Ariq Sulthoni tidak pernah membayangkan sebuah momen kepanikan di hadapan sang kakek terkena stroke akan menjadi titik balik hidupnya. Saat itu, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menyaksikan, tanpa daya, tanpa pengetahuan. “Saya sedih karena tidak bisa membantu ,” kenangnya.
Dari rasa tidak berdaya itulah, tekad untuk menjadi dokter tumbuh. Bukan sekadar cita-cita, melainkan sebuah janji kepada diri sendiri.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, Angkatan 2023, Ariq Sulthoni (Ariq) menyatakan seputar profesi dokter.
Ariq memilih kedokteran bukan sekadar ikut-ikutan. Ada dorongan tulus mengalir dalam dirinya, kepedulian terhadap sesama, dan keinginan nyata untuk berkontribusi pada kemajuan kesehatan manusia.
Selain itu bidang kedokteran punya tantangan menantang dan selalu berkembang. Bisa belajar memahami bagaimana tubuh manusia bekerja, bagaimana suatu penyakit dapat terjadi, serta ingin menjadi pribadi terus berkembang, disiplin.
Menurut Ariq jika sudah jadi dokter ingin berkualitas. Bukan hanya punya kemampuan akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan pasien, memberikan edukasi kesehatan dengan benar, serta tetap memiliki empati dan rasa tanggung jawab tinggi.
Setelah itu ada 3 rencana akan dilakukan, membangun income yang stabil dan cukup, membuka bisnis sampingan sebagai pengembangan di luar dunia medis dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan spesialis
“Saya tentu ingin jadi dokter berkualitas, memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tekad calon dokter lahir di Prabumulih.
Kini dokter sudah semakin baik memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama melalui media sosial dan platform digital. Contohnya seperti dr. Gia dan dr. Tirta mampu menyampaikan informasi kesehatan dengan cara lebih mudah dipahami dan dekat dengan Masyarakat.
Menjadi dokter tidak bisa tiba-tiba dan santai. Ada dinamika belajar mudah ,susah dan upaya. Forensik dan Medikolegal pelajaran mudah, karena menurut materinya lebih gampang dipahami, durasi bloknya relatif singkat, dan tidak terlalu banyak materi harus dipelajari.
Histologi Pelajaran yang susah karena banyak preparat dan struktur jaringan yang harus dibedakan serta dihafal secara detail. OSCE susah karena butuh kesiapan teori,
keterampilan praktik, komunikasi, serta ketenangan dalam waktu yang terbatas sehingga cukup membuat tegang saat ujian

Solusinya tidak menyerah, lebih sering latihan melihat preparat, memahami gambaran dasar tiap jaringan. “Lalu mengulang materi secara bertahap agar lebih mudah diingat dan jangan tegang saat ujian.,” cakap Ariq yang mahir gitar dan piano.
Masuk kuliah di kedokteran tentu butuh keseimbangan dan tak melulu seharian belajar. Ariq mengisi waktunya fotografi, bermain gitar dan piano. Tujuannya menyenangkan diri dan melatih kreativitas, konsentrasi, serta membantu meningkatkan kemampuan neuroplasticity otak.
Olahraga juga digemari dan tak ketinggalan menikmati dunia gaming, dari pertarungan taktis di Valorant hingga kisah sinematik The Last of Us dan Spider-Man dari Insomniac Games.” Semua itu dilakukan tidak membuat lupa waktu belajar,” tegasnya.
Para mujahid mahasiswa kedokteran termasuk junior tetaplah disiplin belajar, menjaga konsistensi, mampu beradaptasi dengan ritme perkuliahan kedokteran, serta terus meningkatkan kemampuan diri baik secara akademik maupun mental.
Meski belajar di kedokteran punya dinamika . insya Allah tahun 2029 jadi dokter. Karena hobi fotografi akan meneruskan pendidikan dokter spesialis radiologi. Alasannya adanya perpaduan unik antara teknologi, seni visual, dan diagnostik klinis. “Sebuah spesialisasi di mana sebuah gambar bisa menyelamatkan nyawa,”tutup Ariq ( Mahasiswa Kedokteran, Ariq Sulthoni)


