Depresi dan Kecemasan Meningkat, PSIDAMAI dan Australia Perluas Akses Layanan Mental Digital

 Inovasi layanan kesehatan mental digital kian menjadi sorotan seiring meningkatnya kasus depresi dan kecemasan, khususnya di kalangan generasi muda.

Melalui kolaborasi Indonesia–Australia, Fakultas Psikologi Universitas Yarsi bersama PSIDAMAI memperkuat pengembangan layanan kesehatan mental digital berbasis bukti ilmiah dan konteks budaya Indonesia.

Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Panel Internasional dan Lokakarya Perancangan Bersama bertajuk “Rethinking Digital Mental Health CareImplementing Web-based Service Models in Indonesia & Australia”. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dan peneliti kesehatan mental dari kedua negara.

Salah satu pembicara utama, Jill Newby, profesor psikologi klinis dari UNSW Sydney, menyoroti bahwa selama satu dekade terakhir, riset kesehatan mental digital banyak berfokus pada depresi dan kecemasan.

“Salah satu tantangan terbesar secara global adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental berbasis bukti,” ujarnya pada Kamis, 8 Januari 2026.

Intervensi digital, lanjut Prof. Jill, dapat menjadi pintu masuk yang penting. “Terutama bagi mereka yang terhambat oleh biaya, waktu, dan stigma,” tuturnya.

Layanan Digital Jawab Kesenjangan Akses

Dalam paparannya, Prof. Jill menjelaskan bahwa intervensi kesehatan mental digital melalui aplikasi, program berbasis web, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan telah terbukti efektif menurunkan gejala depresi dan kecemasan, dengan biaya lebih terjangkau dan efek samping yang minimal.

Ia juga menekankan bahwa di Australia, lebih dari sepertiga individu yang mencari bantuan belum menerima intervensi berbasis bukti.

Kondisi ini, menurutnya, bahkan lebih menantang di negara dengan sumber daya kesehatan mental terbatas seperti Indonesia.

“Digital mental health bukan pengganti layanan tatap muka, melainkan bagian dari sistem layanan kesehatan yang lebih luas dan saling melengkapi,” jelasnya.

PSIDAMAI Dorong Mindfulness Berbasis Digital

Sejalan dengan hal tersebut, PSIDAMAI inisiatif inovasi layanan kesehatan mental digital dari Fakultas Psikologi Universitas Yarsi mengembangkan intervensi berbasis mindfulness yang disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia.

Dipimpin oleh Wakil Dekan 3 Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arruum Listiyandini di mana PSIDAMAI telah menjalankan berbagai riset kolaboratif dengan mitra Indonesia dan Australia untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan mental bagi dewasa muda.

“Sejak 2024, PSIDAMAI memperoleh dukungan hibah internasional dari KONEKSI senilai Rp2,4 miliar untuk pengembangan dan evaluasi program mindfulness berbasis web,” ungkap Arruum.

Selain itu, dukungan riset juga diberikan oleh Australia-Indonesia Institute (AII) guna mengkaji kelayakan adaptasi model layanan digital dari Australia.

Adaptasi Layanan Australia untuk Indonesia

Dalam forum ini, PSIDAMAI memperkenalkan proses adaptasi platform layanan kesehatan mental digital berbasis web dari Australia, This Way Up, ke dalam konteks Indonesia.

Adaptasi dilakukan tidak hanya pada aspek bahasa, tetapi juga nilai budaya, kebiasaan masyarakat, serta sistem layanan kesehatan nasional.

Kegiatan ini terdiri dari sesi diskusi panel terbuka dan co-design workshop berbasis focus group discussion (FGD) yang melibatkan calon pengguna, praktisi kesehatan mental, akademisi, dan tokoh masyarakat.

Masukan dari para peserta akan menjadi dasar utama dalam penyempurnaan layanan kesehatan mental digital yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi riset Indonesia–Australia ini, Fakultas Psikologi Universitas Yarsi dan PSIDAMAI berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat sistem kesehatan mental nasional.

“Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah, teknologi digital, dan kolaborasi lintas negara, layanan kesehatan mental dapat menjangkau lebih banyak individu yang selama ini belum terlayani,” tutupnya.