Pada 26 Januari 2026 beberapa hari yang lalu “Tobacco Control Watch – SouthEast Asia Tobacco Control Alliance – SEATCA” mengeluarkan publikasi berjudul “Status Of Tobacco Products In 2026 In ASEAN”.
Ada lima hal tentang Indonesia yang dicantumkan dalam publikasi ini.
Pertama, disebutkan bahwa perdagangan rokok di ASEAN masih didominasi dengan sigaret/rokok biasa, dan ini di picu dengan tingginya prevalensi merokok di negara kita Indonesia, bersama dengan Filipina dan Vietnam.
Ke dua, diestimasikan di tahun 2024 ada sekitar 700 milyard batang rokok dijual di kawasan ASEAN, dimana negara kita Indonesia memberi porsi terbesar yaitu 320 milyar batang, disusul dengan Filipina (90 milyar batang) dan Vietnam (80 milyar batang).
Ke tiga, di data 2024 itu maka penjualan rokok di kawasan ASEAN masih cukup tinggi, dan secara spesifik ditulis bahwa ini terjadi di negara dengan prevalensi merokok tinggi dan aturan pasar yang kurang kuat (“lesser-regulated markets”), seperti oleh laporan ini disebut terjadi di negara kita Indonesia dan juga Filipina.
Ke empat, pasar rokok elektronik di beberapa negara ASEAN yaitu negara kita Indonesia, Malaysia, Filipina dan Vietnam sudah mencapai 760 juta dolar Amerika pada 2024, dan diperkirakan akan terus meningkat kalau pemerintah tidak menerapkan aturan yang tegas.
Ke lima, SEATCA menyebutkan bahwa sudan ada tujuh negara ASEAN yang melarang dan ada aturan amat ketat tentang rokok elektrinik dan HTP (“Heated tobacco products”). SEATCA mengharapkan agar Indonesia, Indonesia, Malaysia dan Filipina mengikuti langkah negara ASEAN lain untuk melarang penjualan produk nikotin untuk rekreasi (“recreational nicotine products”) ini.
Karena kebiasaan merokok jelas berpengaruh buruk bagi kesehatan, maka tentu perlu ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga kesehatan anak bangsa kita agar terhindar dari bahaya buruk asap rokok bagi kesehatan, apalagi menyongsong Indonesia Emas di 2045 kelak.
——–
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
Penerima Penghargaan “WHO Tobacco Free World” tahun 1998


