Prof Fasli, kematangan sang pemimpin

Saya pertama kali bertemu Pak Fasli Jalal di tahun 1990an di kantor Bappenas, Taman Suropati Jakarta. Ketika itu Pak Fasli adalah Kepala Biro di Bappenas yang menangani Kesehatan, kalau tidak salah nama resminya Biro Kesehatan dan Gizi serta pernah pula sebagai Biro Kesejahteraan Sosial, Kesehatan, dan Gizi, sementara saya masih sebagai Direksi di RS Persahabatan. Setelah itu saya beberapa kali bertemu beliau, saya juga ingat bahwa Pak Fasli rupanya pernah membaca tulisan-tulisan saya di beberapa koran ketika itu.

Saya terus mengikuti perkembangan karier Prof Fasli, termasuk ketika menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, pada saat itu saya juga sudah ditugaskan di Kementerian (dulu namanya masih Departemen) Kesehatan. Seperti diketahui bahwa Departemen/Kementerian secara rutin akan rapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI untuk membahas berbagai aspek program kerja. Ketika itu mitra Departemen Pendidikan adalah Komisi 10 DPR RI dan Mitra Departemen Kesehatan adalah Komisi 9, jadi ruang sidangnya praktis berdekatan.  Saya ingat di suatu sore di awal tahun 2000an sesudah mengikuti sidang DPR di Komisi 9  maka saya bertemu Pak Fasli yang rupanya baru selesai sidang dengan Komisi 10.  Waktu itu saya masih berproses untuk menjadi Guru Besar FKUI, dan sambil “bercanda” saya minta tolong Pak DirJen Dikti untuk proses pengurusan selanjutnya. Alhamdullillah pada 12 Juli 2008 saya dikukuhkan sebagai Guru Besar FKUI, tentu sesudah melalui berbagai proses termasuk di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dibawah pimpinan Prof Fasli Jalal.

Memang Prof Fasli punya karir amat panjang di lingkungan Departemen Pendidikan Republik Indonesia, mulai dari Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Sumber Daya Pendidikan, kemudian  Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, dilanjutkan sebagai  Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan kemudian sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Sesudah itu saya terus mengikuti perkembangan karier Prof Fasli yang terus cemerlang. Saya ingat juga bahwa majalah Tempo Edisi Khusus 19–25 Oktober 2009 memuat daftar 23 nama, termasuk Prof Fasli Jalal di bidang pendidikan, Makarim Wibisono di bidang luar negeri, Imam B. Prasodjo di bidang sosial dan juga saya sendiri di bidang kesehatan. Kita tahu bahwa selanjutnya, pada 6 Januari 2010, Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, menunjuk dan mengangkat Prof Fasli Jalal sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional di Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Pengalaman panjang Prof Fasli di lingkungan Departemen / Kementerian Pendidikan menunjukkan kematangan dan kemampuan mumpuni beliau dalam berbagai aspek dunia pendidikan. Ini ditambah lagi dengan riwayat pendidikan yang bernas serta sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Gizi pada Fakultas Kedokteran Universitas Andalas serta Guru Besar Kehormatan dari Fujian Normal University yang dianugerahkan pada tanggal 24 Februari 2023 ketika Prof Fasli sudah menjadi Rektor Universitas YARSI dan saya ikut menghadiri acaranya di ruang Ar Rahim kampus YARSI.

Sesudah tugas sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional di Kementerian Pendidikan Nasional maka Prof Fasli menjabat sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dalam kapasitas ini Prof Fasli memimpin kegiatan nasional di bidang urusan kependudukan, pengendalian penduduk, dan pembangunan keluarga yang berkualitas di Indonesia. pembangunan keluarga harus ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan nasional. Pengalaman di BKKBN semakin memperkuat perhatian Prof Fasli terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, serta pencegahan stunting. Kependudukan  dan kesehatan keluarga adalah sisi lain dari kepemimpinan Prof Fasli Jalal.

