Perempuan di STEM masih Hadapi Tantangan, Universitas Yarsi Tekankan Peran Pendidikan Sejak Dini

JAKARTA, jakarta.suaramerdeka.com – Minimnya perempuan di posisi kepemimpinan bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) masih menjadi tantangan global, termasuk di Indonesia.

Rektor Universitas Yarsi, Prof. Fasli Jalal, menegaskan bahwa kehadiran ilmuwan kelas dunia, termasuk peraih Nobel Kimia, menjadi sumber inspirasi penting di tengah masih terbatasnya jumlah perempuan Indonesia yang menempati posisi puncak di bidang STEM.

“Jumlah mahasiswa dan saintis perempuan kita belum sebaik yang kita harapkan, terutama ketika sudah mencapai jenjang PhD, menjadi CEO, atau memimpin lembaga riset. Karena itu, inspirasi dari para ilmuwan dunia sangat berharga,” ujar Prof. Fasli usai kuliah umum bertajuk “STEMpowerment for All: Breaking Barriers, Building Futures” di Jakarta pada Jumat, 30 Januari 2026.

Pendidikan STEM Perlu Dimulai Sejak Usia Dini

Menurut Prof. Fasli, penguatan STEM harus dimulai sejak usia dini, bahkan dari lingkungan keluarga. Ia menekankan bahwa pendekatan pembelajaran tidak harus selalu rumit dan berbasis ruang kelas.

“Hal-hal sederhana sebenarnya penuh pesan STEM. Bermain Lego, misalnya, sangat mudah dikaitkan dengan konsep kimia tiga dimensi. Belajar dari alam juga penting, karena alam adalah guru terbaik,” tekannya.

Ia menilai pengenalan STEM dapat dilakukan sejak anak berusia tiga tahun dan dilanjutkan secara berjenjang di tingkat SD, SMP, hingga SMA, agar anak-anak dapat mengalir ke bidang yang sesuai dengan minat dan potensinya.

“Masih ada anggapan STEM itu sulit, membosankan, dan kariernya tidak jelas. Padahal, sebagian besar penemuan terbaik dunia berbasis STEM. Ini yang harus kita nurtur sejak awal,” tegasnya.

Universitas Yarsi Jadi Contoh Nyata Perempuan Unggul di STEM

Prof. Fasli juga menyoroti Universitas Yarsi sebagai contoh nyata keberhasilan menciptakan ekosistem yang mendukung perempuan di bidang STEM.

“Proporsi perempuan di STEM di Yarsi cukup tinggi. Di kedokteran, engineering, dan biomedical, perempuan justru dominan. Profesor perempuan juga banyak. Saat saya mulai menjabat rektor, dari enam dekan, lima di antaranya perempuan,” ungkapnya.

Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan di STEM bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang dapat diwujudkan.

Tantangan Struktural dan Kultural Masih Mengemuka

Sementara itu, Direktur Sistem Pembelajaran Transformatif Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek) Kemendiktisaintek, Prof. Ardi Findyartini, mengakui bahwa minimnya perempuan di posisi kepemimpinan STEM masih dipengaruhi tantangan struktural dan kultural.

“Bukan karena perempuan kurang pintar atau talenta, tetapi karena kesempatan yang belum setara dan bias kultural. Perempuan, terutama yang sudah berkeluarga, sering menghadapi peran ganda yang belum sepenuhnya dipahami sistem,” jelas Prof. Findyartini.

Ia mengatakan bahwa menjadi ibu tidak menghalangi perempuan untuk berkarier dan memimpin di bidang STEM.

We can actually do both, dengan dukungan dan pemahaman yang tepat. Karena itu, perjuangan mendorong perempuan menjadi pengambil keputusan di STEM harus dilakukan bersama,” katanya.

Prof. Findyartini juga menekankan pentingnya komunitas perempuan STEM sebagai ruang saling dukung dan berbagi pengalaman.

“Secara global, proporsi perempuan sebagai pemimpin riset atau pengambil keputusan di STEM masih sekitar 30 persen. Ini perlu terus ditingkatkan,” tekannya.

Ia optimistis dalam 10 tahun ke depan jumlah perempuan pemimpin di STEM akan terus bertambah, seiring tren global yang menunjukkan peningkatan jumlah perempuan penerima Nobel.

“Dari lebih dari 1.000 penerima Nobel sejak 1901, sekitar 24 di antaranya perempuan. Trennya terus meningkat. Ini memberi harapan besar,” pungkasnya.

Menurutnya, semakin terbukanya peluang bagi perempuan justru akan memperkuat kolaborasi lintas gender dan mendorong kemajuan sains serta teknologi nasional.

Sumber: