Istirahat Belajar Perlu, Jadi Dokter Tahun 2029 Wajib Terwujud, Insya Allah

Jadi dokter bukan sekadar cita-cita masa kecil. Keinginan itu tumbuh bersama perjalanan hidup, melekat semakin kuat saat mulai memahami ilmu.  Kedokteran ternyata bukan bicara tubuh manusia saja, penyakit, atau cara menyembuhkan seseorang.

Kedokteran adalah dunia luas, hidup, dan terus bergerak. Di dalamnya, seseorang dituntut  terus bertanya, mengamati, mencari tahu, serta memperbarui pemahaman seiring berkembangnya ilmu pengetahuan.

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, Maurisa Azmi Tantya Budiyono (Risa) menungkapkan perjalanan pendidikan dokter sedang ditekuni minggu lalu.

Risa menambahkan, di balik pilihan menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK) terdapat satu dorongan dari dirinya , rasa ingin tahu, tidak cukup hanya dengan menerima penjelasan di permukaan. Melainkan ingin memahami alasan di balik suatu hal, hubungan antara satu materi dengan materi lain, serta bagaimana sebuah teori dapat digunakan membaca kenyataan yang terjadi.

Dalam dunia kedokteran, disadari rasa ingin tahu bukan hanya sifat pribadi. “Melainkan salah satu bekal penting jadi calon dokter yang mampu berkembang,” tuturnya.

Lebih lanjut, selama kuliah ini menemukan beberapa mata kuliah terasa dekat dengan cara berpikir. Forensik, anatomi, histologi, dan histopatologi menjadi bidang yang menarik.

Forensik, misalnya, menuntut kemampuan analisis kuat. Dalam forensik, seorang perlu melihat fakta, menghubungkan bukti, dan memahami suatu kejadian dengan dasar ilmu kesehatan, fisika, serta kimia. Pelajaran ini menarik karena melatih berpikir yang runtut dan mendalam.

“Forensik bukan hanya mencari jawaban, tapi juga tentang memahami proses membawa seseorang pada jawaban tersebut,” terang Risa yang pasih bahasa Jepang

Ditambahkannya, perjalanan belajar tentu tidak selalu mudah. Tidak semua pelajaran dapat didekati dengan mengandalkan daya ingat. Fisiologi menjadi salah satu mata kuliah menantang bagi.

Dalam fisiologi, belajar menghafal saja tidak cukup, harus benar-benar paham bagaimana tubuh bekerja, suatu proses terjadi dan bagaimana satu sistem memengaruhi sistem lainnya. Tantangan ini membuat saya belajar memperdalam pemahaman, “Saya berusaha menghubungkan teori dengan kasus kesehatan agar materi dipelajari lebih hidup dan mudah dipahami,” kata Risa juga bisa bahasa Latin

Meski ada tantangan, Insya Allah  tahun 2029 jadi dokter. Caranya terus belajar ,sering mengulang materi, dan cari informasi dari sumber terpercaya.

Dokter bukan sesuatu dapat dicapai hanya dengan semangat sesaat. Tapi butuh konsistensi, kedisiplinan, kemampuan mengatur waktu, dan kemauan terus memperbaiki diri. Dukungan keluarga dan berdoa juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menggapai gelar dokter.”Jika saya sudah jadi dokter ingin berkualitas,” tekad mahasiswi kelahiran Kupang.

Teman-teman seperjuang dan para junior di fakultas kedokteran mari tetap semangat belajar dan terus memperbarui ilmu. Dunia kedokteran selalu bergerak, dan mahasiswa kedokteran perlu membiasakan diri harus ikuti perkembangan teknologi dan penegetahuan.”Jangan takut bertanya, jangan malu mencari tahu, dan jangan berhenti hanya karena merasa suatu materi sulit dipahami,” ajaknya.

Menurut Risa,kesulitan dalam belajar bukan tanda seseorang tidak mampu, tetapi bagian dari proses memahami ilmu yang luas dan kompleks. Selain itu dalam Islam lelahnya menuntut ilmu merupakan sesuatu bernilai ibadah. Dari pendidikan kedokteran akan diperoleh keahlian dan pemahaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Menjadi mahasiswa kedokteran sering kali membuat orang harus terus belajar tanpa henti. Namun, tubuh dan pikiran punya keterbatasan. Beristirahat atau jeda ketika diperlukan bukan berarti menyerah dan menjaga kesehatan juga merupakan pelajaran penting.

Saat jeda berbagai aktivitas seni saya lakukan, seperti musik, menggambar, menari, melukis, menulis, dan desain, lalu belajar juga bahasa Jepang, Inggris, Latin Yunani dan Romawi. “ Semua itu dilakukan tanpa mengganggu belajar,” ungkapnya

Seni salah satu cara untuk meluapkan emosi dan memahami diri sendiri. Meskipun sekilas seni terlihat berbeda dari kedokteran, saya merasa keduanya memiliki kesamaan dalam hal kepekaan.

Seni melatih seseorang untuk peka terhadap bentuk, warna, gerak, perasaan, dan makna. Sementara itu, kedokteran juga membutuhkan kepekaan, baik terhadap kondisi tubuh manusia maupun terhadap perasaan pasien. Dari seni, saya belajar bahwa setiap detail memiliki arti. Dalam kedokteran, saya juga belajar bahwa detail kecil dapat menjadi bagian penting dari pemahaman yang lebih besar.

Istirahat belajar kedokteran perlu dilakukan, Jadi dokter tahun 2029 wajib, insya Allah terwujud, aamiin (Mahasiswi Kedokteran, Maurisa Azmi Tantya Budiyono )