GSCWU Undang Yarsi Jadi Pembicara Konferensi di Pakistan, Dosen MM Sampaikan Resiliensi Ekonomi dan Bisnis  Era AI

Ketahanan ekonomi dan bisnis tidak cukup diukur dari pertumbuhan dan efisiensi. Tapi dari keseimbangan antara teknologi dan nilai moral (technology + moral energy).

Lalu paradoks ekonomi digital dan kecerdasan buatan, di mana percepatan teknologi memang meningkatkan efisiensi. Tapi juga berpotensi memicu ketimpangan, ketidakamanan kerja, dan krisis etika jika tidak diiringi tata kelola yang memadai.

Dosen Magister Manajemen Universitas Yarsi, Dr.Ir.Any Setianingrum, M.E.Sy (Doktor Any) menyatakan itu saat jadi pembicara The 2nd International Conference on Emerging Trends in Business, Economics, and IT (ICEBE&IT) 2026 di Pakistan 2-3 Februari 2026 .

Selanjutnya dalam perhelatan bertema Climate Change and Resilience: Reimagining Business, Economy, and Technology for a Sustainable Future, Doktor Any  menyampaikan hal esensial lainnya seperti, pergeseran global menuju ekonomi kolaboratif dan sirkular, yaitu transisi dari kepemilikan ke berbagi, dari ekonomi linear ke sirkular, serta dari orientasi pertumbuhan semata menuju keberlanjutan dan resiliensi jangka panjang.

Kemudian peran kecerdasan buatan (AI) sebagai intelligent trust, bukan pengganti tanggung jawab manusia, melainkan alat untuk memperkuat transparansi, keadilan distribusi, dan pengambilan keputusan yang beretika dalam sistem ekonomi dan bisnis.

Serta kebutuhan indikator baru resiliensi dan keberlanjutan, yang melampaui GDP dan metrik konvensional, dengan memasukkan aspek sirkulasi nilai, keadilan sosial, tata kelola etis, serta kesejahteraan antargenerasi.

Doktor Any juga menegaskan, percepatan digital dan AI ,ketika melaju lebih cepat daripada tata kelola etis,. Meskipun begitu meningkatkan efisiensi dan kecepatan, juga melahirkan paradoks baru berupa ketimpangan sosial, volatilitas pendapatan, serta melemahnya perlindungan tenaga kerja.

Melalui konsep re-equilibrating resilience,  Ibu berhijab mengajukan gagasan ketahanan sejati hanya dapat dicapai ketika inovasi teknologi dipadukan dengan energi moral: nilai keadilan, sirkulasi kekayaan, dan tanggung jawab antargenerasi.

Dalam kerangka ini, AI  diposisikan sebagai intelligent trust (alat yang memperkuat transparansi, distribusi yang adil, dan pengambilan keputusan yang beretika). “Bukan sebagai pengganti nurani manusia,” cakap Dosen Ekonomi Islam dan Perbankan Syariah.

Selain itu Doktor Any juga menekankan pergeseran pascapandemi dari kepemilikan menuju kolaborasi, dari ekonomi linear menuju sirkular, serta dari orientasi pertumbuhan semata menuju keberlanjutan dan kesejahteraan. “Nilai ekonomi hanya bermakna ketika beredar secara etis dan memberi manfaat sosial yang luas,” tuturnya.

Menurut dosen MM Yarsi kehadirannya atas undangan  GSCWU dan para co-organizer sebagai salah satu international keynote speaker. menyampaikan pandangan mendalam dengan menempatkan resiliensi ekonomi dan bisnis di era AI dan pasca karbon sebagai persoalan keseimbangan sistemik, bukan sekadar kemampuan bertahan.

Lebih jauh Doktor Any menerangkan konferensi internasional ini digelar tiap tahun, kali ini yang kedua. Penyelenggaranya Faculty of Business and Management Sciences, The Government Sadiq College Women University (GSCWU )and co-organizers, Bahawalpur, Punjab, Pakistan.

Fokus: Konferensi ini menyoroti urgensi pengembangan dan penerapan model bisnis berkelanjutan, strategi ekonomi, serta kemajuan teknologi untuk menghadapi perubahan iklim dan memperkuat ketahanan.” Jadi pembahasannya mencakup adaptasi risiko iklim (panas ekstrem, kekeringan, dan banjir) serta upaya pengembangan teknologi hijau,” ujar Alumnus Doktor Universitas Airlangga.

Acara ini juga wadah berbagi gagasan inovatif guna mendorong terwujud masa depan berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Selain Doktor Any dari Indonesia, juga tampil sebagai pembicara Sagheer Abbas, Profesor dari Prince Mohammad Bin Fahd University, Arab Saudi; Saleem Ahmad, Associate Professor dari Guangzhou Vocational University of Science and Technology, Tiongkok; serta Piyya Muhammad Rafi-ul-Shan, Senior Lecturer bidang Sustainability & Operations dari Regent’s University London.. “Jadi konferensi internasional ini menghadirkan lima pembicara utama dari berbagai negara dan latar keilmuan,” tegas Doktor Any.

Istimewanya perhelatan  ini, jelang penutupan konferensi, dilakukan penandatanganan kerjasama (MoU) Universitas Yarsi dan GSCWU. Rektor Universitas Yarsi , Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D berkesempatan hadir secara daring untuk proses penandatanganan MoU.

Kerja sama ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa. “Serta penguatan jejaring akademik antara kedua institusi ke depan,” tutup Doktor Any yang sudah berulang kali jadi pembicara diluar negeri.(usman)