Biarpun Lelah Kuliah Kedokteran, Tahun 2029 Insya Allah Jadi Dokter

Dokter masa kini sudah sangat hebat dan maju. Meski tantangan regulasi pemerintahan dan kesejahteraan dokter di Indonesia masih memprihatinkan. ditambah persaingan di masa depan akan sangat ketat, tetap optimistis  profesi dokter akan selalu dibutuhkan.

Bagi mahasiswa kedokteran tolok ukur suksesnya harus lulus tepat waktu. Khusus mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi (FKUY) ditambah wajib mampu menerapkan seluruh kaidah dokter muslim.

Selanjutnya menjadi dokter bukan hanya tentang profesi. Tapi juga bagaimana ilmunya dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Yarsi, Shafira Hanifa (Shafira) menyatakan hal itu terkait seputar dunia kedokteran

Shafira, nanti setelah dibaiat jadi dokter,punya tiga rencana. Bekerja mempraktekkan ilmunya, mencoba berkarir sebagai dokter perusahaan, dan membangun rumah tangga.

Tentu  meraihnya ada upaya. Selain ikhtiar dan doa juga minta doa dari kedua orang tua. Ayah berpesan agar selalu rajin, tetap semangat belajar. Sementara Ibu berharap kelak jadi dokter disenangi banyak orang, membawa manfaat bagi sesama, dan paling utama, selalu ingat Allah SWT setiap langkahnya.

Menurut Shafira, setiap proses perkuliahan kedokteran, praktikum, hingga ujian yang melelahkan. Tapi itu bagian dari langkah besar menuju impian ingin dicapai  tahun 2029. Hingga tepat waktunya resmi mengucapkan sumpah dokter.

Lebih jauh masuk perkuliahan kedokteran merupakan perjalanan tidak mudah bagi seorang calon klinisi Tugas padat, jadwal ujian beruntun, hingga tantangan praktikum, menjadi bagian dari makanan sehari-hari.

Tidak itu saja, kondisi ini momen-momen menyebalkan muncul. Seperti harus menjalani ujian susulan hanya karena perbedaan preferensi penguji, mendapat jadwal ujian yang berturut-turut tanpa jeda, hingga waktu liburan yang terpangkas karena harus belajar.

Mata kuliah seperti Farmakologi dan Histologi sempat menjadi highlight tersendiri bagi Shafira, Pasalnya Farmakologi menuntutnya menghafal sekian banyak jenis obat. Sementara Histologi memaksanya membedakan gambar-gambar jaringan yang sekilas terlihat mirip. Kondisi seperti ini tidak boleh menyerah dan harus berjuang,

Justru suasana itu sangat menikmati pelajaran. Walaupun materi tersebut tidak bisa dibilang mudah. Rasa suka yang besar membuatnya selalu bersemangat mempelajarinya lebih dalam. “ Pelajari konsep dasar dan berguru kepada yang lebih ahli semua itu jadi Solusi.,” terang Shafira

Selanjutnya, keputusan belajar ke fakultas kedokteran sepenuhnya lahir dari tekad dan kemauan sendiri. Shafira punya motivasi kuat menjadi dokter pertama di lingkaran keluarganya, sekaligus membuktikan ilmu yang ditimba dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Lebih lanjut, di tengah padatnya kehidupan akademik menguras energi dan lelah, Shafira tetap aktif  organisasi ,mengembangkan kapasitas kepemimpinannya. Kini menjabat Kepala Staff Ahli Internal Senat Mahasiswa FKUY periode 2025/2026 dan juga bergabung sebagai anggota SCORE CIMSA FKUY. Wadah gunakan untuk memperluas relasi, belajar bersosialisasi, dan tetap produktif di luar jam kuliah.

Untuk menjaga kesehatan mentalnya dari kelelahan aktivitas kedokteran, Shafira memiliki tiga hobi utama sebagai sarana stress release: olahraga, memasak, dan fotografi.

Di bidang olahraga, Shafira aktif lari (bahkan pernah menyelesaikan Marathon 5K), pilates, tenis, berkuda, hingga berenang. Sementara lewat fotografi, ia menyalurkan sisi kreatifnya dengan menangkap keindahan visual melalui lensa kamera.

Karena hobinya fotografi, semester 6 Shafira mengambil mata kuliah kepeminatan medical journalism. Ditambah pengalaman SMA menjadi Ketua Divisi Jurnalistik dan pernah meraih Juara 1 Harapan Lomba Fotografi Potreight SMAN 8 Jakarta

Seluruh pengalaman organisasi dan kompetisi sejak dini jadi laboratorium hidup melatih tanggung jawab,  kerjasama dan bagian dari solusi. “ Biarpun kuliah kedokteran sangat sukar,Insya Allah Tahun 2029 Jadi Dokter,” tekad Shafira ,( Mahasiswa FK,Medical Journalim, Shafira Hanifa)