Peraih Nobel Kimia Ungkap Waktu Tepat Mengenalkan STEM pada Anak

KOMPAS.com – Pendidikan di Indonesia semakin fokus mengarah ke bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju lainnya.

Itu sebabnya para orangtua masa kini mulai tersadar untuk turut mengarahkan anak-anaknya ke bidang STEM.

Di satu sisi sudah menjadi rahasia umum bahwa STEM terkesan sulit untuk dipelajari sehingga membuat anak-anak menyerah sebelum “perang”.

Untuk dapat mendalami bidang tertentu perlu ketertarikan yang kuat dari diri seorang individu, termasuk pada STEM.

Sebaiknya orangtua mulai mengenalkan STEM kepada anak-anak?

Pasangan peraih Nobel 2022 di bidang kimia, Prof. Morten Meldal dan ilmuwan sekaligus aktivis STEM, Dr. Phaedria St. Hilaire yang menetap di Denmark membagikan pandangan mereka.

Idealnya di usia 3 tahun

Phaedria berpendapat tidak ada batasan usia yang nyata. Sebab anak-anak masa kini sering bermain dengan gawai dan ada banyak fitur digital yang dapat mereka mainkan dari waktu ke waktu.

“Kami memberi anak kami peralatan kimia ketika dia berusia 3 tahun,” ucap Phaedria dalam kuliah umum dengan tema STEMpowerment for All: Breaking Barriers, Building Futures di Universitas Yarsi, Jakarta Pusat, Jumat (30/1/2026).

Senada, Morten menuturkan opininya bahwa usia 3 tahun belum terlalu dini.

“Saya rasa, tentu saja sebagai tambahan adalah bahwa kita juga membutuhkan kemauan politik untuk benar-benar merekomendasikan kepada orangtua agar mereka mengarahkan anak-anak mereka ke bidang STEM dan membantu mewujudkannya, agar mereka memfasilitasi hal ini melalui pengajaran politik,” kata Morten.

Belajar ke alam

Phaedria menuturkan banyak sarana belajar STEM di internet sehingga bisa dilakukan setiap hari.

“Saya menyadari tidak semua orangtua adalah ilmuwan. Maka itu salah satu hal yang dapat Anda lakukan adalah membentuk komunitas seperti satu orangtua lalu pergi melihat alam,” ucap Phaedria yang juga seorang Ambassador of Global Girls Foundation/Plan International .

Morten sendiri dulu saat masih kanak-kanak terinspirasi karena kebun milik kakek neneknya.

“Dan saya bertanya-tanya bagaimana pohon berkomunikasi dengan satu sama lain, bagaimana serangga tahu bunga mana yang harus ia kunjungi,” cerita Morten.

Belajar dari apa yang ada di sekitar kita juga bisa bermanfaat. Misalnya membahas kembang api, sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran kimia.

Ketika berada di tengah alam, orangtua dapat aktif bertanya ke anak. “Anda tidak harus memiliki jawabannya, tetapi dengan mengajukan pertanyaan itu sendiri, anak-anak akan belajar untuk bertanya juga dan memiliki rasa ingin tahu tentang berbagai hal. Mereka sendiri menunjukkan rasa ingin tahu tersebut, pergi ke alam dan berkumpul bersama, belajar, menggunakan apa yang tersedia di internet,” kata Phaedria.

Sumber:

Lihat