Prof Fasli tentu juga punya rekam jejak amat panjang dalam bidang kesehatan secara langsung. Bidang yang digeluti amat luas, mulai dari kesehatan masyarakat secara umum, gizi, air susu Ibu, kesehatan reproduksi dll., termasuk juga penyakit menular seperti tuberkulosis dan  HIV/AIDS. Beberapa kali Prof Fasli menyampaikan ke saya tentang pandangan beliau tentang tuberkulosis, apa yang baiknya kita lakukan, berdasar dari situasi dalam negeri dan pengalaman Prof Fasli mengamati program pengendalian tuberkulosis di negara lain. Kepemimpinan di bidang kesehatan ini juga ditunjukkan dengan kegiatan di  Pengurus Pusat lkatan Ahli Kesehatan Masyarakat lndonesia (IAKMl), Pengurus Pusat lkatan Ahli Kesehatan Masyarakat lndonesia (IAKMl) dan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Sesudah selesai pengabdian sebagai Kepala BKKBN maka Prof Fasli terus melanjutkan kiprah cemerlangnya di berbagai bidang. Saya sendiri juga pada 2015 mengakhiri masa tugas di Kementerian Kesehatan dan lalu sampai 2020 bertugas di WHO South East Asia Region (SEARO). Ketika menjelang selesai sebagai Direktur Penyakit Menular WHO SEARO dan sedang mempersiapkan diri kembali ke tanah air maka saya kebetulan membaca artikel tulisan Prof Fasli di harian Kompas. Saya ketika itu lalu menghubungi Prof Fasli yang sejak 2019 menjadi Rektor Universitas YARSI, dan setelah pembicaraan maka saya berbesar hati untuk ikut dapat bergabung di Universitas YARSI sejak akhir 2020, dan diterima oleh Prof Jurnalis Udin Ketua Yayasan YARSI . Walaupun sudah cukup lama mengenal Prof Fasli tetapi sejak di Universitas YARSI saya langsung mengalami kebijakan kepemimpinan beliau.

Saya ingat ketika baru bergabung di YARSI saya mendapat pesan untuk memproses berdirinya  program studi (Prodi)  doktoral dan juga program studi administrasi rumah sakit. Prof Fasli waktu itu menyebutkan bahwa sesudah 53 tahun berdiri sejak 1967 maka benar-benar sudah waktunya ada program pendidikan tingkat doktoral. Selain itu, disampaikan juga untuk saya memproses berdirinya program studi Magister Administrasi Rumah Sakit, di mana cukup banyak lulusan FK YARSI yang mengharapkan ada program studi ini di kampus. Gagasan pendirian Prodi Doktor Biomedis dan Prodi Magister Administrasi Rumah Sakit juga direstui dan sejalan dengan arahan Prof Jurnalis Udin, Ketua Yayasan YARSI.

Proses pendirian dua Prodi ini berjalan cukup panjang, dan sepenuhnya didukung oleh Prof Jurnalis Udin dan Prof Fasli Jalal. Ketika itu masih masa pandemi COVID-19, dan saya ingat bagaimana Prof Fasli memimpin rapat secara rutin secara on-line untuk proses pendiriannya, secara rinci, mulai dari penetapan dosennya, pengisian borang nya, proses pendaftaran dan juga ketika penilaian dari asesor untuk keputusan akhirnya. Alhamdulillah pada Maret 2022 Prodi S3 Biomedis mulai beroperasi, dan sejak itu sampai Agustus 2026 ini sudah ada 59 orang mahasiswa dan enam orang doktor lulusannya. Sementara itu,Prodi Magister Administrasi Rumah sakit mulai beroperasi pada Februari 2023, dan sejak itu sampai Agustus 2026 ini sudah ada 152 mahasiswa dan 74 lulusannya.

