Awal pekan ini telah diungkap bahwa virus hanta yang menginfeksi sejumlah orang di kapal pesiar MV Hondius diduga dibawa seorang warga Belanda yang terinfeksi di Argentina. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengonfirmasi bahwa virus tersebut merupakan galur Andes yang dapat menular dari manusia ke manusia.
Lantas, apakah yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius bisa terjadi di Indonesia?
Dalam artikel ini, Kompas menyajikan wawancara singkat dengan ahli mikrobiologi yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Pratiwi Pujilestari Sudarmono. Perempuan pertama RI yang dicalonkan sebagai astronot ini, saat ditemui di Menara Kompas, Jakarta, Senin (11/5/2026), menjelaskan risiko penularan virus hanta di Indonesia.
Namun, sebelumnya, kita tengok lebih dahulu, apa yang terjadi di MV Hondius. Sebab, virus hanta yang menginfeksi orang di kapal pesiar itu terkait dengan negara keberangkatan warga Belanda yang diduga menjadi pembawa virus itu. Sementara di Indonesia, virus hanta juga sudah terdeteksi sejak lama.

Hingga Senin (11/5/2026) dini hari, 94 orang dari setidaknya 140 orang di MV Hondius telah dievakuasi. Kapal itu bersandar di Kepulauan Canary, wilayah Spanyol di pesisir barat Afrika. Dari seluruh orang di MV Hondius itu, tiga orang telah tewas.
Korban pertama dan kedua diidentifikasi sebagai Leo Schilperoord (70) dan Mirjam Schilperoord (69). Mereka merupakan pasangan suami istri dari Belanda yang berkeliling Amerika Selatan sejak akhir November 2025. Agenda utama mereka melihat-lihat burung. Mereka ornitologis, orang yang mempelajari burung.
WHO membenarkan ada dua warga negara Belanda menjadi korban pertama infeksi virus hanta di MV Hondius. Walakin, WHO tak mengungkap identitasnya. WHO juga menduga kuat, paparan awal terjadi sebelum penumpang naik kapal.

Apakah penularan virus hanta di MV Hondius akan terjadi juga di Indonesia? Berikut petikan wawancara Kompas dengan Pratiwi Pujilestari yang kini juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi:
Dalam konteks Indonesia, apakah virus hanta juga bisa mudah menular seperti ditemukan di MV Hondius?
Sebenarnya, virus hanta sudah lama ada di Indonesia. Sejak sekitar tahun 2000-an, virus ini mulai teridentifikasi. Virus hanta pertama kali ditemukan di Korea. Pada masa itu, Indonesia juga sedang ramai kasus penyakit yang ditularkan oleh tikus, seperti leptospirosis, terutama saat banjir melanda Jakarta.
Kemudian diketahui bahwa selain leptospirosis, ada juga virus lain yang ditularkan tikus, salah satunya virus hanta. Mulailah dibahas berbagai penyakit yang dapat ditularkan oleh tikus. Penularan tidak hanya melalui air kencing tikus, tetapi juga melalui udara di sekitarnya. Jika suatu tempat dipenuhi tikus, udara di sekitarnya dapat mengandung bakteri dan virus yang berasal dari tikus tersebut.
Penularan dari tikus ke manusia terjadi jika manusia terpapar cairan tubuh tikus yang mengandung virus. Jadi, virus hanta sebenarnya sudah lama ada di Indonesia. Yang menjadi perhatian kemudian adalah ditemukannya varian virus di Amerika Latin—bukan di Asia—yang dapat menular dari manusia ke manusia.
Varian inilah yang diduga menyerang di kapal pesiar tersebut. Kapal itu sempat singgah di Argentina. Kemungkinan beberapa penumpang turun dan terpapar lingkungan yang terkontaminasi, misalnya di sekitar tempat sampah. Dari situlah penularan diduga terjadi. Varian tersebut dikenal sebagai varian Andes, yang dapat menular dari tikus ke manusia, dan juga dari manusia ke manusia melalui pernapasan.
Namun, tingkat penularannya tidak secepat Covid-19. Penularan antarmanusia hanya terjadi jika ada kontak erat. Itulah sebabnya, dalam kasus Gene Hackman, penularan dari istri ke suami masih memungkinkan. Namun, penularan kepada orang lain yang tidak memiliki kontak dekat, seperti rekan kerja atau tetangga yang berjauhan, sangat kecil kemungkinannya.
Karena itu, para ahli menyatakan bahwa indeks penularan virus hanta tergolong rendah. Tidak perlu panik seperti menghadapi Covid-19 karena virus ini tidak mudah menyebar di masyarakat.
Untuk Indonesia, sejauh ini tercatat sudah ada beberapa ratus kasus virus hanta berdasarkan surveilans. Pada 2026, dilaporkan beberapa kasus terakhir di Jakarta dan Yogyakarta. Namun, varian Andes belum pernah ditemukan di Indonesia.

Bagaimana kalau varian Andes ditemukan di Indonesia?
Jika suatu saat varian Andes ditemukan, perlu dilakukan edukasi dan langkah pencegahan yang ketat. Saat ini sudah ada protokol penanganan, mulai dari isolasi pasien hingga pembagian tugas antara rumah sakit, puskesmas, dan dinas kesehatan. Surveilans juga dilakukan pada populasi tikus sebagai reservoir virus.
Jadi virus hanta di Indonesia tidak menular dari manusia ke manusia?
Di Indonesia, virus hanta yang ada tidak menular dari manusia ke manusia. Penularan antarmanusia hanya ditemukan pada varian Andes yang belum ada di sini.
Intinya, kebersihan tetap menjadi kunci. Tikus biasanya berada di tempat sampah, rumah yang kotor, atau lingkungan yang tidak sehat—yang seharusnya tidak layak secara kesehatan masyarakat. Selain virus hanta, penyakit yang paling banyak ditularkan oleh tikus di Indonesia justru leptospirosis, terutama saat banjir.
Saat ini, secara mikrobiologi, penyakit yang paling dominan adalah TBC. Indonesia bahkan menempati peringkat pertama dunia dalam rasio kasus per jumlah penduduk. Karena itu, di Jakarta, upaya deteksi dini sangat digencarkan. Jika ada gejala, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke puskesmas.
Sumber:
Lihat

