata kelolanya , Kemudian agar selalu tampil luar biasa. menghadapi kompetitor, Yarsi harus bangun komunikasi bermartabat dan harus lincah .
“Yarsi mesti jadi kampus berdampak, ini salah satu bantuan yarsi pada Kementerian, jangan berfikir eklusif tapi inklusif.,” tutup Prof Fauzan (Usman)


