Dalam beberapa minggu terakhir diberitakan akan beberapa perubahan dalam program MBG. Diberitakan bahwa penerima manfaat bukan hanya akan terbatas pada anak sekolah tetapi akan meliputi Ibu Hamil, Ibu Menyusui dll. Selain itu, diberitakan juga bahwa program akan di perluas ke 3 T. Juga ada pembahasan bahwa yang akan memasak bukan hanya SPPG tetapi dipertimbangkan sarana lain, mungkin seperti dapur sekolah yang mampu dll. Kita berharapm agar rencana-rencana yang sudah dibicarakan ini memang akan diimplementasikan. Juga sudah diputuskan -dan nampaknya sudah dilaksanakan- bahwa tidak ada pemberian MBG di hari libur.
Pada 22 Juli 2026 Presiden Prabowo Subianto melantik Sudaryono sebagai kepala BGN yang baru. Tentu kita harapkan akan ada lagi perbaikan tatakelola program MBG. Di sisi lain, kita lihat juga kenyataan bahwa pada 23 Juli 2026 dilaporkan ada keracunan makanan di Garut, yang kini sedang ditangani.
Untuk perbaikan ke depan maka ada tiga hal lagi yang kita usulkan. Pertama adalah prinsip utama bahwa makanan harus aman. Untuk ini antara lain dapat dilihat dan dikaji publikasi WHO Juni 2026 “Unsafe food causes 866 million illness and 1.5 million death”. Masukan ke dua adalah pemahaman penuh tentang rantai penyediaan makanan, yang dikenal sebagai “from farm to plate”. Jadi yang harus dijaga mutu nya bukan hanya di SPPG dan di sekolah tetapi mulai dari pertanian / peternakan, transportasi dan penyimpanan di gudang yang terjamin mutunya, lalu tentu bagaimana proses masak di SPPG, transportasi dari SPPG ke sekolah, kebiasaan makan di sekolah sampai ke pembuangan limbahnya. Semua mata rantai harus terjaga baik.
Masukan ke tiga adalah agar sejak sekarang dilakukan dua jenis monitoring dan evaluasi. Kesatu adalah survei kepuasan pengguna, baik murid, orang tua, guru dll. Ke dua adalah melakukan studi kohort sampai beberapa tahun ke depan untuk melihat secara ilmiah dan valid tentang dampak kesehatan dari program MBG ini. Dengan pendekatan ilmiah ini maka akan terwujud “evidence-based public policy”, kebijakan publik berdasar bukti ilmiah.
——————-
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara


