Wisuda 477 Lulusan, Tampilkan Prestasi dan Inovasi Global

UNIVERSITAS YARSI menggelar acara Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Semester Ganjil Tahun Akademik 2026 di Kampus Universitas YARSI, Jakarta, pada Sabtu (25/4). Momentum ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan perjalanan panjang YARSI yang hampir memasuki usia 60 tahun.

Universitas YARSI menggelar Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Semester Ganjil Tahun Akademik 2026 di Universitas YARSI, Jakarta, pada Sabtu (25/4). Hal ini menandai capaian akademik sekaligus komitmen kampus dalam mencetak sumber daya manusia unggul.

Momentum wisuda kali ini terasa istimewa karena berlangsung di tengah perjalanan panjang YARSI yang hampir memasuki usia 60 tahun. Lebih dari sekadar seremoni kelulusan, acara ini menjadi refleksi atas transformasi YARSI sebagai perguruan tinggi yang mengedepankan kualitas akademik, inovasi teknologi, serta pembentukan karakter berbasis nilai.

Rektor YARSI, Prof Fasli Jalal, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, wisuda kali ini menjadi penegasan bahwa perguruan tinggi tidak sekadar meluluskan mahasiswa, melainkan membentuk manusia yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan integritas dan kompetensi yang utuh.

“Kita patut bersyukur karena jumlah wisudawan periode ini cukup besar. Total wisudawan mencapai 477 orang, terdiri dari sekitar 420 sarjana dan 57 pascasarjana. Wisuda sendiri rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun,” ujarnya kepada wartawan di Universitas YARSI, Jakarta pada Sabtu (225/4).

Salah satu momen yang mencuri perhatian dalam wisuda kali ini adalah hadirnya wisudawan pascasarjana berusia 70 tahun. Menurut Fasli, capaian tersebut menjadi simbol nyata semangat belajar sepanjang hayat.

“Hal yang menarik, terdapat seorang wisudawan pascasarjana yang berusia 70 tahun. Ia menyelesaikan pendidikannya dengan penuh semangat belajar di usia lanjut. Atas dedikasinya tersebut, kampus memberikan apresiasi khusus,” katanya.

Fasli menjelaskan bahwa di bidang akademik khususnya Fakultas Kedokteran, YARSI mencatat prestasi membanggakan. Salah satu lulusannya berhasil meraih nilai tertinggi nasional dalam Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dengan skor nyaris sempurna.

“Salah satu lulusan berhasil meraih nilai tertinggi nasional dalam UKMPPD dengan skor 99,99. Ini hampir sempurna dan mengalahkan berbagai universitas lainnya,” ungkap Fasli.

Secara keseluruhan, lebih dari 220 mahasiswa kedokteran lulus tahun ini. Mereka diharapkan segera menyelesaikan tahap koas dan dapat mengabdi sebagai dokter dalam dua tahun ke depan.

Dorongan Internasionalisasi dan Daya Saing Global

Dalam upaya memperluas daya saing global, YARSI terus mendorong internasionalisasi kampus melalui berbagai indikator, mulai dari peningkatan jumlah mahasiswa asing hingga keterlibatan dosen internasional.

Program summer course yang diikuti peserta dari berbagai negara seperti Eropa, ASEAN, dan Australia menjadi salah satu langkah konkret. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris mahasiswa diperkuat hingga tujuh semester.

“Kami juga sedang menyiapkan jalur kurikulum internasional, khususnya di Fakultas Kedokteran,” ujar Fasli.

Tak hanya itu, kualitas akademik YARSI juga diperkuat dengan capaian akreditasi. Sebanyak delapan program studi telah meraih predikat unggul, sementara tujuh di antaranya telah mengantongi akreditasi internasional.

“Dengan capaian ini, lulusan kita diharapkan lebih mudah masuk ke pasar kerja global karena standar pendidikan kita sudah setara dengan Eropa, Amerika Utara, dan Australia,” jelasnya.

Tak hanya unggul dalam akademik, Fasli menegaskan bahwa pendidikan di YARSI juga fokus pada pembentukan karakter yang berbasis nilai-nilai keislaman.

“Mahasiswa tidak hanya dibekali ilmu dan kompetensi, tetapi juga akhlak, integritas, kejujuran, serta semangat bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah,” tuturnya.

Mahasiswa juga didorong untuk memahami Al-Qur’an dan mengaitkannya dengan bidang keilmuan mereka, termasuk dalam penyusunan skripsi.

Inovasi AI untuk Kesehatan

Selain itu. YARSI juga menunjukkan komitmennya dalam pengembangan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI) di bidang kesehatan. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah sistem AI untuk membantu dokter di ruang ICU dalam menangani pasien sepsis.

“Dalam kondisi sepsis, pasien membutuhkan penanganan cepat dalam waktu kurang dari tiga jam. AI mampu mengolah berbagai data medis dan memberikan rekomendasi terapi antibiotik terbaik kepada dokter,” kata Fasli.

Lebih lanjut, inovasi lain berupa teknologi untuk mendeteksi kelainan genital pada bayi, seperti hipospadia, juga tengah dikembangkan. Teknologi ini memungkinkan tenaga kesehatan di daerah berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi secara digital.

Menghadapi era disrupsi, lulusan YARSI didorong menjadi pembelajar sepanjang hayat yang adaptif, kritis, kreatif, dan solutif. Fasli menyebutkan bahwa sekitar 40 persen pekerjaan berpotensi hilang, sementara banyak pekerjaan baru belum terdefinisi.

“Yang akan bertahan bukan yang paling kuat, tetapi yang paling adaptif,” ujarnya.

Untuk mendukung akses pendidikan, Wakil Rektor 1 Universitas YARSI, Wening Sari mengatakan pihaknya juga menyediakan berbagai program beasiswa seperti KIP Kuliah, dukungan dari Baznas, serta bantuan dari perbankan syariah kepada mahasiswa berprestasi.

“Yayasan bahkan memberikan subsidi tambahan untuk menutup kekurangan biaya pendidikan,” tukasnya.

Yusril: Integritas dan Etika Jadi Kunci Masa Depan

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra dalam orasinya mengapresiasi YARSI sebagai salah satu pelopor fakultas kedokteran swasta yang unggul di Indonesia.

“Universitas YARSI sudah berkembang begitu pesat dan maju. Kita berharap nanti akan muncul menjadi perguruan tinggi terkemuka di Jakarta, terutama fakultas kedokterannya,” kata Yusril.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan lulusan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga kontribusinya di masyarakat.

“Sukses atau tidaknya bukan karena dia lulus dengan cumlaude, tetapi sejauh mana dia bisa bergerak di masyarakat dan memberikan kontribusi,” ujarnya.

Yusril juga menekankan pentingnya keseimbangan antara dimensi ilmu, etika, dan kebangsaan.

“Ada dimensi epistemik, dimensi etika, dan dimensi kebangsaan. Jika salah satu diabaikan, maka transformasi hanya akan menjadi perubahan yang superfisial,” tegasnya.

Ia pun menyampaikan lima pesan penting bagi para lulusan, yakni terus belajar, menjaga integritas, menggunakan teknologi secara bijak, memiliki kepedulian sosial, serta tidak memisahkan profesionalisme dari etika.

“Masa depan bukan hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, melainkan oleh mutu manusia yang menggunakannya,” pungkasnya.

Sumber:

Lihat