JAKARTA, jakarta.suaramerdeka.com – Fakultas Psikologi Universitas Yarsi menekankan pentingnya layanan kesehatan mental digital yang mudah diakses, berbasis bukti ilmiah, dan berkelanjutan, terutama bagi mahasiswa dan dewasa muda yang rentan mengalami tekanan psikologis.
Melalui riset adaptasi layanan kesehatan mental digital, tim Yarsi kini mengembangkan program mindfulness daring berbasis web yang disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia.
Program ini menjadi bagian dari pengembangan intervensi digital mental health yang ditujukan untuk memperluas akses pertolongan psikologis sekaligus mengurangi hambatan stigma dan keterbatasan layanan tatap muka.
Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arruum Listiyandini, merangkum tiga pesan utama dari pengembangan layanan kesehatan mental digital.
“Pertama, kebutuhan layanan kesehatan mental yang terjangkau dan mudah diakses itu sangat penting,” ujarnya di Jakarta pada Kamis, 12 Februari 2026.
Kedua, lanjut Arruum, di era digital semakin banyak orang mencari pertolongan lewat internet dan platform digital.
“Ketiga, kebutuhan digital ini harus dikawinkan dengan program yang evidence-based dan bisa berkelanjutan,” tuturnya.
Akses Digital Jadi Jalur Utama Cari Pertolongan Mental
Arruum menilai perubahan perilaku masyarakat dalam mencari bantuan psikologis kini semakin mengarah ke kanal digital, mulai dari media sosial, pencarian internet, hingga chatbot.
“Karena itu, pengembangan layanan tidak cukup hanya cepat diakses, tetapi juga harus memiliki dasar ilmiah yang kuat,” tekannya.
Menurutnya, pengembangan platform mental health digital tidak bisa berdiri sendiri, melainkan perlu kolaborasi multipihak agar dapat diimplementasikan secara luas dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Dilfa Juniar, mengatakan bahwa kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya tenaga profesional.
“Kesehatan mental adalah tugas semua orang. Masyarakat umum juga bisa berkontribusi, misalnya dengan mengikuti pelatihan lay counselor atau menjadi kader pendamping,” kata Dilfa.
Yarsi Siapkan Program Mindfulness Online untuk Dewasa Muda
Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Raina Nurintishar, menjelaskan bahwa timnya telah mengembangkan program mindfulness daring berbasis web selama satu tahun terakhir yang dirancang khusus untuk dewasa muda, inklusif, dan relevan secara kultural.
“Dari hasil pilot, program ini cukup baik dalam menurunkan skor distress partisipan. Ke depan kami akan membuka rekrutmen masyarakat yang ingin mencoba program ini,” jelas Raina.
Program dirancang dapat diakses secara daring dengan keunggulan anonimitas, sehingga pengguna dapat mencari bantuan tanpa takut stigma sosial.
Rekrutmen peserta direncanakan dibuka dalam waktu dekat melalui kanal media sosial Sidamai dan jejaring komunitas.
Tim peneliti juga menyampaikan pesan khusus kepada mahasiswa Indonesia yang menjadi kelompok sasaran utama program usia 18 tahun ke atas.
Tekanan akademik, kecemasan karier, tuntutan keluarga, dan fenomena quarter life crisis dinilai semakin memengaruhi kesehatan mental mahasiswa.
Arruum menegaskan bahwa mahasiswa tidak perlu menghadapi tekanan sendirian. “Pertolongan itu ada di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita mau menjangkau dan meminta bantuan,” tegas Arruum.
Dilfa menambahkan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan tidak boleh dianggap tabu.
“Kalau punya masalah mental, itu bagian dari hidup. Terima kondisinya, cari bantuan, dan pastikan bantuan itu dapat dipercaya,” tambah Dilfa.
Sementara Raina mengingatkan agar generasi muda memanfaatkan teknologi digital secara bijak, bukan hanya sebagai sumber distraksi, tetapi juga sebagai sarana pemulihan dan pengembangan diri.
“Gadget tidak selalu merugikan. Teknologi juga bisa membantu kita pulih dan bertumbuh jika digunakan dengan tepat,” ucap Raina.
Pengembangan layanan kesehatan mental digital berbasis bukti ini diharapkan menjadi salah satu terobosan untuk memperluas akses dukungan psikologis bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda
Sumber:
Lihat

