Masalah mental menduduki peringkat kedua sebagai penyebab utama disabilitas di Indonesia.
“Institute for Health Metrics and Leadership pada 2021 menyatakan bahwa gangguan mental adalah penyebab utama kedua disabilitas di Indonesia dan juga termasuk dalam lima beban kesehatan teratas di kalangan orang dewasa,” kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi saat hadir secara daring dalam diskusi di Fakultas Psikologi Universitas YARSI, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Sayangnya, masalah kesehatan mental terus dianggap sebagai isu sensitif atau bahkan tabu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022 melaporkan bahwa 1 dari 8 orang di seluruh dunia mengalami masalah kesehatan mental.
Imran menambahkan, menurut laporan tahun 2013, kesehatan mental tetap menjadi tantangan yang terus berkembang. Sebanyak 2 persen orang dewasa mengalami masalah kesehatan mental dan 1,4 persen mengalami depresi.
Jumlah tertinggi di kalangan anak muda adalah usia 15 hingga 24 tahun, dan empat dari setiap 1.000 orang hidup dengan skizofrenia atau psikosis.
Tantangan kesehatan mental sangat kompleks karena berasal dari berbagai jenis faktor termasuk biologis, fisiologis, dan juga sosial. Selain itu, orang yang mengidap masalah kesehatan mental kerap tidak menerima layanan yang memadai karena akses yang terbatas. Ditambah stigma yang terus berlanjut di masyarakat.
Bencana Tingkatkan Tantangan Kesehatan Mental
Imran menambahkan, saat ini beberapa wilayah di Indonesia tengah dilanda bencana. Dan hal ini akan menyebabkan tantangan kesehatan mental berupa depresi, kecemasan, dan sebagainya.
“Menyadari kompleksitas tantangan ini, Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan mental, khususnya layanan kesehatan primer di masyarakat, sebagai prioritas.”
“Untuk layanan kesehatan primer, pusat unggulan kami akan menyediakan tidak hanya layanan kesehatan primer, tetapi juga layanan informatif, preventif, dan aktif,” ujarnya.
Dalam layanan kesehatan primer, pihaknya telah menstandarisasi skrining kesehatan mental yang terintegrasi ke dalam tiga pemeriksaan kesehatan di tingkat masyarakat dan sekolah. Ini termasuk pengembangan program pencegahan bunuh diri dan pendidikan bersama lintas sektor.
Tantangan Layanan Kesehatan Mental Indonesia
Salah satu masalah yang masih ditemui dalam program penanganan masalah mental adalah terbatasnya akses ke layanan kesehatan mental.
Ini termasuk ketersediaan sumber daya seperti distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata serta kurangnya ketersediaan layanan farmasi atau obat-obatan yang mudah diakses.
Imran juga melihat kecenderungan orang untuk konsultasi secara daring ketimbang pertemuan tatap muka dengan penyedia layanan kesehatan. Ini menunjukkan adanya perubahan yang perlu didukung oleh pengembangan layanan alternatif yang mudah diimplementasikan.
Dengan perkembangan teknologi saat ini, inovasi sebetulnya dapat dilakukan melalui solusi digital.
Pengembangan PSIDAMAI

Seiring dengan perkembangan teknologi digital, intervensi masalah mental kini dapat diakses melalui platform digital. Sehingga membuka peluang untuk menjangkau lebih banyak individu secara lebih luas, fleksibel, dan terjangkau.
Untuk mendukung layanan kesehatan mental di era digital, tim peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI mengembangkan PSIDAMAI. Ini adalah inovasi layanan kesehatan mental digital berbasis web yang mudah diakses oleh masyarakat, terutama yang belum terjangkau layanan konvensional.
“Karena kalau kita lihat, sebetulnya jangkauan layanan kesehatan mental yang ada sekarang itu ada banyak hambatan, terkait sama faktor pembiayaan, faktor transportasi, jarak, belum lagi tingginya stigma dalam isu kesehatan jiwa,” kata Ketua Tim Peneliti PSIDAMAI sekaligus dosen di Fakultas Psikologi Universitas YARSI, Ratih Arruum Listiyandini, Ph.D., Psikolog, dalam kesempatan yang sama.
“Maka kita perlu menemukan semacam model layanan kesehatan alternatif yang bisa membantu secara efektif dalam isu-isu masalah kesehatan mental,” tambahnya.
Selama beberapa tahun terakhir, tim PSIDAMAI bekerja sama dengan para peneliti mitra di Indonesia dan Australia melakukan pengembangan dan pengujian program kesehatan mental digital menggunakan pendekatan mindfulness, didasarkan pada bukti ilmiah, serta disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia.
Menurut Ratih, PSIDAMAI hadir untuk menjawab tantangan keterbatasan akses layanan kesehatan mental di Indonesia, khususnya bagi generasi muda dan masyarakat yang belum terjangkau layanan konvensional. Dengan memanfaatkan teknologi digital, PSIDAMAI menginisiasi dan mengembangkan program intervensi psikologis yang disampaikan melalui web dan teruji ilmiah. Web ini tengah dalam proses penyempurnaan dengan melibatkan pakar dan calon pengguna untuk memberi masukan sesuai kebutuhan di Indonesia.


