Upaya memperluas akses layanan kesehatan mental di Indonesia memasuki babak baru.
Fakultas Psikologi Universitas Yarsi bersama mitra Australia menggelar Kick Off Meeting dan Diskusi Panel Internasional Layanan Kesehatan Mental Digital Indonesia–Australia, Kamis (8/1), di Jakarta.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Fakultas Psikologi Universitas Yarsi dengan UNSW Sydney dan St. Vincent’s Hospital Sydney, serta didanai hibah internasional dari Australia Indonesia Institute (AII) di bawah Department of Foreign Affairs and Trade Australia (DFAT).
Fokus Adaptasi Layanan Digital untuk Indonesia
Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arruum Listiyandini menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan mengembangkan serta mengadaptasi model layanan kesehatan mental digital dari Australia agar sesuai dengan konteks sosial dan budaya Indonesia.
“Masih banyak hambatan dalam akses layanan kesehatan mental, mulai dari keterbatasan tenaga profesional di luar kota besar, biaya, jarak, hingga stigma yang tinggi. Layanan digital menjadi alternatif yang lebih inklusif, anonim, dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ratih, isu kesehatan mental semakin relevan di tengah tekanan sosial-ekonomi, bencana alam, serta meningkatnya kerentanan psikologis, khususnya pada kelompok usia muda.
Data global menunjukkan gangguan kesehatan mental menjadi salah satu penyumbang terbesar disabilitas yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas hidup.
Diskusi panel internasional menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Prof. Jill Newby dari UNSW Sydney, Alison Mahoney dari St. Vincent’s Hospital Sydney, serta Ratih Arruum Listiyandini dari Fakultas Psikologi Universitas Yarsi.
Ketiganya membahas praktik terbaik layanan kesehatan mental digital, tantangan implementasi lintas negara, serta peluang adaptasi teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan jiwa.
Salah satu isu krusial yang disoroti dalam kegiatan ini adalah tingginya stigma terhadap kesehatan mental.
Pandangan negatif yang masih melekat seperti anggapan bahwa mencari bantuan psikologis identik dengan kelemahan atau kurangnya spiritualitas kerap membuat individu enggan mencari pertolongan.
“Pendekatan digital memberikan ruang yang lebih privat dan aman, sehingga diharapkan mampu menurunkan hambatan stigma sekaligus memperluas jangkauan layanan,” jelasnya.
Selain stigma, ketimpangan distribusi tenaga kesehatan jiwa yang masih terpusat di Pulau Jawa juga menjadi alasan kuat pengembangan layanan berbasis digital sebagai solusi jangka panjang.
Kick off meeting ini menandai dimulainya rangkaian riset kolaboratif Indonesia–Australia yang akan berfokus pada pengembangan, uji adaptasi, hingga implementasi layanan kesehatan mental digital di Indonesia.
Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi model layanan alternatif yang efektif, terjangkau, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, sekaligus memperkuat kerja sama riset internasional di bidang kesehatan mental.


