Jakarta – Bidang sains, teknologi, engineering (rekayasa), dan matematika (STEM) menjadi fokus dalam pendidikan global. Tak hanya menguatkan literasi sains, upaya mengenalkan STEM juga bertujuan untuk memperkuat SDM di bidang teknologi dan riset.
Di Indonesia, bidang STEM menjadi prioritas pada beasiswa LPDP 2026. SMA Unggul Garuda juga dirancang untuk mencetak talenta di bidang STEM. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 juga memprioritaskan STEM, yang dipandang sebagai bagian penting dalam membangun SDM dan mentransformasi ekonomi RI menuju 2045.
Ditanya soal mengenalkan STEM pada anak sejak dini, pasangan peraih Nobel Kimia Prof Morten Meldal dan pakar kepemimpinan Phaedria Marie St Hilaire PhD berbagi kiatnya.
Mainan dan Eksperimen Sains Sejak Batita
Mantan ilmuwan dan mantan Direktur Novo Nordisk, perusahaan kesehatan global asal Denmark ini menjelaskan, pada dasarnya tidak ada batasan usia mengenalkan STEM pada anak. Terlebih, orang tua saat ini juga memberikan akses tablet atau HP pada anaknya sejak sangat kecil.
Di rumah, contohnya, anak Phaedria dan Meldal diberikan mainan kimia sederhana saat masih batita.
“Bisa tanya anak anak kami, kami memberinya chemistry set saat ia berumur 3 tahun. Jadi pertama, di internet ada banyak alat, eksperimen yang bisa dilakukan dengan bahan-bahan yang mudah dijumpai, misalnya membuat ‘gunung api’, itu kami lakukan bersama anak,” ucap Duta Global untuk Global Girls Foundation/Plan International ini dalam rangkaian kuliah umum di Universitas Yarsi, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Ajak Jalan Bareng Ortu-Ortu dan Anak-Anak di Alam
Phaedria menyadari tidak semua orang tua berprofesi sebagai ilmuwan. Untuk itu, orang tua bisa membuat semacam komunitas kecil untuk jalan bareng di alam.
“Prof Meldal juga pernah bilang, dia banyak dapat inspirasi cuma dari pergi ke luar, melihat-lihat alam, dan bertanya-tanya dalam hati (tentang yang ia lihat dan rasakan),” tuturnya.
Tanya Anak Meski Tidak Tahu Jawabannya
Setelah atau saat berjalan-jalan di alam, orang tua bisa menanyai anak apa yang ia lihat dan ia perhatikan selama perjalanan. Phaedria mengatakan, orang tua tidak harus tahu jawabannya.
“Dengan bertanya pada anak saja, itu mengajarkan anak untuk bertanya, tumbuh rasa ingin tahunya akan banyak hal,” jelasnya.
Manfaatkan Internet, Bahkan TikTok
Banyak sumber pengetahuan tentang STEM dari internet menurutnya juga bisa digunakan untuk bonding dengan anak sekaligus mengenalkan bidang ini.
“Bahkan di TikTok sekalipun. Itu salah satu cara untuk mengenalkan anak sedini mungkin pada sains. Tiga tahun tidak terlalu dini, kok,” ujarnya tersenyum.
Dukungan Pemimpin
Peraih Nobel Kimia asal Denmark, Morten Meldal, menggarisbawahi bahwa orang tua juga sebelumnya perlu didukung oleh kemauan politik (political will) para pemimpin dan pembuat kebijakan, lewat tindakan dan alokasi sumber daya, serta menyediakan fasilitas. Dengan begitu, ia meyakini upaya pengarahan anak ke bidang STEM akan lebih terbantu.
“Jika tidak muncul dari atas (pembuat kebijakan), warga bisa saja menolak, ‘kenapa sains harus sepenting itu? Tapi, kalau pemerintah, institusi bersangkutan, merekomendasikan pendidikan STEM pada jenjang pendidikan tinggi, kita mungkin bisa meyakinkan orang tua soal sains,” ucapnya.
Mengapa Penting Mengenalkan Anak pada STEM?
Executive Director Plan Indonesia Dini Widiastuti mengatakan, lewat kuliah umum kedua pakar di kampus, diharapkan masyarakat bisa lebih mendorong pendidikan dan kepemimpinan bagi perempuan, khususnya pada bidang STEM.
Dini menjelaskan, upaya ini juga bukan soal mendorong bidang STEM saja, tetapi juga tentang membangun cara berpikir kritis, rasa ingin tahu, dan menekankan pentingnya sains pada anak.
“Kita perlu kolaboratif untuk mendorong STEM, tidak hanya di bidang pendidikan dan sektornya, tetapi juga dalam bagaimana kita memandang dunia dan masa depan manusia,” ucapnya.
“Dalam hal ini, kita juga bicara soal kesetaraan gender, tidak hanya bagi anak perempuan, atau perempuan, tetapi untuk semua,” imbuh Dini.
Rektor Universitas Yarsi, Prof dr Fasli Jalal PhD mengatakan, kehadiran peraih Nobel dan pakar kepemimpinan di kampusnya menjadi inspirasi dan pengingat adanya isu jumlah mahasiswa dan jumlah ilmuwan RI belum sebanyak yang di harapkan.
Sementara itu, riset menunjukkan perempuan yang bergelut di bidang STEM juga makin sedikit pada jenjang lebih tinggi seperti kepala pusat riset atau CEO.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya perang orang tua dalam mendukung pengenalan STEM sejak dini dari rumah dan alam sekitar.
“Hal ini yang bersama-sama kita pelajari sebagai bangsa, untuk me-nurture , sejak awal memperkenalkan. Tadi (disebutkan), sejak 3 tahun pun bisa. Apalagi nanti di SD, SMP, sama SMA, mereka dialirkan nanti ke bidang mereka,” ucapnya.
Ia tak menampik adanya orang tua dan guru yang melaporkan bahwa anak-anak merasa bosan dan sulit mempelajari STEM. Sementara itu, potensi kariernya bisa jadi juga belum mereka pahami dengan jelas.
Kendati demikian, ia mengatakan, banyak penemuan terbaik berakar dari STEM. Di samping itu, keterwakilan perempuan di sektor STEM juga memungkinkan kesetaraan gender di bidang ini terwujud.
“Kita harus me-nurture itu, didukung kebijakan, membuka beasiswa-beasiswa, memberikan contoh-contoh real, bahwa itu kariernya bisa ke mana-mana. Kalau ini kita lakukan, mudah-mudahan, apa yang terjadi, negara maju itu bisa kita tiru,” ucapnya.
Di kampusnya, ia menuturkan, para mahasiswa Kedokteran, Teknik, dan Biomedis juga didominasi perempuan. Begitu juga dengan dekan.
“Ini bagian kecil dari langkah-langkah besar yang harus kita lakukan,” ucapnya.
Sumber:
Lihat

