Presiden ke Inggris Kerjasama Pendidikan STEM, Yarsi Gelar Diskusi STEM Hadirkan Peraih Nobel Kimia dan Ilmuwan Dunia

Akhir Januari 2026 Presiden Prabowo Subianto kunjungan kerja ke Inggris gelar rapat bersama Russell Group, yaitu kelompok 24 universitas papan atas di Inggris. Hasilnya Indonesia ingin kuatkan  kerjasama pendidikan dengan membangun kampus kedokteran dan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di Indonesia.

STEM merupakan salah satu bidang pendidikan telah disorot Presiden Prabowo Subianto dan  memberikan arahan untuk alokasi peruntukan dari beasiswa LPDP diperbanyak ke STEM nya serta berharap mencapai di atas 80 persen, karena Indonesia memang konsentrasi mengejar ketertinggalan dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi

Terkait pendidikan STEM, selang berapa hari, Jumat, 30 Januari 2026 Universitas Yarsi Gelar Public Lecture bertajuk “STEM powerment for All: Breaking Barriers, Building Futures

Dalam diskusi ilmiah ini  hadir sebagai pembicara Prof Morten  Meldal (Prof Morten) ilmuwan dunia, sekaligus peraih Nobel bidang Kimia,  dan Dr.Phaedria St.Hilaire (Doktor Phaedria).

Prof Morten P. Meldal menyampaikan kunci sukses belajar bidang STEM harus memperhatikan bagaimana alam tersusun dan bagaimana bekerjanya. Sehingga mendapatkan pengalaman kehidupan nyata dan bisa melakukan pendalaman berpikir.

Menurut Prof Morten,kini penguasaan teknologi telepon selular dan komputer memang punya arti penting , namun tidak menggantikan pengalaman langsung dan kedalaman berpikir, seperti melalui pengamatan terhadap cara kerja alam.

“menyampaikan pengalaman langsung dapat mempercepat seseorang paham aneka fenomena sains secara nyata.,” tutur Prof Morten.

Selanjutnya,kini banyak anak muda lahir dan besar di perkotaan punya kecenderungan kurang interaksi  dengan proses alam, sehingga  tidak mengalami total peran alam dalam kehidupan sehari-hari.

Prof.Moren juga menilai kehidupan di kota besar membuat manusia makin sedikit menyaksikan langsung keajaiban alam, karena paparan pengalaman nyata semakin berkurang. Karena itu dia menekankan pentingnya menyediakan waktu sejenak, duduk, mengamati, dan merenungkan suatu proses secara mendalam. Relaks, duduk, mengalami bagaimana sesuatu bekerja, lalu memikirkannya. Kita harus punya waktu untuk berpikir,” ujar peraih Nobel Kimia.

Mereka ingin berkarya di STEM teruslah melatih alur pikir mandiri dan runtut, hingga raih solusi ,meski saat ini dasyatnya arus informasi digital. Bangun kemampuan berpikir dari titik A sampai titik Z, jaga pikiran tetap pada satu gagasan  hingga memperoleh solusi. “STEM pada dasarnya tentang masalah dan solusi,” tutup Prof Morten .

Sementara Doktor Phaedria mengungkapkan karakter Generasi Z dinilainya punya keberanian, kejujuran, dan kemampuan berjejaring yang kuat. Mereka menyuarakan pendapat, dan bagaimana mereka terhubung satu sama lain. Karena itu kini Generasi Z pentingnya membangun ketangguhan mental agar generasi muda tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Jadi jika banyak anak muda ingin menjadi pakar di STEM, harus bangun keberanian mental, terus berjuang, dan tetap gembira,” ingatnya.

Diwaktu bersamaan Rektor Universitas Yarsi, Prof dr. Fasli Jalal, Ph.D (Prof Fasli) mengingatkan inklusivitas bernilai penting dalam pengembangan STEM. alasannya seluruh lapisan masyarakat berkesempatan membentuk masa depan lewat inovasi dan riset.

STEM itu tentang manusia, siapa endapatkan akses, kesempatan, dan akhirnya siapa bisa membentuk masa depan ” Jadi STEM bukan hanya tentang laboratorium atau inovasi.,” tutur Prof Fasli

Menurut Wakil Menteri Pendidikan Nasional tahun 2010, kini masih banyak perempuan dan anak muda menghadapi hambatan sosial serta ketimpangan akses terhadap pendidikan STEM berkualitas.
“Jika talenta itu luas, maka kesempatan juga harus luas,” cakap Prof Fasli.

Selanjutnya, Prof Fasli juga menyinggung terkait pengembangan sains di lingkungan kampus. Menurut Alumnus Cornell University New York, pengembangan sains di lingkungan sains harus disertai dengan tanggung jawab etika dan inklusi sosial.

Lembaga pendidikan memiliki peran penting mengadakan lingkungan belajar bebas diskriminasi sekaligus menghadirkan contoh teladan agar mahasiswa, khususnya perempuan muda, dapat mendapatkan rasa kepercayaan diri, masuk dan berkembang di bidang STEM.

Jadi kehadiran ilmuwan kelas dunia dan peraih Nobel Kimia, merupakan sumber inspirasi perempuan Indonesia agar bisa menduduki posisi puncak di bidang STEM. “ Semoga,” seru Prof Fasli.

Executive Director Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menerangkan event ini kerja bareng Universitas Yarsi, Plan Indonesia, dan mitra global. Tujuannya memperkuat peran perempuan dan anak muda dalam pendidikan dan kepemimpinan STEM.

“Kolaborasi ini bukan hanya STEM sebagai sektor, tapi sebagai cara berpikir kritis, ingin tahu, dan kolaboratif,” cakap Dini.

Direktur Sistem Pembelajaran Transformatif Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek) Kemendiktisaintek, Prof. Ardi Findyartini, hadir dalam diskusi ini menilai acara ini sangat penting  menginspirasi generasi muda perempuan agar tidak ragu memilih bidang STEM sebagai jalur pendidikan dan karier.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus mendorong peningkatan peran perempuan di bidang STEM. Jumlah perempuan di STEM masih relatif sedikit dan perlu terus ditingkatkan,” tuturnya (usman)