Dua persen dari orang dewasa di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.Selain itu, 1,4 persen mengalami depresi, sedangkan sebagian besar dari kalangan usia 15-24 tahun.
Kemudian empat di antara 1.000 orang mengalami skizofrenia.Seringkali para penderita masalah kesehatan jiwa tidak mendapatkan layanan yang dibutuhkan, karena keterbatasan akses, kurangnya tenaga profesional, serta stigma.
Awal November 2025 kita tahu beberapa daerah di Indonesia terdampak bencana. kondisi itu akan menyebabkan tantangan kesehatan jiwa, seperti depresi, kecemasan, dan lain-lain. Mengatasi tantangan-tantangan seperti itu,layanan konsultasi berbasis web akan banyak penggunaannya dibandingkan konsultasi tatap muka.
Konsultasi berbasis web wujud solusi jangka panjang . “Selain itu jadi inovasi dalam alternatif layanan dan ini diperlukan sesuai transformasi Kesehatan,” ujar Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan dr.Imran Pambudi,M.P.H.M (dokter Imran) saat Kick Off Meeting dan Diskusi Panel Internasional Layanan Kesehatan Mental Digital Indonesia–Australia, secara hybrid, Kamis (8/1), di Jakarta.
Selajutnya, perluasan layanan kesehatan mental berbasis web dapat menjadi solusi dari sejumlah tantangan dalam penyediaan layanan kesehatan. Seperti keterbatasan jangkauan dan marak stigma kasus itu. Disini perlu inovasi guna mengembangkan jenis layanan tersebut.
Tantangan kesehatan mental sangat kompleks,penyebabnya beragam. Biologis, psikologis, dan sosial, Karena itu, upaya Universitas Yarsi menjalin kerja sama dengan platform This Way Up dari Australia ,Kementeriam Kesehatan (Kemenkes) akan mendukung dan perlu.
Menurut dokter Imran diskusi ini berguna mengadopsi pengetahuan agar pengembangan itu dapat tercapai dan layanan kesehatan di Indonesia menjadi lebih inklusif perlu didukung.

Sementara Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arruum Listiyandini ,Ph.D,Psikolog (doktor Arruum) menerangkan Kick Off Meeting dan Diskusi Panel Internasional Layanan Kesehatan Mental Digital Indonesia–Australia merupakan kolaborasi Fakultas Psikologi Universitas Yarsi dengan UNSW Sydney dan St. Vincent’s Hospital Sydney. Perhelatan ini didanai hibah internasional dari Australia Indonesia Institute (AII) di bawah Department of Foreign Affairs and Trade Australia (DFAT).
Kolaborasi ini bertujuan mengembangkan serta mengadaptasi model layanan kesehatan mental digital dari Australia agar sesuai dengan konteks sosial dan budaya Indonesia.
Doktor Arruum mengakui kini masih banyak hambatan dalam akses layanan kesehatan mental, mulai dari keterbatasan tenaga profesional di luar kota besar, biaya, jarak, hingga stigma yang tinggi. Layanan digital menjadi alternatif yang lebih inklusif, anonim, dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya.
Menurut Doktor berhijab, isu kesehatan mental semakin relevan di tengah tekanan sosial-ekonomi, bencana alam, serta meningkatnya kerentanan psikologis, khususnya pada kelompok usia muda.
Data global menunjukkan gangguan kesehatan mental menjadi salah satu penyumbang terbesar disabilitas berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas hidup.
Diskusi panel internasional di Universitas Yarsi menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Prof. Jill Newby dari UNSW Sydney, Alison Mahoney dari St. Vincent’s Hospital Sydney, serta Ratih Arruum Listiyandini dari Fakultas Psikologi Universitas Yarsi.
Ketiganya mengulas praktik terbaik layanan kesehatan mental digital, tantangan implementasi lintas negara, serta peluang adaptasi teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan jiwa.
Salah satu isu krusial disoroti dalam kegiatan ini adalah tingginya stigma terhadap kesehatan mental.
Pandangan negatif yang masih melekat seperti anggapan bahwa mencari bantuan psikologis identik dengan kelemahan atau kurangnya spiritualitas kerap membuat individu enggan mencari pertolongan.
“Pendekatan digital memberikan ruang lebih privat dan aman, sehingga diharapkan mampu menurunkan hambatan stigma, sekaligus memperluas jangkauan layanan,” tutur Alumnus Doktor University of New South Wales,Australia
Selain stigma, ketimpangan distribusi tenaga kesehatan jiwa masih terpusat di Pulau Jawa juga menjadi alasan kuat pengembangan layanan berbasis digital sebagai solusi jangka panjang.
Kick off meeting ini menandai dimulainya rangkaian riset kolaboratif Indonesia–Australia yang akan berfokus pada pengembangan, uji adaptasi, hingga implementasi layanan kesehatan mental digital di Indonesia.
Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi model layanan alternatif efektif, terjangkau, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, sekaligus memperkuat kerja sama riset internasional di bidang kesehatan mental.
Doktor Arruum mengakui pendekatan konsultasi berbasis web lebih cocok untuk diterapkan pada kelompok sudah punya literasi digital cukup baik, yaitu anak-anak muda.
Jika nanti kami mendapatkan support lebih banyak dari segi pendanaan, segi infrastruktur dan sebagainya, kami akan menilai juga seperti apa sebetulnya layanan kesehatan mental digital yang bisa digunakan pada populasi lain di luar dari anak-anak muda..
Selain itu Doktor Arruum berinisiatif menemukan model layanan kesehatan alternatif yang bisa menjangkau lebih banyak orang, mengingat isu kesehatan jiwa menjadi salah satu faktor penyebab disabilitas paling besar yang memengaruhi produktivitas seseorang.
Dalam diskusi ini Prof Jill juga menekankan intervensi digital dapat menjadi pintu masuk yang penting. “Terutama bagi mereka terhambat oleh biaya, waktu, dan stigma,” tuturnya.
Dalam paparannya, Prof. Jill menjelaskan bahwa intervensi kesehatan mental digital melalui aplikasi, program berbasis web, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan telah terbukti efektif menurunkan gejala depresi dan kecemasan, dengan biaya lebih terjangkau dan efek samping yang minimal.
Ia juga menyampaikan di Australia, lebih dari sepertiga individu yang mencari bantuan belum menerima intervensi berbasis bukti. Kondisi ini, bahkan lebih menantang di negara dengan sumber daya kesehatan mental terbatas seperti Indonesia.
Digital mental health bukan pengganti layanan tatap muka. “Melainkan bagian dari sistem layanan kesehatan lebih luas dan saling melengkapi,” tegasnya.(Usman)