Dapat saya sampaikan bahwa pada Agustus 2026 ini maka pada Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI tercatat 293 orang mahasiswa, terdiri dari 66 Prodi MM, 39 Prodi S2 Biomedis, 99 Prodi MKn, 47 Prodi MARS dan 42 Prodi S3 Biomedis. Kalau kita lihat data sebelumnya maka pada tahun 2020-2021 jumlah penerimaan mahasiswa baru SPS ketika itu adalah 89 orang, dan meningkat menjadi 231 mahasiswa baru di tahun 2025. Sementara itu, jumlah lulusan SPS tahun 2020 adalah 17 orang, dan lulusan pada 2025 sebanyak 152 orang, jadi peningkatan hampir 10 kali lipat..Peningkatan jumlah mahasiswa di Sekolah Pascasarjana ini tentu tidak lepas dari arahan dan bimbingan Pak Rektor Prof Fasli Jalal.

Kepemimpinan Prof Fasli juga amat saya rasakan ketika Sekolah Pascasarjana harus menjalani delapan kegiatan akreditasi secara berurutan, apalagi saya memang belum pernah menjalani proses akreditasi dengan asesor di lingkungan perguruan tinggi. Saya hanya punya pengalaman di lingkungan Kementerian dan WHO saja, jadi ini memang benar-benar baru untuk saya dan saya sangat berbesar hati atas kepemimpinan Prof Fasli dalam keseluruhan proses akreditasi ini.

Sepanjang 2024 – 2025 yang lalu Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas YARSI menjalani delapan proses akreditasi secara berurutan, waktu hampir bersamaan dan diselenggarakan oleh tiga organisasi yang berbeda, di dalam dan luar negeri. Proses pertama dan kedua adalah akreditasi dari Program Studi (Prodi) Magister Manajemen dan Program Studi (Prodi) Magister Kenotariatan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Setelah menjalani berbagai prosesnya, pada 19 Agustus 2024 kedua Prodi ini, Magister Manajemen dan Magister Kenotariatan, Alhamdulillah mendapat status akreditasi Baik Sekali. Proses ketiga adalah akreditasi Prodi Doktor Biomedik, yang diselenggarakan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes). Prodi Doktor Biomedik baru berusia 2 tahun ketika akreditasi berjalan , dan memang belum ada lulusannya ­karena program studi doktor tentu makan waktu lebih dari 2 tahun pendidikan dan penelitiannya. Alhamdulillah Prodi Doktor Biomedik SPS YARSI pada 30 Desember 2024 Terakreditasi Baik Sekali. Selanjutnya, proses keempat adalah akreditasi Prodi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS), yang juga diselenggarakan oleh LAM-PTKes. Prodi MARS ini juga baru berjalan belum sampai 2 tahun dan belum ada lulusan ketika proses akreditasi berjalan. Alhamdulillah Prodi MARS pada 28 Februari 2025 terakreditasi Baik Sekali. Proses kelima adalah akreditasi Prodi Magister Biomedik, yang juga diselenggarakan oleh LAM-PTKes, yang merupakan akreditasi kedua karena Prodi ini memang sudah berjalan beberapa tahun. Alhamdulillah Prodi Magister Biomedik pada 21 Maret 2025 meraih akreditasi Unggul oleh LAM-PTKes, skala akreditasi yang tertinggi. Yang keenam adalah akreditasi untuk Prodi Magister Kenotariatan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), dan telah terakreditasi Baik Sekali. Akreditasi yang ketujuh dan delapan yang dijalani adalah akreditasi internasional, melalui FIBAA (“Foundation for International Business Administration Accreditation”) yang merupakan akreditasi internasional untuk program studi dan lembaga pendidikan tinggi di bidang bisnis, ekonomi, manajemen, hukum, dan ilmu-ilmu sosial. Dua Prodi SPS YARSI yang mengikuti akreditasi internasional ini adalah Magister Manajemen dan Magister Kenotariatan. Alhamdulillah pada April 2025 ini kami mendapat informasi bahwa kedua Prodi ini sudah meraih akreditasi internasional. Tentu saja selain membimbing secara cermat proses akreditasi program studi maka Prof Fasli memimpin secara langsung proses akreditasi Universitas, dan Alhamdulillah Universitas YARSI resmi meraih predikat Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada Oktober 2025.

