Beri manfaat bagi masyarakat dapat dilakukan dalam berbagai cara. Mahasiswa Universitas Yarsi melakukannya lewat memenangkan kompetisi. Muhammad Rizal Anditama Nugraha (Rizal) dan Aidan Pitra Habibie(Aidan) dua mahasiswa program studi Teknologi Informatika (Prodi TI) Universitas Yarsi. Mereka baru saja menorehkan prestasi gemilang meraih Juara 3 (3rd Place) pada kategori Health Track di ajang kompetisi internasional, Garuda Hacks 7.0, diselenggarakan pada 16-18 Juli 2026 di Tanggerang.
Dua mahasiswa Yarsi menampilkan mengembangkan SuaraNafas, sebuah inovasi aplikasi skrining Tuberkulosis (TB) berbasis kecerdasan buatan (Multimodal AI).
“Suara Nafas bisa jadi sebuah alat bantu skrining awal yang mudah diakses masyarakat, hingga teknologi yang kami buat benar-benar bisa memberikan manfaat dan bantu masyarakat,” harap Aidan, Jumat lalu di Jakarta.
Aidan mengungkapkan, dalam kompetisi internasional ini persiapan tidak terlalu banyak.Awalnya melihat undangan Garuda Hacks 7.0 dari instagram. Lalu bersama Rizal beberapa hari sebelum pendaftaran ditutup langsung daftar melalui linknya.
Setelah mendaftar, kami belum sempat banyak berdiskusi mengenai rencana atau ide akan dibuat. Sampai akhirnya di hari pelaksanaan,mulailah membicarakan ide akan kami kerjakan.
Lebih lanjut, awalnya kami ingin membuat aplikasi berbasis desktop menggunakan AI mendeteksi kecelakaan kerja di tempat kerja. Namun, setelah dipertimbangkan, kami kesulitan menemukan dataset yang sesuai. Tanpa pikir panjang akhirnya kami memilih ide untuk mendeteksi TB melalui suara batuk dan kami berhasil menemukan dataset yang dapat kami gunakan melatih model AI.
Persiapan kami minim, masih melakukan research dan menentukan pendekatan teknis yang tepat Sementara peserta lain sudah mulai membuat desain di Figma atau melakukan coding. “Justru dari situ kami belajar bahwa dalam hackathon, kemampuan beradaptasi dan mengambil keputusan cepat juga sangat penting,” tutur Aidan
Ketika kelompok lain sudah mulai membuat desain, membagi tugas dengan rapi, dan mengerjakan project dengan sangat terstruktur, kami justru langsung masuk ke tahap coding. “Jujur, saat itu sempat minder dan freezing karena ini juga merupakan Hackathon pertama saya,” ujar Aidan.
Sependapat dengan Aidan, rekan Rizal menambahkan,untuk persiapan pitching, Karena format penjurian terbagi menjadi juri teknis dan non-teknis, kami menyiapkan demo langsung saja serta pitch deck yang memadukan kedalaman teknis dan dampak sosial.
Rizal bercerita, selama kompetisi ada saja masalah. Aidan sibuk urusan di kampus edit video dan saya dengan laporan akhir magang. Saat pengumpulan tugas pun saya lupa menambahkan metrik evaluasi untuk laporannya, sehingga banyak judges online yang bingung, sehingga kami membuat ulang model AI tersebut menggunakan dataset yang benar dan juga menambahkan metrik evaluasi di slide presentasi final pitching offlinenya.
Rizal menjelaskan, dalam kompetisi ini fokusnya pada Suara Napas (/batuk) karena banyak masyarakat Indonesia yang mengidap TB namun tidak pernah melakukan screening formal seperti dengan X-Ray maupun dengan metode lainnya. Alasannya karena TB jarang diberi perhatian khusus sebelum gejalanya sudah kronis.
Menurut Rizal pengklasifikasian TB berdasarkan suara batuk jadi menarik. Karena dengan metode ini, masyarakat dapat menganalisis mandiri TB mereka berdasarkan data diri, kondisi tubuh saat ini, dan suara batuknya. “Dengan ini, orang-orang bisa memiliki validasi untuk screening ke dokter atas gejala yang mereka miliki,” cakapnya.
Kedepannya kami berharap agar bisa mematangkan model AI ini. Atau bisa, kolaborasi riset dengan Rumah Sakit yang memiliki data terkait suara batuk TBC atau sample lendir batuk TBC.Selain itu semoga inovasi aplikasi skrining TB bisa bantu pasien TB
Aidan dan Rizal mengajak rekan mahasiswa jangan takut gagal, mencari lingkungan baru, dan mengeksplorasi hal-hal baru . “Lewat belajar teman-teman bisa berkembang menjadi pribadi yang diinginkan dan mampu memperluas zona nyaman,” tutup dua mahasiswa Yarsi.
Wakil Dekan I Fakultas Tekonologi Informasi, Herika Hayurani,S.Kom., M.Kom, (Ibu Herika) mengatakan, pencapaian diraih 2 mahasiswa FTI sangat luar biasa. Mengingat kompetisi Hackathon berskala internasional dan diikuti 568 peserta dari berbagai kampus terkemuka (termasuk UI, ITB, Harvard University, dan National University of Singapore).
Pada kategori kesehatan ini, tim Yarsi berhasil menyisihkan puluhan tim lainnya melalui proses penjurian (live pitching) yang sangat ketat oleh 49 juri teknis maupun non-teknis.
Rizal mahasiswa semester 6 sebagai ketua Tim dan AI Developer dan Aidan semester 4 sebagai Front-end Developer . Mereka mengembangkan SuaraNafas, sebuah inovasi aplikasi skrining Tuberkulosis (TB) berbasis kecerdasan buatan (Multimodal AI).
Lebih jauh Ibu Herika menambahkan, berlandaskan Acoustic Epidemiology, aplikasi ini mampu menganalisis profil suara batuk pengguna melalui mikrofon smartphone secara real-time untuk memberikan penilaian risiko TB secara cepat dan non-invasif.
Solusi ini sangat sejalan dengan fokus pengembangan teknologi e-health terkini, karena sistemnya telah dirancang untuk terintegrasi dengan Satu Sehat.
Selain itu, aplikasi ini juga dilengkapi fitur Explainable AI (chatbot LLM) yang mampu menerjemahkan hasil diagnosis klinis dan akustik AI ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat awam.
Ibu Herika berharap semoga prestasi ini semakin memacu semangat kolaborasi riset, inovasi kecerdasan buatan, dan pengembangan teknologi kesehatan (e-health) di lingkungan Universitas Yarsi (Usman).


