Dokter Internship kembali meninggal

Kemarin dan pagi ini berbagai media massa menurunkan berita tentang dunia kedokteran kembali berduka, seorang dokter Internship kembali meninggal dunia, kini Lampung. Sehubungan hal ini maka ada tiga hal yang ingin saya sampaikan.
Pertama,  kita kembali lagi amat sedih karena dengan meninggalnya teman sejawat dokter internship ini. Kalau berita ini benar maka sudah ada lima dokter internship kita yang meninggal antara Februari sampai Juli 2026, tentu dengan sebab yang berbeda-beda. Meninggalnya para dokter internship tentu tidak dapat hanya dinilai dari jumlah yang wafat. Ini perlu dipahami secara luas, mendalam dan secara manusiawi. Hal ke dua, pada Mei 2026 -sesudah meninggalnya dokter internship ke empat di tahun ini ketika itu- sudah disampaikan usulan agar ada evaluasi dan perbaikan menyeluruh program dokter internship. Kita tentu memang belum dapat mengambil kesimpulan penyebab kematian dokter internship di Lampung ini sebelum investigasi dan mungkin juga otopsi yang akan dilakukan. Tetapi, bagaimanapun memang rasanya sedih sekali mendengar kata “investigasi kematian dokter” secara berturut-turut harus dilakukan di berbagai daerah di negara kita, nampaknya perlu ada prioritas perhatian amat khusus tentang situasi menyedihkan ini.
Hal ke tiga, kalau memang benar bahwa dokter internship sakit maka tentu harus ada setidaknya dua langkah yang dilakukan. Langkah ke satu adalah harus mendapatkan pengobatan yang tepat, baik di Puskesmas / Rumah Sakit tempat kerjanya maupun juga bila diperlukan di rujuk ke rumah sakit lain yang fasilitasnya lebih memadai. Artinya, pada dokter yang sakit -dan pada semua pasien-perlu ditegakkan diagnosis yang tepat dan lalu mendapat pengobatan yang diperlukan sesuai diagnosis dan keadaan pasiennya.  Langkah ke dua, kalau keadaan sakitnya sesuai pertimbangan medis memang memerlukan istirahat maka tentu perlu diberikan istirahat yang patut.
Kita sangat sedih kini kembali terjadi wafatnya dokter internship, dokter yang masih muda, yang baru mulai menapak karier pengabdiannya bagi kesehatan anak bangsa.
————–
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Lulus dokter tahun 1980 dan Guru Besar Kedokteran sejak 2008