Naiknya dolar & dampak pada kesehatan

TJANDRA YOGA
9 Juni 2026 hari ini nilai tukar 1 Dolar Amerika Serikat (USD) sudah lebih dari Rp 18 ribu. Selain berbagai dampaknya pada kehidupan maka baik kita bahas tentang lima potensi dampaknya pada kesehatan.
Pertama adalah kemungkinan naiknya harga obat, utamanya karena sebagian besar bahan baku obat kita (bahkan ada yang menyebutnya sampai hampir 90%) masih di impor. Di media massa kita baca bahwa pemerintah mencoba mengendalikan potensi kenaikan harga obat ini dengan melakukan relaksasi pengadaan yang memberikan fleksibilitas bagi industri farmasi untuk mencari dan mengalihkan pasokan bahan baku obat ke negara lain yang menawarkan harga lebih terjangkau. Juga diberitakan ada kemungkinan penyesuaian kemasan dengan mengizinkan penyesuaian bentuk atau ukuran kemasan demi efisiensi biaya produksi yang dikonsumsi oleh rakyat kita. Dampak ke dua adalah harga reagen  dan bahan lain (“cartridge”, “test strip” dll) untuk berbagai test pemeriksaan diagnostik. Seperti juga bahan baku obat maka tidak sedikit reagen dan bahan-bahan ini yang masih di impor, yang tentunya akan terdampak dengan nilai Dolar Amerika yang sudah tinggi sekarang ini. Dampak ke tiga adalah terhadap harga alat-alat kesehatan yang besar dan canggih, yang juga masih banyak yang diimpor. Ini tentu punya potensi dampak bagi masyarakat yang memerlukan pemeriksaan alat canggih di Rumah Sakit kita.
Selain tiga dampak di atas maka dampak ke empat adalah kenaikan nilai dolar yang menimbulkan tekanan finansial pada kehidupan sehari-hari masyarakat, yang bukan tidak mungkin menjadi salah satu pemicu stress dan gangguan kesehatan mental. Dampak ke lima, di jangka lebih panjang maka kalau kenaikan dolar ini tidak dapat segera diperbaiki tentu akan berdampak pada daya beli masyarakat, termasuk daya beli untuk makanan bergizi dan juga pelayanan kesehatan.
Kita berharap agar situasi ekonomi ini dapat segera membaik, yang bukan hanya akan baik bagi situasi ekonomi tetapi juga akan baik bagi kesehatan bangsa
—-
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025