Yarsi Dorong Integrasi Layanan Kesehatan Mental Digital, Adaptasi Sistem Australia

JAKARTA, jakarta.suaramerdeka.com – Fakultas Psikologi Universitas Yarsi mendorong percepatan adaptasi layanan kesehatan mental digital berbasis web dari Australia untuk diterapkan di Indonesia.

Model ini dinilai mampu menjadi solusi awal menghadapi keterbatasan akses psikolog dan psikiater, sekaligus menjawab kebutuhan pertolongan pertama bagi masyarakat dengan keluhan mental emosional.

Inisiatif tersebut dibahas dalam forum stakeholder dan diseminasi riset proyek adaptasi layanan kesehatan mental digital Australia.

Tim peneliti memaparkan bahwa platform yang diadaptasi berbentuk web based intervention yang telah terintegrasi dalam sistem layanan kesehatan mental nasional di Australia dan mendapat dukungan pemerintah federal.

Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Dilfa Juniar, menjelaskan bahwa di Australia, layanan kesehatan mental digital digunakan sebagai intervensi tahap awal sebelum pasien bertemu tenaga profesional secara langsung.

“Bentuknya web-based dan sudah disupport pemerintah Australia. Ini menjadi opsi pertolongan pertama ketika pasien masih dalam antrean panjang untuk bertemu psikolog atau psikiater,” jelas Dilfa di Jakarta pada Kamis, 12 Februari 2026.

Menurutnya, desain tantangan layanan di Australia tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terutama terkait antrean layanan dan keterbatasan tenaga profesional.

Terintegrasi Sistem Nasional dan Didukung Pendanaan Pemerintah

Model layanan digital di Australia berkembang melalui proses panjang riset, uji efektivitas, serta dukungan kebijakan.

Selain itu, sistemnya juga telah terhubung dengan skema jaminan kesehatan nasional setempat sehingga biaya akses pengguna bisa langsung diklaim melalui asuransi kesehatan.

“Pendanaannya disubsidi pemerintah federal. Pembayaran layanan juga sudah terintegrasi dengan sistem jaminan kesehatan mereka, jadi bisa langsung masuk skema pembiayaan nasional,” ujarnya.

Platform rujukan yang menjadi bahan benchmarking adalah layanan digital mental health Australia seperti This Way Up, yang menyediakan berbagai modul berbasis bukti untuk depresi, kecemasan, insomnia, hingga manajemen stres.

Indonesia Tidak Bisa Instan, Pilot Project Jadi Langkah Awal

Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arruum Listiyandini, menekankan bahwa penerapan layanan kesehatan mental digital di Indonesia tidak bisa dilakukan secara instan meski kebutuhan sangat mendesak.

Arruum mengatakan bahwa pengembangan di Australia memerlukan waktu lebih dari satu dekade hingga diterima luas dan terintegrasi nasional.

“Kalau bicara shortcut dengan hasil sama seperti pengembangan 15–20 tahun, rasanya sulit. Kita harus realistis. Karena itu kami mulai dari langkah kecil yang paling visible dulu, melalui pilot project,” kata Arruum.

Salah satu opsi yang sedang dijajaki adalah integrasi dengan platform atau penyedia layanan digital yang sudah ada, dengan tetap memperhatikan kesiapan sistem dan tata kelola.

Arah Integrasi ke Sistem Kesehatan dan Kampus

Tim peneliti membuka peluang integrasi jangka panjang dengan sistem layanan kesehatan Indonesia, termasuk kemungkinan kolaborasi dengan BPJS Kesehatan. Namun tahap saat ini masih fokus pada penguatan bukti riset dan penyusunan rekomendasi kebijakan.

“Kami akan merapikan hasil penelitian dan menyiapkan policy brief. Setelah itu baru hearing dengan dinas kesehatan dan kementerian terkait sebelum bicara skema pendanaan seperti BPJS,” ungkapnya.

Program yang sedang dikembangkan saat ini menyasar usia 18 tahun ke atas, sehingga penjajakan awal diarahkan ke lingkungan pendidikan tinggi dan mahasiswa melalui kementerian pendidikan tinggi.

Tim Yarsi menegaskan bahwa riset telah menghasilkan prototype modul intervensi digital, namun platform website belum diluncurkan secara resmi. Modul akan diuji efektivitasnya sebelum implementasi lebih luas.

Salah satu modul yang telah diadaptasi adalah Introduction to Mindfulness, sebagai intervensi dasar pengelolaan stres dan emosi.

Di Australia, modul-modul dalam platform digital mental health mencakup berbagai kondisi, mulai dari depresi, gangguan kecemasan, hingga gangguan tidur, dan diberikan sesuai kebutuhan pasien melalui rekomendasi profesional.

Tim peneliti menekankan bahwa layanan kesehatan mental digital bukan pengganti terapi profesional, terutama untuk kasus berat seperti risiko bunuh diri dan self-harm.

“Layanan digital bisa digunakan di banyak tahapan. Paling optimal di tahap awal saat gejala ringan hingga sedang. Untuk kondisi berat tetap perlu tatap muka. Setelah membaik, modul digital bisa diresepkan untuk mencegah relapse,” jelas Dilfa.

Melalui pendekatan bertahap, berbasis bukti, dan kolaborasi multipihak, model layanan kesehatan mental digital diharapkan dapat berkembang menjadi sistem yang scalable, terintegrasi, dan relevan dengan kebutuhan Indonesia

Sumber:

Lihat