Di Indonesia, kini masih banyak perguruan tinggi negeri(PTN) belum unggul, apalagi punya akreditasi internasional. Begitu juga perguruan tinggi swasta (PTS), sangat sedikit.
Alhamdulillah dan bersyukur itu kata layak diucapkan para mahasiswa Universitas Yarsi. Pasalnya Universitas berusia 59 tahun, kini tidak saja sudah akreditasi unggul, juga sudah akreditasi internasional.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, juga Konsultan Program Internasional, Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, Sp. M (K) mengatakan, akreditasi internasional relative mahal. Karena salah satu cara investasi strategis dari perguruan tinggi. Biaya dikeluarkan sebanding dengan peningkatan kualitas, daya saing lulusan, dan kepercayaan publik dalam jangka panjang.
Akreditasi adalah jaminan sistem mutu.Terakreditasi internasional berarti kualitas pendidikan telah memenuhi standar lembaga akreditasi internasional.
Menurut Prof.Ratna, indikator suksesnya akreditasi internasional antara lain, lulusan kompetitif dan terserap kerja, jejaring internasional aktif, peningkatan reputasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Untuk Yarsi, akreditasi internasional adalah alat, bukan tujuan akhir , dan jaga konsistensi kualitas,” tegas Prof Ratna,Senin lalu di Jakarta, saat ditanya akreditasi suatu kampus.
Kini Universitas Yarsi selain sudah unggul juga memiliki 7 program studi(prodi) yang terakreditasi FIBAA, yaitu prodi S1 Manajemen, S1 Akuntansi, S2 Magister Manajemen (MM), S1 Ilmu Hukum , S2 Magister Kenotariatan (MKn), S1 Psikologi dan S1 Perpustakaan dan Sains Informasi.
Pada tahun 2023 baru 4 prodi terakreditasi FIBAA melalui Hibah Fasilitasi, dan menjadi 7 prodi tahun 2026. Ke depan, Universitas Yarsi akan terus mengembangkan akreditasi internasional relevan dengan karakter masing-masing prodi , serta memperkuat kerja sama dengan industri dan institusi global.
Menurut Prof Ratna ,lewat langkah ini, Yarsi optimis dapat meningkatkan kepercayaan dan berdampak kepada masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan memiliki akreditasi internasional,Yarsi telah memenuhi standar lembaga akreditasi internasional (FIBAA). Hal ini memastikan proses pendidikan berjalan sesuai standar global.
Secara tidak langsung akreditasi ini juga memastikan kampus (Universitas Yarsi) telah memenuhi berbagai aspek utama, yaitu capaian pembelajaran terukur, dosen kompeten dan terus berkembang, kurikulum adaptif terhadap perkembangan global, fasilitas pendukung yang memadai, serta tata kelola transparan dan akuntabel.
“Selain itu, integrasi nilai-nilai keislaman dalam kerangka Caturdharma jadi ciri khas membentuk lulusan unggul dan berkarakter,”tutur Alumnus Doktor Universitas Indonesia.
Lebih jauh, Universitas Yarsi memandang akreditasi internasional bukan sekedar memperoleh sertifikat. Melainkan sebagai fondasi untuk peningkatan mutu berkelanjutan alias jaga konsistensi Kualitas.
Setelah memperoleh akreditasi, prodi tetap berada dalam pemantauan dan evaluasi berkala, sehingga standar telah dicapai tidak hanya dipertahankan, tetapi terus ditingkatkan.
“Jadi ada monitoring berkala dan kewajiban pelaporan memastikan prodi jalankan prinsip continuous improvement,” terang Ibu Prof berhijab.
Selanjutnya, akreditasi itu fondasi. Ranking dan reputasi meningkat jika diikuti oleh outcome nyata sehingga lulusan terserap kerja, kolaborasi internasional aktif, publikasi meningkat, dan kontribusi ke masyarakat. “Jadi kuncinya adalah menghubungkan akreditasi dengan dampak,” cakap Prof Ratna juga pendidik..
Ditambahkannya, Universitas Yarsi kini berada pada fase penting mentransformasikan capaian kualitas menjadi reputasi yang lebih luas di Masyarakat. Caranya Yarsi menekankan pada manfaat nyata bagi lulusan, seperti kesiapan kerja, daya saing global, dan peluang pengembangan karier.
Dalam menghadapi dinamika global, Yarsi juga terus mendorong peningkatan kapasitas dosen.
Tentu termasuk dalam publikasi ilmiah dan kolaborasi internasional (wajib publikasi internasional). Namun pendekatan digunakan bersifat proporsional dan bertahap, dengan tetap menjaga keseimbangan antara kualitas pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat
lebih luas lagi, dengan diraihnya akreditasi internasional kurikulum tidak harus menggunakan bahasa inggris penuh.Terpenting adanya dimensi internasional dalam kurikulum. penggunaan bahasa Inggris dapat diperkuat secara bertahap.Terutama pada kelas internasional atau modul tertentu dalam kurikulum
Universitas Yarsi meyakini, memiliki akreditasi internasional ada tantangan, berupa perubahan budaya kerja prodi. Dari yang administratif menjadi berbasis mutu dan evidence. “Ini butuh komitmen seluruh sivitas akademika,”seru Prof Ratna juga klinisi..
Kini dengan memiliki akreditasi Internasional sumber daya manusia (dosen dan tendik) Universitas Yarsi terus melakukan pelatihan berkelanjutan, peningkatan kompetensi dosen, exposure internasional, serta penguatan sistem kerja berbasis standar global.
Prof Ratna menandaskan, akreditasi internasional bukan sekadar pencapaian sesaat. Justru dirancang menjaga konsistensi kualitas.
Kini Universitas Yarsi sudah unggul ,akreditasi internasional dan terus perkuat join industri global, membuat orang tua dan calon mahasiswa yakin Yarsi tempat yang tepat meraih masa depan. Ayo jadi mahasiswa Yarsi, Segera daftar.(usman)


