Saya terbang dari Oman ke Saudi Arabia. Di bandara Muscat – Oman ketemu pemuda Indonesia asal Kediri yang kerja di restoran di Bandara. Gaji pokoknya 8 juta sebulan, tempat tinggal dan makan di tanggung, jadi 8 juta praktis bersih ditambah kadang-kadang ada bonus katanya. Sebelum di Muscat maka dia bekerja di Bali. Ini contoh anak muda penyumbang devisa negara.
Bandara Muscat amat apik dan modern. Saya dan istri sempat beli es krim di bandara, harganya 1,7 Riyal Oman, sekitar Rp 75 ribu, kurang lebih sama dengan di Mall – Mall Jakarta.
Bandara juga praktis sepi, tidak banyak penumpang dan jelas tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa minggu yang lalu bandara ini penuh dengan penumpang yang akan keluar dari kawasan Teluk karena tetap terbuka sementara bandara di Uni Emirat Arab dan Qatar tertutup.
Tanggal 26 Maret 2026 saya mendarat di Jeddah Arab Saudi. Seperti kita ketahui bahwa 26 April ini Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al Amoudi, mengecam serangan Iran terhadap sejumlah negara kawasan di Timur Tengah. Dia menyebutkan serangan itu telah melanggar hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang digariskan oleh PBB.
Di rest area Jeddah saya sempat berfoto di truk hypermarket ini, yang tentu saja unik karena saya baru tahu bahwa rupanya “si Kabayan” ada di Jeddah, Riyadh dan Thaif. Entah apa hubungannya dengan “si Kabayan” di bumi Parahiangan.
—-
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
Dari Madinah yang suhu di akhir Maret ini masih dingin, 11 C di pagi hari.


