Kasus akibat virus Nipah kali ini memang masih hanya terjadi di India, walau sebelumnya pernah terjadi di Malaysia, Singapura, Filipina dan Bangladesh. Sudah banyak diketahui bahwa penyakit ini bermula dari kelelawar buah, genus Pteropus, yang kemudian menular ke manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui makanan terkontaminasi. Walaupun memang tidak ada kasus pada manusia di negara kita, tetapi baik kita ketahui tentang tiga publikasi ilmiah virus nipah pada kelelawar di beberapa provinsi kita, berdasarkan penelitian ahli-ahli kita.
Pertama adalah penelitian oleh Indrawati Sendow, Atik Ratnawati, Trevor Taylor yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Plos bulan Juli 2013. Judul artikel hasil penelitiannya adalah “Nipah Virus in the Fruit Bat Pteropus vampyrus in Sumatera, Indonesia”, di. Hasil penelitian ini adalah laporan bukti molekuler pertama bahwa virus Nipah memang beredar di populasi kelelawar buah Pteropus vampyrus di Sumatera. Virus ini tidak dapat dibedakan dari virus yang terdeteksi pada kelelawar Pteropus vampyrus di Semenanjung Malaysia. Analisis penelitian menunjukkan bahwa sekuens nukleotida Indonesia dan Malaysia lebih selaras satu sama lain daripada dengan sekuens Bangladesh atau India.
Ke dua, peneliti kita yang lain, Dimas Bagus Wicaksono Putro, Arief Mulyono dkk meneliti 64 kelelawar buah dari pasar hewan di Yogyakarta (37 kelelawar) dan di Magelang (27 kelelawar). Dari 64 ini maka sesudah penelitian mendalam didapatkan 2 kelelawar di Magelang yang positif virus Nipah. Penelitian ini dipublikasi pada jurnal ilmiah “Emerging Infectious Diseases” pada April 2025 dengan judul “Nipah Virus Detection in Pteropus hypomelanus Bats, Central Java, Indonesia” Analisis filogenetik selanjutnya menemukan bahwa kelelawar yang positif ini adalah genotip Malaysia, yang juga berkerabat dengan virus nipah dari kelelawar Pteropus di Kamboja, dan juga kelelawar Pteropus hypomelanus di Thailand. Peneliti ini menyatakan bahwa temuan ilmiah mereka menunjukkan adanya hubungan genetika yang kuat pada virus Nipah di Asia Tenggara dan mengindikasikan kemungkinan adanya transmisi regional.
Ke tiga, peneliti Indrawati Sendow, Hume Field dll melakukan penelitian serologi yang menyimpulkan bahwa infeksi Nipah telah terjadi pada kalong kelelawar Pteropus vampyrus di Indonesia, namun pada babi belum terjadi. Judul artikel penelitiannya adalah “Seroepidemiologi Nipah Virus Pada Kalong Dan Ternak Babi Di Beberapa Wilayah Di Indonesia” yang dipublikasi pada “Indonesian Journal of Biology”. Para peneliti ini menegaskan bahwa dengan ditemukannya reaktor Nipah pada kelelawar Pteropus vampyrus tetapi tidak pada babi di Indonesia, tidak berarti bahwa ternak babi aman dari infeksi Nipah.
Semua hasil penelitian di atas kembali menegaskan pentingnya pendekatan Satu Kesehatan atau “One Health”, yaitu mengkoordinasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan di negara kita.
—————
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes


