Melanjutkan pendidikan doktor bukan untuk balik modal. Pendidikan kunci melanjutkan hidup dan lebih mengembangkan keilmuan agar bermanfaat bagi semua orang. Kemudian lewat pendidikan bisa penelitian berkelanjutan dan bekerjasama dengan para pakar untuk lebih memajukan keilmuan.
Penelitian doktor saya terkait kanker dan ilmu kanker sampai saat belum ada obatnya. sementara dalam Islam setiap penyakit ada obat nya.
Arroyan Wardhana menyatakan itu semua saat sidang doktor Sekolah Pascasarjana Program Studi Sains Biomedis Program Doktor Universitas Yarsi, Rabu,4 Maret 2026, di Universitas Yarsi.
Arroyan Wardhana dalam ujian sidangnya mengangkat tema, Deteksi Faktor Genetik dan Epigenetik sebagai prediksi Karsinoma Nasofaring menggunakan Swab Nasofaring . Karena penelitiannya sangat sulit dan membutuhkan waktu khusus,para penguji kagum dan menganugrahkan nilai tinggi 3,87 (Cumlaude) dan berhak menyandang gelar doktor
Dr.dr.Arroyan Wardhana, Sp.THT,MARS (Doktor Arroyan) menjelaskan penelitiannya terkait dengan karsinoma nasoparing yaitu kanker ganas di tenggorok. Keganasan terbanyak terjadi di bidang telinga hidung tenggorokan (THT).
Seseorang terdeteksi karsinoma nasoparing menghidap gejala telinga berdenging, mimisan, hidung tersumbat dan ada benjolan di leher.
Alasan penelitian ini karena selama ini banyak pasien karsinoma nasofaring berkonsultasi sudah stadium lanjut dan dilakukan biopsi nasofaring secara invasive . Jadi lewat riset ini coba melakukan metode non invasif seperti swab nasofaring bisa dipakai dokter THT. “ Supaya bisa deteksi lebih dini nyaman dan murah ,” terang Pemilik karya ilmiah Anosmia pada Pandemi,Saintekes 2022.
Jadi manfaat penelitian ini sebagai alat skrining non invasif berbasis biologi molekular pada populasi resiko tinggi yang dapat dipakai seluruh tenaga kesehatan terlatih. “ Sehingga bisa menekan mortalitas dan morbitas dan cost efektif,” ujar Doktor kelahiran Jakarta.

Ditambahkannya, penelitian ini juga punya manfaat bagi masyarakat umum , akan lahir kesadaran dari bahaya kanker tenggorok atau belakang hidung ini. Lalu bila ada benjolan di leher dan bila ada gejala seperti itu bisa secepatnya konsultasi ke dokter.
Selanjutnya penelitian di lakukan di Rumah Sakit Kanker Dharmais,di Rumah Sakit Umum Daerah Koja dan suatu pabrik . “Lama penelitian 3 bulan dari Oktober hingga Desember 2024,” Cakapnya
Tantangan terberat dalam riset ini karena sampelnya banyak butuh waktu lama dan sabar mengolah proses pengambilan sampel penelitian , setelah itu diproses di laboratorium.
Doktor Arroyan mengakui penelitian ini tentu belum sempurna dan masih memiliki berbagai keterbatasan. Meski telah berusaha maksimal dalam setiap tahapnya, siap menerima kritik dan saran membangun demi penyempurnaan dan pengembangan penelitian selanjutnya.
Kalau sudah begini, selamat kepada Doktor Arroyan semoga lebih sukses (usman)