Perlu di catat bahwa Prof Fasli sebagai Rektor merupakan pemimpin yang selalu siap memberi arahan kalau diperlukan. Saya sebagai bawahan dapat menghubungi Pak Rektor, baik menghadap langsung di kamar kerja Rektor maupun juga melalui telpon atau pesan whatsapp. Komunikasi yang baik dan amat bijak ini tentu merupakan salah satu sisi penting dalam kepemimpinan suatu organisasi, dalam hal ini di Universitas YARSI. Kita bersama juga melihat bagaimana Pak Rektor memotivasi sivitas akademika dari waktu ke waktu, sampai ke memberi perhatian-perhatian pada tulisan-tulisan yang ada whatsapp group (WAG) di lingkungan Universitas. Seperti disampaikan Prof Fasli pada pesan perpisahannya di WAG 1 Agustus 2026, “Di sinilah kita saling berbagi, berdialog dan berdebat dalam berbagai hal untuk memajukan Universitas YARSI yang kita cintai”. Dalam pesan di WAG itu Prof Fasli juga menunjukkan bagaimana pimpinan amat menghargai seluruh jajarannya, yang antara lain beliau tulis “Saya sangat banyak belajar dari teman-teman yang luar biasa dalam dedikasi dan konsistensi serta resiliensinya dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang kita hadapi bersama dalam upaya memajukan Universitas Yarsi. Tanpa kerja cerdas yang keras dan kerjasama yang luas dan ikhlas dari teman-teman tidak mungkin Universitas Yarsi bisa berkembang sampai seperti saat ini”.

Keputusan-keputusan dan kebijakan yang Prof Fasli buat sebagai Rektor juga terasa sekali sebagai hasil dari pengalaman panjang kematangan kepemimpinan beliau di berbagai bidang, karena itulah saya sebut tulisan ini  “Prof Fasli, kematangan sang pemimpin”.

Selama bertugas sebagai Rektor maka setidaknya saya mencatat beberapa aspek lain kepemimpinan Prof Fasli. Di tahun 2026 Prof Fasli diangkat sebagai Tim Penasehat Ahli Menteri Agama RI dan juga Ketua Bidang Kesehatan Majelis Ulama Indonesia di mana beberapa dosen SPS ikut diminta membantu beliau. Sebelum itu juga ada beragam kegiatan, antara lain di Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan,  Early Childhood Education and Development (ECED), Forum Rektor Indonesia, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dll., sampai ke sebagai  Presiden Minang Diaspora Network Global. Prof Fasli juga aktif sebagai Dewan Juri pada berbagai ajang nasional, seperti Indonesia MDGs Awards, Indonesia’s SDGs Action Awards, 17th SATU Indonesia Awards 2026, dan Penghargaan Achmad Bakri dimana saya bersyukur ditetapkan sebagai Penerima Penghargaan Achmad Bakri 2025 Bidang Kesehatan.

Pengabdian dan kinerja Prof Fasli sebagai Rektor Universitas YARSI memang kini telah berakhir. Tetapi saya yakin dan percaya bahwa apa yang beliau lakukan tercatat sebagai torehan emas perjalanan Universitas YARSI. Saya juga percaya bahwa banyak jajaran sivitas akademika yang termotivasi dan terinspirasi dengan apa yang Prof Fasli lakukan selama ini.

Atas nama keluarga besar Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI maka perkenankanlah saya menyampaikan rasa terimakasih dan apresiasi yang tinggi atas apa yang Prof Fasli baktikan bagi kami semua. Semoga Prof. Fasli Jalal dan keluarga senantiasa dalam berkah dan rahmat Allah SWT.

 

Agustus 2026

Tjandra Yoga Aditama