Seminar Nasional Kesehatan Haji 2026 Perkuat Standar Istithā‘ah Kesehatan Jamaah

JAKARTA, jakarta.suaramerdeka.com – Seminar Nasional Kesehatan Haji bertajuk “Istithā‘ah Kesehatan Calon Jamaah Haji yang Berkeadilan dan Bertanggung Jawab” digelar untuk memperkuat pemahaman, regulasi, dan praktik pemeriksaan kesehatan jamaah haji Indonesia.

Kegiatan ini mempertemukan akademisi, dokter, pemangku kebijakan, dan organisasi profesi guna menyamakan standar kesiapan kesehatan jamaah sebelum keberangkatan.

Ketua Pelaksana seminar, dr. Suryo Bantolo, menyampaikan bahwa isu istithā‘ah kesehatan tetap menjadi tantangan utama penyelenggaraan ibadah haji Indonesia dari tahun ke tahun.

Menurutnya, jumlah jamaah yang besar harus diimbangi dengan kesiapan kesehatan yang terukur, adil, dan berbasis tanggung jawab medis.

“Indonesia mengirim jamaah haji dalam jumlah sangat besar setiap tahun. Tantangan kesehatan yang terbawa sejak dari tanah air perlu dikelola dengan pendekatan istithā‘ah yang kuat, baik dari sisi regulasi, pemeriksaan medis, maupun edukasi,” ujarnya dalam laporannya di kampus Yarsi pada Sabtu, 14 Februari 2026.

Ia menjelaskan seminar ini bertujuan memperkuat kembali dasar-dasar istithā‘ah kesehatan, mulai dari aspek pemikiran, regulasi, hingga prosedur teknis pemeriksaan dan penetapan kelayakan kesehatan jamaah haji.

Dengan pemahaman yang seragam, diharapkan keputusan medis terkait kelayakan berangkat dapat dilakukan secara objektif dan bertanggung jawab.

Kolaborasi Akademik dan Profesi Kedokteran Haji

Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia sebagai wadah dokter yang fokus pada layanan dan kajian kedokteran haji.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk berkelanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Panitia juga menggandeng kolegium dokter untuk memastikan kegiatan ilmiah ini memberikan pengakuan Satuan Kredit Profesi (SKP) bagi peserta tenaga medis.

Seminar dibagi dalam dua sesi utama. Sesi pertama difokuskan pada penguatan konsep dan teori dasar istithā‘ah kesehatan haji, mencakup landasan medis, pendekatan promotif-preventif, serta perkembangan regulasi.

Sesi berikutnya membahas implementasi teknis dan praktik lapangan dalam pemeriksaan kesehatan calon jamaah.

Peran Perguruan Tinggi dan Penguatan Regulasi

Rektor Universitas Yarsi, Prof. Fasli Jalal, dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan kesehatan sebagai fondasi keberhasilan ibadah haji.

Ia menyoroti masa tunggu jamaah Indonesia yang panjang membuat aspek pemeliharaan kesehatan jangka panjang menjadi krusial.

“Penguatan regulasi dan standar kesehatan haji perlu terus disesuaikan dengan dinamika kebijakan pemerintah dan otoritas penyelenggara haji,” tekannya.

Perguruan tinggi, kata dia, berperan dalam riset, edukasi, dan inovasi digital untuk mendukung sistem kesehatan haji yang lebih baik.

“Persiapan kesehatan tidak hanya menyasar calon jamaah, tetapi juga keluarga dan lingkungan pendukung. Upaya promotif, preventif, deteksi dini, dan pengendalian penyakit kronis harus diperkuat agar jamaah siap saat waktu keberangkatan tiba,” katanya.

Prof. Fasli menambahkan bahwa skala pergerakan jamaah haji dan umrah Indonesia yang mencapai jutaan orang per tahun menjadikan aspek kesehatan sebagai faktor strategis bagi kualitas ibadah sekaligus produktivitas sumber daya manusia setelah kembali ke tanah air.

Seminar ini turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, antara lain Bank Syariah Indonesia (BSI), perusahaan inovasi kesehatan, serta Prodia dan Rumah Sakit Yarsi.

Dukungan tersebut mencakup edukasi kesehatan, layanan penunjang diagnostik, dan literasi kesiapan medis jamaah.

Melalui forum ini, para pemangku kepentingan berharap standar istithā‘ah kesehatan jamaah haji semakin seragam, transparan, dan berbasis bukti medis, sehingga melindungi keselamatan jamaah sekaligus menjamin pelaksanaan ibadah haji yang optimal

Sumber:

Lihat