Lewat Ekonomi Sirkular Yarsi, Tempat Sampah Jadi Sumber Ekonomi

Fasilitas umum (fasum) seperti tanah kosong dikelola jadi lahan berguna itu sih biasa. Tapi fasum kondisinya tidak karuan, kemudian menjadi tempat pembuangan sampah liar tak terurus, lalu dikelola jadi ekosistem ekonomi berbasis lingkungan, itu baru luar biasa dan istimewa karena ada perjuangannya . Itulah Universitas Yarsi lakukan. Lewat Ekonomi Sirkular, lahan ganggu lingkungan bahkan berubah menjadi tempat sampah, kini jadi sumber ekonomi

Lahan terlantar 500 meter persegi terbengkalai berlokasi di Cluster Nusantara, Tangerang oleh Universitas Yarsi digunakan sebagai ruang produktif

Menurut  dosen Program Magister Sains Biomedis Program Pascasarjana Universitas Yarsi  Dr. Juniarti,S.Si..,M.Si (Doktor Juniarti) ruang produktif dibuat ekosistem ekonomi sirkular yaitu menggabungkan  pengelolaan lingkungan, pemberdayaan petugas kebersihan, dan pengembangan produk bernilai ekonomi.

Pengerjaannya ruang produktif ini dibuat rencana yang matang. Diawali pemanfaatan lahan, mulai dengan penataan menjadi taman,dilengkapi infrastruktur dasar dan tanaman herbal. Lahan terbatas dibuat jadi sebagai ruang hijau, tempat pembelajaran serta pemberdayaan masyarakat, dan ruang pengembangan ekonomi berbasis lingkungan,

Sedangkan salah satu aktifitas utamanya, mengolah sisa tanaman dari taman dan lingkungan Cluster Nusantara menjadi pupuk organik. Petugas kebersihan dilibatkan mulai dari pengumpulan bahan organik hingga proses pengolahan.

Pekerjaan selanjutnya potongan tanaman dihancurkan dengan mesin, lalu dimasukkan dalam tong 200 liter dilengkapi keran. Bahan tersebut dicampur larutan EM4 yang telah diencerkan bantuan air. Kemudian difermentasi selama sekitar 30 hari sehingga menghasilkan pupuk organik cair (POC) yang dapat dipanen melalui keran bagian bawah. Sedangkan material padatnya kemudian diolah lebih lanjut dengan tambahan sekam bakar, kotoran hewan yang telah difermentasi, serta dolomit untuk membantu menyeimbangkan pH

Kompos yang telah selesai diproses, kemudian dikemas untuk dipasarkan, sedangkan POC dimanfaatkan kembali untuk tanaman di taman.

“POC yang telah diencerkan sekitar 20 kali juga digunakan untuk perawatan tanaman,”ujar Doktor Juniarti juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi.

Lebih jauh  Doktor Juniarti mengatakan,bahan organik lain yang dimanfaatkan diambil dari kulit buah. Kulit buah difermentasi menjadi eco-enzyme menggunakan campuran kulit buah, molase, dan air dengan perbandingan 3:1:10.

Proses fermentasi berlangsung sekitar tiga bulan. Setelah dipanen dan disaring, eco-enzyme diolah menjadi produk turunan seperti sabun cuci tangan dan pembersih lantai.

Produk tersebut mulai diperkenalkan kepada masyarakat lewat Bazar Merdeka. Selain kompos, POC, dan produk eco-enzyme, tanaman obat serta tanaman hias dari taman juga dipasarkan.

Disini butuh pemasaran. Kedepannya, pemasaran produk akan dikembangkan melalui media sosial dan situs Pusat Penelitian Herbal Universitas Yarsi yang sedang dipersiapkan.

Lebih dalam, konsep ekonomi sirkular juga diperluas ke elemen lain di taman. Kolam ikan akan diisi ikan nila dan diintegrasikan dengan sistem hidroponik yang kini memasuki tahap pembibitan.

Sementara itu, sistem penyiraman taman dikembangkan menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) melalui kolaborasi dengan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Universitas Yarsi .

Akhirnya taman tersebut berkembang menjadi ruang terbuka, mempertemukan lingkungan, teknologi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kegiatan ekonomi dalam satu ekosistem,” ujar Juniarti

Menurut Juniarti, kegiatan ini jadi program pengabdian kepada masyarakat tersebut mendapat hibah Kemdiktisaintek serta dukungan dana dari Yayasan Yarsi. Program ini melanjutkan pemberdayaan lahan terbatas yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

Dengan kata lain, lahan tidak karuan termasuk tempat sampah bisa jadi produktif dan sumber ekonomi asal ada niat dan kemauan merubah(usman)